
Empat tahun yang lalu, Karis yang kala itu masih bertubuh kurus dan berambut pirang sedang terduduk lemah di samping tubuh Farida Adelia yang sudah terkulai lemas di lantai kamarnya.
Darah segar keluar dari luka di kening gadis belia yang amat cantik itu, gadis berambut coklat bergelombang itu masih mengenakan seragam SMUnya. Di sekitar tubuh Farida berserakan pecahan beling keramik.
"Maafkan aku, Farida." kata Karis dengan bibir yang bergetar karena ketakutan.
"Kau masih hidup-kan?" Karis menguncang pelan tubuh Farida.
"Bagaimana ini, aku sudah membunuhmu!" teriak Karis keras.
Telinga Karis menangkap sebuah suara seseorang membuka pintu depan apartemennya dengan memencet kata sandi.
Saat itu Karis sudah pasrah, jika Farida mati dia rela mendekam di pejara selamanya. Tapi jika Farida masih hidup dia akan berhenti jadi Aktor dan menjadi suami yang baik untuk Farida.
Karis akan melindungi gadis yang terkulai di depannya dengan sepenuh hati nantinya, karena kenyataannya Karis tak bisa kehilangan Farida.
Orang itu berhasil masuk kedalam apartemen Karis, kaki jenjang nan indah melangkah gontai memasuki ruang apartemen Karis. Perempuan itu melepas heelsnya di balik pintu dan mengantinya dengan sendal rumah yang nyaman.
"Karis sayang, kamu masih belum bangun!" kata suara wanita itu dengan nada bahagia.
Akkkkkkkkkkkk
Wanita yang ternyata ibunya Karis itu berteriak saat melihat pemandangan di depannya.
"Karis, wanita ini kenapa?" tanya Ibu Karis dengan nada khawatir.
"Aku memukulnya, ayoooo Mah bawa dia ke rumah sakit!" kata Karis.
"Kamu gila, kamu mau dicap pembunuh?! Bagaimana jika dia mati!" bentak Ibu Karis.
"Lalu aku harus bagaimana, Maaaaaa!" teriak Karis, dia juga merasa frustasi.
Karis bukan lelaki yang berotak cerdas atau pekerja keras. Dia hanya punya wajah yang tampan dan tubuh yang sempurna. Hanya itu kelebihannya. Jika dia pengsiun dini dari dunia hiburan maka apa yang akan akan lakukan natinya. Sedangkan dia adalah tulang punggung keluarganya saat ini.
__ADS_1
Ayahnya sudah menjalani bisnisnya sendiri, tapi akhir-akhir ini selalu merugi. Sedangkan ibunya memang bukan wanita perkerja.
"Kita kubur saja dia di tanah belakang rumah kita!" kata Ibu Karis tanpa berfikir panjang.
"Mama sudah gila?!" teriak Karis kaget.
"Jika sampai wanita ini meninggal, atau dia menceritakan semua hubungannya denganmu ke publik. Bukan cuma kamu sendiri yang mati, mama dan papa juga pasti ikut mati!" ujar mamanya yang mulai menitikan air mata.
"Bagaimana cara kita mengguburkan dia di sana?" tanya Karis dengan nada lemas.
Dia merasa sudah tak punya pilihan lagi, satu-satunya cara yang mereka pikirkan saat itu adalah menyingkirkan Farida Adelia dari dunia ini.
Ibunda Karis membantu memasukkan Tubuh gadis itu kedalam sebuah koper yang besar. Lalu dengan setengah takut mereka membawa koper itu melalui jalan biasanya.
Saat masuk ke dalam lift mereka tampak tak bisa natural, tapi karena mereka memakai kacamata dan masker yang menutupi wajah mereka tak ada satu orang pun yang curiga.
Mereka membawa tubuh Farida Adelia ke rumah Ibunda Karis dengan mobil wanita paruh baya tapi dia masih sangat cantik yaitu ibunya.
Tak ada yang mencurigai mereka berdua, karena rumah mewah itu sangat tertutup dan jarang dikunjungi oleh orang lain. Ibunda Karis juga sudah menyuruh para pembantunya untuk meninggalkan rumah itu sementara waktu dengan alasan yang pasti dipaksakan.
Saat mereka mau menguburkan tubuh Farida hari sudah gelap dan hujan turun dengan derasnya. Karis dan ibunya sama sekali tak peduli dengan cuaca ekstrim itu, mereka masih terus menggali lubang untuk tempat bersemayam Farida Adelia.
Saat dirasa lubang sudah cukup dalam Karis segera mengeluarkan tubuh Farida dari dalam koper besar itu. Dengan susah payah pria yang dulu masih sangat muda itu mengangkat tubuh Farida dengan sisa-sisa tenaganya.
Tapi saat tubuh gadis itu sudah dibaringkan di dalam lubang tanpa bantal dan selimut itu. Farida sadar.
"Karis, tolong jangan bunuh aku!" pinta Farida dengan nada lirih.
Sebuah sekop tiba-tiba melayang menghantam wajah Farida dan darah mengalir deras dari luka itu. Tubuh Farida kembali lemas.
Karis memandang ibunya yang masih gemetar dengan sekop di tangannya.
"Ayo cepat kita kubur dia!" kata Ibu Karis.
__ADS_1
Nasi telah menjadi bubur, sekarang mereka tak punya pilihan lain selain melakukan hal keji itu.
Semenjak saat itu Karis seperti orang yang gila, dia seperti tak bisa menahan keinginannya untuk berkencan dengan gadis-gadis belia.
Bahkan di Korea dia sering melakukan pelecehan terhadap pelajar di sana. Meski tak dipublikasi demi kenyamanan kedua belah pihak agensi yang menaungi Karis memutus kontrak dengan bintang tersebut.
Tapi Karis malah sukses besar saat pulang dan berkarir di negaranya sendiri. Dia bahkan pernah membintangi film dengan para bintang lain dari Asia Tengara.
Karena kesuksesannya itu dia semakin berani dengan merayu para pengemarnya.
Awalnya Karis tak sadar jika dia sudah menjadi monster yang mengerikan. Hingga dia merasakan sebuah kebahagian saat dia bisa menyiksa gadis-gadis belia yang dia kencani.
Makin kesini Karis makin pintar memilih korban dengan nasib yang kurang beruntung. Yatim-piatu, atau dari keluarga yang kurang mampu. Alhasil para gadis-gadis yang dia kencani dan dia siksa jarang ada yang berani melawan dan melapor ke Polisi.
Selain dibungkam dengan uang oleh Karis. Mereka juga takut dengan keberadaan pengemar Karis yang dikenal fanatik dan selalu membela idolanya dengan membabi-buta.
.
.
Tapi kini pria yang disebut-sebut sebagai Dewa sinetron dan Aktor paling berpengaruh di Negara ini. Tapi keadaan pria yang paling dipuja itu kini tengah duduk dengan kondisi hampir sekarat di atas kursi penyiksaan Raga tanpa ada yang bisa menolongnya.
Pengemarnya yang fanatik, para bodyguardnya yang kuat-kuat, ayah ibunya yang selalu meminta uang padanya. Karis baru sadar, dia kini hanya sendiri.
Dia tidak sendiri, tapi bersama arwah-arwah gadis-gadis yang dia bunuh. Karena saat ini kesadarannya ada di tengah-tengah antara hidup dan mati, dia bisa melihat sosok-sosok mengerikan itu mengerombol di dekatnya.
Matanya segera terbuka lebar karena rasa takut, tapi netranya kini hanya melihat darah segar membanjiri hampir di seluruh tubuhnya yang sudah mulai mengering. Serta ruangan yang di kelilingi plastik, bagi pandangan Karis tempat ini tampak seperti peti mati baginya.
Rasa sakit yang tak tertahankan itu perlahan kembali menguasai tubuhnya.
"Bajingan, kemana perginya setan keparat itu!" kata Karis.
"Akkkkkkk!" pekiknya tertahan.
__ADS_1
Karis tau jika dia berteriak, dia hanya akan bertambah kesakitan. Pembunuh sekelas Bulan Biru pasti lebih terlatih dari pada dia, karena watak pembunuh itu hampir sama. Jadi Karis faham betul orang yang membawanya ke sini pasti memikirkan dengan baik tata letak tempat ini.
Dia tak akan membiarkan siapa pun dengan mudah menemukan tempat ini.