
Dokter Abraham dan Ayah Leo masih saling menyerang di dalam vila, sementara Nawang Ratih mencoba keluar dari persembunyiannya, ternyata Nawang Ratih sudah berada di luar vila. Karena dia tau bahwa orang yang menyiksanya telah mengikutinya sampai ke sini.
Hujan mulai turun, suasana malam menjelang dini hari itu tampak sangat mencekam. Gadis sekarat itu tak tau apa yang akan menimpanya kini, dia seperti tak punya harapan lagi di dalam dirinya.
Tapi Nawang Ratih sempat mengambil ponsel Ayah Leo yang tergeletak begitu saja di kamarnya, awalnya dia ingin menghubungi siapa pun. Tapi tanpa sadar gadis itu sudah menyalakan perekam di ponsel Ayah Leo. Dan saat itu Imanuel datang dari dalam hutan.
Tubuh Nawang Ratih yang sekarat langsung gemetar hebat, meski perban sudah dililitkan di luka-luka yang menggangnya tapi rasa sakit itu sama sekali tak berkurang. Nawang Ratih mencoba membaca situasi apa yang sedang menimpanya kini.
"Jika kau ingin hidup, ikutlah denganku!" kata Imanuel.
"Kau siapa?" tanya Nawang Ratih.
Tapi belum sempat Imanuel menjawab lelaki bule itu sudah tersungkur karena pukulan yang dilayangkan seseorang kekepala Imanuel.
Sayup-sayup netra Nawang Ratih mencoba mengenali orang yang telah memukul lelaki bule yang baru saja muncul di hadapannya itu. Wajah pucatnya segera terpaku diam, Nawang Ratih tampak mengenal orang itu. Tapi tak ada senyuman sedikit pun yang dia pancarkan dari wajah ayunya.
Tubuhnya yang kesakitan semakin gemetar, ponsel yang dia curi pun terjatuh dari genggaman tangannya yang melemah. Manik matanya yang sudah kabur itu masih memandang tajam ke arah orang yang telah memukul bule itu.
"Kenapa kau takut padaku?" tanya suara maskulin itu.
Meski suara rintikan hujan semakin deras tapi telinga Nawang Ratih masih sanggup mengenali suara itu. Suara yang tak asing baginya, orang yang sangat femiliar, orang yang dia yakini adalah orang baik itu ternyata adalah orang yang paling jahat.
"Selama aku masih hidup, tak ada satu orang pun yang bisa melukai dia!" kata suara lelaki itu.
Langkah kaki bersepatu buts itu perlahan-lahan mendekat ke arah tubuh Nawang Ratih yang sekarat. Gadis muda itu baru menyadari apa kesalahan yang telah dia perbuat, sehingga dia harus menerima siksaan separah ini.
Tubuhnya yang sudah lemas itu tiba-tiba terduduk di tanah halaman samping vila keluarga Leo. Nawang Ratih mulai menangis, dia mulai memohon pada orang itu.
"Tolong lepaskan aku." kata Nawang Ratih lirih.
__ADS_1
"Aku tak bermaksut melukai Aura!" Nawang Ratih kembali memohon di sela tangisnya.
Pria bertudung itu ikut bersimpuh di tanah, dia ingin melihat wajah pucat Nawang Ratih sebelum dia membunuhnya.
"Kau tau, mahluk sepertiku tak suka memberikan kesempatan pada orang yang sudah melewati batas!" jelas pria itu.
"Aku janji, aku akan baik pada Aura mulai sekarang!" mohon Nawang Ratih lagi, dia memasang wajah memelasnya.
Tapi bukannya merasa kasihan, pria bertudung itu malah memukul wajah pucat Nawang Ratih dengan begitu keras. Hingga tubuh lemah yang sudah banyak luka itu tersungkur di tanah yang basah.
Nawang Ratih masih ingin bangkit tapi usahanya sia-sia saja, karena wajah manisnya sudah diinjak oleh kaki besar lelaki itu.
"Aku harus menyingkitkanmu Nawang Ratih, karena kau sudah berani menjadi penghalang bagi kami!" kata pemuda bertudung itu.
Dengan tenang pemuda itu memasukkan tubuh sekarat Nawang Ratih kedalam karung goni yang tebal. Bahkan pemuda itu masih sempat bersiul-siul saat menali ujung karung goni itu dengan seutas tali tambang yang panjang.
"Kau benar-benar suka menyiksa manusia!" kata Dokter Abraham yang baru saja keluar dari dalam vila.
"Ayah urus saja urusan ayah, gadis ini adalah urusanku sekarang!" kata pemuda bertudung itu.
"Kau benar, meski kita keluarga tapi selera kita dalam berburu juga bisa berbeda!" kata Dokter Abraham yang mendekati tubuh Imanuel yang tergeletak di tanah.
"Lakukan apa yang kau inginkan!"
Dengan langkah gontai pemuda bertudung itu menarik tubuh Nawang Ratih yang sudah berada di dalam karung goni menuju gudang tempat Nawang Ratih disiksa.
Dari dalam karung itu merembes cairan merah kental yang langsung hilang karena terpaan air hujan yang semakin deras.
Tak ada raut khawatir atau takut dari wajah si pemuda bertudung. Wajah tampan yang mempesona itu sama sekali tak mirip dengan Dokter Abraham yang tadi disebut ayah olehnya.
__ADS_1
Pemuda berwajah oriental yang imut itu malah tersenyum menyeringai saat pandangan matanya sudah bertemu pandang dengan seorang pemuda lain yang sudah menunggunya di gudang tempat Nawang Ratih disiksa.
Pemuda bertudung yang menarik tubuh Nawang Ratih yang berada di dalam karung goni itu adalah Ragata.
*La*lu kenapa dia bisa bebas dari hukuman atas pembunuhan Nawang Ratih.
"Tak kusangka kakak cepat juga?!" kata suara seorang gadis pada Raga.
"Kau sudah menyiapkan semua?" Raga sepertinya tak terlalu suka dengan kembaran perempuannya. Meski mereka kembar tapi wajah dan kepribadian mereka sangatlah berbeda.
Hanya ada satu kesamaan di diri kembaran itu, mereka berdua suka membunuh dan saling berkerja sama ketika membunuh. Setelah itu mereka akan hidup seperti orang yang tak pernah mengenal.
"Tentu saja sudah, dengan begini Aura tak akan bisa mencari tau apa pun!" kata gadis kembaran Raga itu.
Kedua saudara itu membawa tubuh Nawang Ratih yang masih terbuntal karung goni kedalam gudang. Mereka berkerja sama untuk menali tubuh Nawang Ratih yang sudah lemas ke salah satu tiang di bangunan itu.
"Ini adalah hukuman yang kau dapat karena mengusik milikku!" kata Raga.
"Kakak benar-benar sudah terobsesi pada Aura?" tanya gadis kembaran Raga. Perlahan-lahan gadis itu melepas cadar yang menutupi sebagian wajahnya.
"Aku ingin mempunyai anak yang sempurna, seorang putra yang tak mempunyai kelemahan apa pun. Dan hanya Aura yang bisa memberiku anak sehebat itu!" kata Raga, dengan senyum menyeringai yang menakutkan.
Kembaran Raga pun juga tersenyum penuh kesenangan saat kakaknya mengataka itu. "Aku pasti akan membantu kakak!" kata suara feminim itu, dan gadis kembaran Raga itu adalah Utari sahabat Aura.
"Jika predator seperti kita juga dapat melihat roh, maka akan lebih mudah bagi kita untuk membunuh bukan?" Utari, segera memberikan wadah pada Raga.
"Kau benar, ayah hampir tertangkap karena roh. Tapi kita tak akan melakukan kesalahan bodoh seperti itu!" kata Raga.
Raga menuangkan cairan dalam wadah itu ke tubuh Nawang Ratih yang sudah lemas karena kehabisan darah.
__ADS_1
"Mulai hari ini, tak ada yang bisa mencegahku mendapatkan Aura lagi!" kata Raga dengan penuh rasa bahagia.
Api dinyalakan oleh Raga, dia membakar tubuh Nawang Ratih yang masih hidup bersama TKP penyiksaan.