Ghost Of Death

Ghost Of Death
Rencana dadakan


__ADS_3

Tubuh pria kekar itu pun lunglai menimpa tubuh Utari yang mungil.


Dengan cekatan Utari menembakkan pistolnya ke arah pasukan lain, dua, tiga, empat, lima , enam. Hanya dalam kurun waktu tak sampai setengah menit Utari sudah merobohkan, setengah dari pasukan khusus yang mengepung Leo.


Pasukan yang masih tersisa pastilah merasa terancam dengan kehadiran Utari yang telah menumbangkan separuh dari mereka. Dan berondongan tembakan segera mereka lancarkan ke arah si biang kerok Utari.


Tapi Utari selamat karena tubuh pria pertama yang bersandar di tubuhnya dia buat sebagai tameng, untuk menghalau peluru agar tak mengenai tubuhnya.


Karena melihat bala bantuan datang, Leo pun juga berusaha untuk melawan. Dengan keahlian bela dirinya dia dengan mudah menumbangkan satu pria yang bertugas memeganginya.


Sementara Utari sudah mulai menembak ke arah pasukan yang masih tersisa.


Karena tak mau celaka Leo mundur dan menghindar, agar bala bantuan yang dia dapat tak keliru dan malah membidiknya.


Semua personil di gang sempit itu telah terkapar semua. Utari segera berlari ke arah dinding dan dengan lincahnya dia dapat menaiki pagar dinding setinggi tiga meter itu dengan bantuan dinding lain.


"Ayo cepat naik!" perintah Utari.


Leo tampak terkejut saat melihat wajah Utari, dia tak menyangka jika kembaran Raga adalah Utari. Mereka kembar tapi kenapa tak ada sedikit pun kemiripan di antara mereka berdua.


"Malah bengong! Cepat!" ujar Utari Marah.


Leo yang sudah melihat cara Utari untuk naik ke dinding pun segera mengikuti apa yang Utari lakukan. Percobaan pertamannya langsung berhasil.


Para pasukan baru datang dan mencoba mengepung mereka. Tapi dinding tiga meter itu sudah menjadi penghalang bagi pasukan baru itu.


Mereka ternyata kabur melalui gudang alat bangunan. Utari juga sudah menyiapkan motor di sana, jadi mereka bisa kabur dengan leluasa.


Seperti rencana yang dibuat oleh Raga.


"Setelah itu tak akan ada hambatan lagi. Para pasukan khusus itu harus berputar lebih dari 300 meter.


"Dan waktu yang sangat cepat itu membuat pihak berwajib tak bisa mengoprasikan Helikopter!


"Mereka mengira target mereka dekat!


"Jadi di otak mereka tak akan kepikiran untuk menyiapkan Helikopter terlebih dahulu.


"Jika pun aku menyerang dari depan, mereka hanya akan mengeluarkan pasukan dengan mobil anti peluru. Karena aparat di Negara kita sangat memikirkan keselamatan diri mereka.


"Waktu kita tak boleh lebih dari 20 menit setelah terlacak. Kita harus berhasil kabur sebelum 20 menit itu, atau kita pasti akan tertangkap!" rencana Raga yang dia jelaskan pada Leo.

__ADS_1


Utari segera membuka plastik hitam yang menutupi  motor hitamnya. Dia segera memakai celana dan jaket yang sudah dia siapkan sebelumnya.


"Tembak apa pun yang menghalangi kita, dan jangan ragu!" perintah Utari,


Gadis iblis itu  menyerahkan dua pistolnya pada Leo. Dan mengisi peluru pada dua pistol lain, Utari meletakkan dua pistol baru itu di ikat pinggang khusus yang sudah melingkar di pinggangnya.


"Kita akan melewati barikade pasukan dengan mobil anti peluru, jadi kau harus hati-hati jangan sampai menembak sembarangan atau pun tertembak!" dekte Utari sekali lagi.


Leo pun mengangguk pelan, meski dia ingin bertanya banyak hal pada Utari tapi waktu mereka sudah amat sangat sempit saat ini. Jadi Leo mengurungkan segala kata yang berakhir dengan tanda tanya di kepalanya.


Utari yang telah siap dengan helmnya pun segera menaiki kuda besinya, matanya memicing lurus ke depan dan dia mulai tersenyum menyeringai . Karena hal ini yang paling dia suka 'aksi dengan motor, di tengah jalan raya yang padat'.


Tanpa aba-aba dari Utari Leo segera naik ke atas motor Utari.


Bremmmmmmm


Bremmmmmmm


Bremmmmmmm


Gadis iblis itu segera memuntir stang gasnya dan motor itu pun berlari melejit ke arah gerbang yang sudah terbuka.


"Persiapan adalah yang paling penting saat kita melakukan misi, karena Tim Alpa tak pernah mengenal kata gagal!" ujar Raga pada Leo saat dia menjelaskan rencananya.


"Siap!"


Utari sudah keluar dari dalam gudang itu, dari kejauhan dia sudah melihat, apa yang baru saja dibicarakan Raga melalui earpiece. Pandangan manik mata Utari yang tertutup kaca hitam di helemnya segera mencari gang yang dimaksut oleh kakak kembarnya itu.


Setelah menemukannya Utari memacu motornya dengan kecepatan yang amat sangat tinggi, karena dia harus melompati pembatas jalan yang tingginya mungkin sekitar 20 cm.


"Pegangan yang kuat!" perintah Utari pada Leo.


Tangan kekar itu segera menerkam perut ramping Utari, dia tak mau mati konyol di keadaan seperti ini.


Dalam sekali hentakan Utari memacu motornya dan dengan mulusnya dia dapat melewati pembatas jalan itu. Meski dia harus merusak sebuah tanaman hijau yang tumbuh indah di pembatas jalan itu.


Motor Utari terus mengeram masuk menghilang ke dalam lorong itu.


.


.

__ADS_1


Utari menginjak rem dengan kuat, mereka berhasil kabur dari tempat penuh baku tembak itu.


Sebuah bangunan terbengkalai di pinggir kota menjadi pilihan mereka untuk titik temu. Mereka berhasil karena kerja sama tim yang apik, padahal mereka baru membuat rencana misi ini malam harinya.


Mereka memilih melancarkan aksi di pagi hari sekitar jam 08:00. Karena pada jam segitu para aparatur negara belum siap bekerja. Jadi Pasukan yang akan mengagalkan misi mereka hanya pasukan penjaga yang standby di gedung itu.


Pasukan itu saja sudah cukup merepotkan, apa lagi jika semua pasukan di kerahkan seluruhnya.


"Bagaimana, apa mereka masih mengejar kita?" tanya Utari pada Raga setelah melepas helm di kepalanya.


Raga masih memeperhatikan tabletnya, dia masih melacak dari gadget dengan layar yang lebar itu.


Pria muda yang tampan tapi berhati iblis itu menyandarkan tubuh atletisnya di mobil sport kuningnya.


"Sepertinya mereka sudah kehilangan kita!" ujar Raga, dia segera meninggalkan mobilnya dan menghampiri Leo.


Leo yang sudah turun dari motor hitam Utari segera menyerahkan tas ranselnya yang berisi Laptopnya kepada Raga.


"Apa pekerjaan kalian selalu seberesiko ini?" tanya Leo pada Utari.


"Ini tak ada apa-apanya.


"Biasanya kita di tugaskan ke berbagai Negara, untuk membunuh agen-agen yang tak penting!" ujar Utari.


"Kenapa kau banyak ngomong, nomor 002!" Raga menghentikan Utari yang ingin bercerita panjang lebar pada Leo


"Aku berhasil mengambil banyak hal dari server Kementrian Pertahanan.


"Kelihatannya data-data itu tak ada di BIN atau kepolisian!" ungkap Leo.


Raga membuka tas Leo dan mengambil Labtop yang tadi digunakan oleh Leo untuk meretas.


"Apa sudah tak papa jika aku membukanya sekarang?" tanya Raga.


"Tidak papa, koneksi internetnya sudah terputus.


"Jadi Laptop itu tak akan memancarkan sinyal apa pun!" kata Leo.


Raga pun segera membukanya, dan memeriksa apakah betul Laptop ini aman untuk dibuka. Ternyata Leo tak berbohong kepadanya.


Keraguan pada Leo masih menghantui Raga,bagaimana pun Leo adalah agen BIN yang membela Negaranya.

__ADS_1


__________BERSAMBUNG_________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2