
Tanpa disadari oleh Aura, kelasnya telah berakhir. Tapi dia masih diam tak bergerak dari kursinya. Tubuh kurusnya bersandar di sandaran kursinya, kedua manik matanya masih menatap kosong ke luar jendela.
"Ra! Kenapa,lu?!" bentak Utari, gadis sunda itu telah mengelayutkan tubuhnya di meja Aura, dan bokongnya masih menempel di kursinya.
"Nggak ada!" kata Aura, dia setengah kaget karena teriakan Utari.
"Elu masih belum memutuskan mau membuat apa untuk pameran nanti?" tanya Utari.
"Belum." kata Aura lemah, pupilnya kembali melirik ke arah luar jendela. Dia menagkap sebuah bayangan transparan yang dia kenal.
"Akhirnya dia muncul juga!" pekik Aura dengan senyum yang manis telah menghiasi wajahnya.
"Siapa?" tanya Utari.
"Gue pergi dulu!" pamit Aura, gadis tomboy itu meninggalkan Utari yang terlihat cemberut.
Tubuh tegap berbalut kemeja putih yang lusuh tengah terduduk di lantai salah satu lorong rak buku di perpustakaan. Dia menengadahkan wajah tampannya, raut putus asa terpancar jelas dari ekspresi wajah Si Hantu Leo.
"Kau siapa?" tanya sebuah suara manis yang feminim.
Mata sembab terasparannya menatap lekat-lekat wajah Hantu Monika yang tengah berdiri melayang tak jauh dari tempat terduduk Si Hantu Leo.
"Apa kau hantu baru di sini?" tanya Monika.
Hantu Leo hanya menunduk pelan, dia masih melihat Monika yang mengenakan gaun putih bersih dengan rambut hitam bergelombang yang indah.
"Bukankah aku sangat cantik?" tanya Monika kepada Leo.
"Iya, kau sangat cantik!" gumam Leo.
"Om!!! Dari mana aja!" teriak Aura dia tak sadar kalau dia kini berada di dalam perpustakaan.
"Kau kenal dia, Aura?" tanya Hantu Monika.
__ADS_1
"Dia keluarga gue!"
"Ohhhh, dia sangat tampan." sikap sok kecentilan Monika mulai keluar, dia terlihat malu-malu saat menatap Hantu Leo.
Aura segera menarik lengan Hantu Leo dan pergi dari sana, sebelum dia mendapat amukan oleh mahasiswa hukum yang menjadi penguasa di perpustakaan.
"Om dari mana aja?" tanya Aura lagi, dia kini sudah berada di gedung terbengkalai di belakang kampus kesenian.
"Aku mengikuti seseorang." Hantu Leo terlihat cukup ketakutan saat mengatakan hal itu.
"Apa orang itu yang nyerang Raga?" tanya Aura, dia terlihat sudah tak sabar untuk mendapat penjelasan yang panjang dari Hantu Leo.
"Iya, tapi aku kehilangan dia." Hantu Leo berbohong pada Aura.
"Aistttttttt, gue yakin banget! Orang yang nyerang Raga di apartemen, dia pasti pembunuh Bulan Biru itu!" kata Aura, kini kepalanya mulai sakit karena terlalu banyak berfikir.
Hantu Leo hanya diam melihat diaknosa Aura terhadap Pak Dosen Imanuel.
Raga duduk di sebuah sofa mewah di dalam sebuah ruangan megah dengan desain Eropa klasik yang sangat kental. Dia tengah menunggu ritual yang dilakukan oleh Mbah Sodik selesai, ia kini berada di kediaman Dosennya yaitu Pak Imanuel.
Saat ini Pak Imanuel tak di tempat, pria tampan itu baru saja ijin pergi pada Raga. Dosen berdarah Roma itu juga tampak sangat terburu-buru saat akan meninggalkan rumah mewahnya.
Sepasang netra Raga memantulkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan megah yang mewah itu, dia sadar bahwa rumah sebesar ini tak ada CCTVnya.
Kenapa orang seintelek Pak Imanuel bertindak sangat ceroboh. Rumah besar yang mewah dengan barang-barang parabotan isi rumah yang terlihat sangat mahal, kenapa tak ada satu pun CCTV yang mengintai pergerakan di dalam rumah yang dihuni oleh banyak pelayan dan juga pengawal ini.
Raga tentu saja sangat curiga dengan keadaan jangal di rumah Pak Imanuel. Di dalam diam Raga kembali memikirkan bagaimana gosip tentang Pak Imanuel yang tersebar di kampus.
Pak Imanuel memang dosen dengan reputasi yang bagus, dia cukup berdedikasi dengan pekerjaannya itu. Tapi karakter misterius sebagai seorang seniman membuat mendapat gelar dosen dengan tabiat yang tak bagus. Terlebih tabiat kasarnya itu hanya ia tunjukkan pada mahasiswa lelaki saja, sedangkan jika dihadapkan dengan mahasiswi Pak Imanuel akan bertingkah lebih lembut.
Hal itu tentu saja tak bisa menjadi sebuah tolak ukur akan karakter seseorang. Tapi gosip tentang Pak Imanuel yang banyak berkencan dengan mahasiswinya sudah menjadi perbincangan wajib di kalangan mahasiswa AI.
Awalnya Raga juga tak terlalu mengubris persoalan receh itu, tapi dia pernah melihat Pak Imanuel berduaan dengan seorang mahasiswi di salah satu ruangan kelas yang kosong di awal dia masuk kuliah.
__ADS_1
Raga masih mengingat dengan jelas apa yang dibicarakan oleh Pak Imanuel dengan salah satu mahasiswanya di ruangan kelas itu.
"Apa kau tak bisa berhenti?! Kembalilah padaku!" kata Pak Imanuel dengan nada tinggi yang mengelegar dan menggema di seluruh sudut ruangan besar itu.
Suara serak yang maskulin itu berhasil membuat Raga melototkan bola mata monolidnya, dia mengeliat karena dia baru sadar dari alam tidurnya.
"Berhentilah merengek." suara gadis sunda itu masih terdengar medok dengan logat.
Raga pun mengintip pertengkaran kedua sejoli itu dari celah kursi di ruangan itu, karena posisinya sekarang adalah berbaring miring dengan beberapa kursi yang menopang tubuh tingginya.
Raga hanya tau gadis itu mempunyai rambut panjang hitam yang lurus dan indah, hanya itu yang bisa diingat oleh Raga kala itu.
"Jangan berubah seperti dia!" kata Pak Imanuel.
"Aku baru sadar kalau, aku memang mirip dia! Jadi aku akan bersamanya sampai kapan pun!" kata gadis itu.
Suara dentuman gemelatak sepasang sepatu berjalan ke arah pintu ruangan, pintu itu terbuka dan tertutup kembali. Wanita berambut panjang indah itu meninggalkan Pak Imanuel yang masih berdiri tegak di tempatnya.
Raga masih memandang Pak Imanuel dari tempatnya, dia bisa melihat wajah pria paruh baya itu terlihat sangat frustasi.
Apa yang pernah dia lihat itu telah menjadi sebuah bahan dukungan di hati Raga. Rasa penasaran serta curiganya itu menjadi makin membesar tak kala sebuah fakta baru berkeliaran di pikiran Raga.
Pak Imanuel yang tiba-tiba mendapat teror Mahluk Kiriman, serta gosip yang menyebar di kalangan mahasiswa di kampusnya membuat Raga semakin yakin bahwa dosen pemilik rumah ini bukan lah orang baik.
Kaki jenjang Raga mulai bergerak, dia bangun dari sofa mewah yang empuk itu, dia dengan sengaja berjalan-jalan santai dan melihat-lihat isi ruangan besar itu.
Langkahnya melambat dan pandangannya mengitari pojokan ruangan yang aneh itu, suasana kelam dirasakan oleh Raga saat pandangannya menyita sebuah susunan buku-buku klasik berbahasa Eropa di sebuah almari kaca.
Raga kembali mengedarkan pandangan tajamnya keseluruh ruangan, setelah dia yakin bahwa tak ada mahluk lain selain dia di ruangan luas ini dia berjalan menyusuri lorong lurus di samping almari buku itu.
Lorong lurus dengan hiasan buku-buku tebal berbagai warna dan judul yang tak di mengerti oleh Raga berjajar rapi di rak. Lorong sepanjang 10 meter itu berujung di sebuah pintu rahasia yang menghubungkan ruangan itu dengan ruangan bawah tanah milik Imanuel.
Jemari panjang Raga meraih gagang pintu itu, dia pun menurunkan gagang pintu itu.
__ADS_1
Cekrekkkkkkkkk