Ghost Of Death

Ghost Of Death
Kesenangan


__ADS_3

"Apa elu yakin bisa memancingnya dengan hal semacam itu?" tanya Raga ke Utari di panggilan telepon


Kini kedua pembunuh berantai Bulan Biru akan beraksi lagi, tentu saja mereka beraksi setelah mendapat perintah kusus dari kepala tim pasukan.


Kali ini yang mereka incar nyawanya adalah penjahat s.e.x Karis Paseha. Penyanyi dan Aktor terkenal yang sudah membunuh 4 perempuan belia dan 3 korban acak, serta melecehkan dan menyiksa banyak gadis di bawah umur untuk kepuasan jiwa lelakinya.


"Bukankah kita harus membuatnya serapi mungkin?!" desah Utari, dia kini tengah asik merias wajahnya di depan cermin riasnya.


"Jika kau gagal, langsung hubungi gue!" kata Raga.


"Siap kepala tim 4!" kata Utari.


Mereka pun segera memutus panggilan telepon itu. Raga segera memasukkan ponsel yang dia gunakan untuk menghubungi Utari kedalam tasnya karena ponsel yang berada di saku celananya tengah berdering nyaring.


Di layar menyala itu tertulis nama Aura, Raga pun tanpa banyak berfikir segera mengangkat panggilan dari pujaan hatinya itu.


"Iya Aura sayang" kata Raga manja.


"Gue lagi di kantor Pak Senki sekarang, elu sekarang di mana?" tanya Aura.


Raga tak menyangka ternyata Aura sudah mulai perhatian padanya. Biasanya gadis tomboy itu tak pernah mengabari apa pun pada Raga, tapi kali ini Aura menghubunginya untuk mengatakan dimana keberadaannya sekarang.


"Mau gue jemput kalau udah selesai?" tanya Raga.


"Elu nggak sibuk?!" Aura tampak hati-hati sekali menanyakan itu.


"Sibuk atau nggak sibuk, kalo elu nyuruh gue ke situ sekarang gue akan langsung ke situ!" ujar Raga.


"Elu ke sini ya, setengah jam lagi gue selesai kok." kata Aura.


"Ok gue kesitu!" kata Raga cepat.


Di ruangan kerjanya, Detektif Senki baru saja mendengar sebuah rekaman yang direkam oleh Aura. Rekaman yang berisi pembicaraan gadis tomboy itu dengan Imanuel saat di penjara.


"Mau bapak apain tuh rekaman?" tanya Aura pada Detektif Senki yang masih saja memutar percakapan itu di ponselnya.


"Mau dirilis di televisi!" kata Detektif Senki.


"Maksut Bapak?!" tanya Aura.


"Rekaman ini akan menjawab semua teka-teki yang ada sekarang.

__ADS_1


"Jika setelah rekamana ini dirilis ke public tak ada reaksi apa pun, maka benar adanya bahwa Imanuel adalah pembunuh berantai Bulan Biru.


"Tapi jika pembunuh berantai Bulan Biru masih hidup dengan bebas di luar sana. Apakah dia akan diam saja?


"Karakter Psychopath adalah tak mau di kalahkan. Dan pernyataan Imanuel di dalam rekaman ini!


"Pasti akan dia anggap sebagai tantangan oleh pembunuh berantai Bulan Biru! Dan akhirnya dia akan memunculkan dirinya!" jelas Detektif Senki.


"Apa Bapak yakin?" tanya Aura.


"Kita tidak punya banyak pilihan, hanya ini satu-satunya cara untuk meyakinkan diri kita sendiri!" kata Detektif Senki.


"Bapak masih tak percaya, jika Imanuel yang telah membunuh ayah saya?" tanya Aura.


Gadis itu sekarang menjadi bimbang kembali.


"Karena itu mari kita lakukan ini, dan puaskan rasa penasaran di hati kita. Bagaimana jika bukan Imanuel yang membunuh ayahmu?


"Saya tak mau kau merasa sakit lagi Aura, kematian Nawang Ratih dan ayahmu pasti sudah membuat lubang yang besar di dalam hatimu.


"Tapi bagaimana jika pembunuh yang telah membunuh mereka berdua masih berkeliaran dengan aman di luar sana?" Detektif Senki mencoba membujuk Aura.


"Salah satu setasiun televisi di Amerika pernah mencoba cara ini, dan mereka berhasil menangkap pembunuh berantai.


"Dokter Abraham juga bisa tertangkap karena acara semacam ini, kau masih ingat kan?" ternyata Detektif Senki sangat berambisi untuk mengulang sejarah kelamnya.


"Tapi Pak, saat itu bapak harus kehilangan ibu kandung Bapak!" Aura kembali mengingatkan kekelaman masa 3 tahun yang lalu itu.


Saat itu ambisi mereka yang sangat kuat membuat mereka lupa, bahwa yang mereka hadapi adalah pembunuh berantai yang cerdas dan pintar.


"Jika kau tak mau ikut berpartisipasi aku faham, kau pasti takut!" kata Detektif Senki.


"Saya akan ikut!" kata Aura.


Jika kemampuan yang dia punya itu bisa membantu orang lain dia juga tak akan keberatan. Dia faham penelusuran hantu seperti ini pasti sangat membosankan tapi dia harus mencari hantu-hantu korban pembunuh berantai Bulan Biru untuk memastikan.


Apakah semua yang berada di depannya ini adalah kebenaran atau hanya sebuah rekayasa seperti dugaan Detektif Senki.


.


.

__ADS_1


"Jadi Pak Senki dan kamu mau membuat acara seperti 3 tahun yang lalu?" tanya Raga.


Kedua anak manusia yang kini sudah bersetatus menjadi sepasang kekasih itu tengah makan malam di sebuah rumah makan tenda pinggir jalan.


"Gue hanya takut jika kejadian yang menimpa ibu kandung Pak Senki terulang kembali. Itu sangat mengerikan!" kata Aura.


"Elu bener banget!" kata Raga.


Raga yang pada saat itu sebagai juru kamera untuk ayahnya pun mulai mengingat bagaimana kejadian itu secara detail.


Memang tak ada rasa bersalah yang terlintas di benak Raga, membunuh adalah hal yang menyenangkan baginya. Apa lagi saat membunuh dia bisa melihat wajah menyedihkan keluarga korban yang memohon agar nyawa korbannya diampuni.


Entah kenapa saat mengingat hal itu Raga merasa dia seperti Tuhan, dan dia ingin mengulangi kejadian itu kembali.


"Bagaimana jika pembunuh berantai itu benar-benar muncul?" tanya Raga, dia kembali memasang ekspresi wajah datarnya.


"Entahlah, gue takut banget! Gimana jika keluarga gue yang dibunuh secara live?!


"Gue pasti bisa gila!" gadis tomboy itu hanya memandangi makanan yang baru saja dihidangkan oleh pelayan warung tenda itu.


"Kalau elu nggak yakin, enggak usah ikut tampil!" nasehat Raga.


Raga tak ingin bermain dengan Aura, tapi dengan kepolisian.


"Tapi gue juga penasaran! Kematian mereka sangat tidak adil dan kejam, kenapa nggak ada satu pun arwah mereka yang bergentayangan?"


Aura memang sudah melakukan penelusuran dengan Detektif Senki sebelum hari ini, mereka pergi ke setiap lokasi yang berhubungan dengan para korban pembunuh berantai Bulan Biru. Dan yang mengejutkan Aura tak dapat melihat satu pun arwah korban-korban pembunuhan itu.


Raga yang tau apa saja kegiatan Aura selama sebulan ini pun hanya merasa bahagia di hatinya. Usahanya telah berhasil, dia sudah tau bagaimana agar para arwah korban yang dia bunuh tak bergentayangan.


Ternyata bergaul dengan Mbah Sodik bukanlah hal yang sia-sia. Mbah Sodik yang dulunya bermaksut untuk menerima Raga sebagai menantunya pun mewariskan beberapa ilmu hitam yang dia punya pada Raga.


Niatnya untuk menjaga diri Raga dari gangguan mahluk halus, tapi Raga yang pintar telah menyalah gunakan hal itu untuk keamanan. Keamanan dari roh halus agar dia bisa membunuh orang dengan sesuka hatinya.


"Gue kurang faham sama hal begituan, tapi masalah elu mau tampil apa engga di acara TV itu!


"Keputusan ada di tangan elu Aura, gue akan selalu ada buat ngedukung apa pun yang elu lakuin!" kata Raga.


Pacar Aura itu sama sekali tak peduli dengan Aura yang mau tampil atau tidak di acara TV itu. Baginya kemampuan yang dimiliki Aura bukan sebuah halangan baginya untuk membunuh.


Kemampuan mu tak akan berpengaruh dalam hidup dan kesenanganku. Raga

__ADS_1


__ADS_2