Ghost Of Death

Ghost Of Death
Amarah Sang Predator


__ADS_3

Mata Raga yang memerah karena amarah, seketika berubah berkaca-kaca. Dia tau benar situasi apa yang akan terjadi padanya.


Apa yang selama ini dia sangat takutkan, akhirnya terjadi juga. Kemarahan dan rasa sedih di raut wajah Aura sebelum gadis itu meninggalkannya, adalah sebuah tanda. Tanda perpisahan mereka untuk selama-lamanya.


Langkah yang biasanya gontai dan lincah Raga, seolah melemah karena luka di hatinya. Adik kembarnya dan gadis yang ia cintai, meninggalkannya di hari yang sama.


Tapi dia harus bisa berjalan meski pelan, dia harus bertahan. Raga harus mengejar Aura sebelum terlambat, mungkin saja masih ada secerca harapan. Agar gadisnya tak akan berpaling darinya untuk selama-lamanya.


.


Getar ponsel di saku celananya menghentikan langkahnya mengikuti Aura. Raga ingin mengabaikan panggilan itu tapi dia harus menjawab, karena itu panggilan dari nomor ponsel Leo.


"Kau dimana?" tanya Raga dengan penuh amarah yang sudah memuncak.


Dia tak peduli dengan suasana sekitar yang sangat ramai. Maeski hampir semua mahasiswa berkumpul di halaman gedung fakultas ekonomi itu.


Raga tak peduli jika semua orang tau kalau dia adalah pembunuh berantai Bulan Biru. Satu-satunya yang iya takutkan adalah kehilangan Aura.


"Ada beberapa mobil aneh yang mengikuti ambulance ini!" kata Leo.


Lelaki itu sedang berada di dalam mobil ambulance menemani Utari yang sedang mendapatkan pertolongan pertama dari para medis.


"Kau akan kerumah sakit mana?" tanya Raga.


"Kerumah sakit Intan!" kata Leo.


Raga menutup panggilan ponsel Leo, dia segera menuju parkiran motornya. Dia tak peduli dengan polisi yang baru datang di lokasi kejadian. Dia sana ada Detektif Senki dan Detektif Morgan. Tapi Raga tak mengubris mereka lagi


Percuma untuk berpura-pura lagi, karena Aura juga sudah terlanjur tau.


"Mau kemana bajingan itu?" tanya Detektif Senki yang berusaha mengejar Raga.


Tapi lelaki iblis itu sudah mengendarai motornya dan pergi dari sana.


"Apa dia gila?" Detektif Senki mencoba menerka apa yang sedang dilakukan oleh Raga.


.


Dua mobil sedan mewah membuntuti laju cepat mobil besar berwarna putih itu. Ambulance yang membawa Utari yang sedang sekarat.


Laju kuda besi Raga sudah bisa membuntuti mereka, dia mencoba menerka siapakah yang berada di dalam mobil-mobil sedan mewah itu.

__ADS_1


Dilihat dari mobil mereknya yang dibuat di Eropa, mobil-mobil mewah itu pasti bukan milik orang sembarangan. Raga langsung bisa menebak,  jika orang-orang yang berada di dalam mobil itu adalah orang-orang Tuan Harsono.


Raga segera mengimbangi laju mobil itu, dia langsung mengarahkan moncong pistol yang dia bawa ke arah kaca depan tempat pengemudi duduk.


Duarrrrrrrrrr


Mobil itu seketika oleng karena pada kecepatan yang amat sangat cepat itu , sebuah hentakan peluru menerobos ke dalam mobil dan melukai lengan sang sopir.


Raga mengurangi kecepatan laju motornya, dia melihat bagaimana mobil yang berhasil dia tembak itu oleng dan menabrak pembatas jalan dengan kerasnya.


Kecelakan beruntun pun tak bisa dihindari oleh para pengguna jalan raya itu. Raga menghentikan laju motornya, karena kedua mobil sedan itu berhenti.


Raga segera maju kedepan, dia yakin betul jika semua orang di dalam mobil itu pasti dipersenjatai. Jadi cara satu-satunya adalah cepat menyerang mereka sebelum mereka mempersiapkan senjata mereka.


Seseorang keluar dari mobil yang ringsek karena menabrak pembatas jalan raya itu. Suara klakson mobil yang menggema memenuhi telinga Raga tak membuatnya berhenti.


Meski orang akan merekam aksinya kali ini, dia sudah tak peduli. Dia harus mengalihkan perhatian semua orang,  agar adiknya dirawat dengan baik di rumah sakit.


Dengan beberapa kali pukulan maut Raga layangkan ke titik-titik kehidupan pria berjas yang masih teler karena kecelakan itu. Dia mencari senjata yang dipunyai pria yang sekarang sedang mengarungi alam baka itu. Tak lupa alat komikasi yang dikenakan pria itu juga ikut diambil oleh Raga. Dia ingin tau siapa dalang dibalik penembakan adik kembarnya itu.


Suara tembakan sudah mulai terdengar, para pria di mobil sedan depan pasti sudah tau. Jika yang mereka hadapi adalah pembunuh berantai Bulan Biru yang brutal.


"Keluar kau!" teriak salah satu dari mereka.


Raga memperhatikan orang-orang yang sedang menonton ke arah medan perang itu. Dengan menebak arah pandangan semua manik mata manusia yang berada di depannya, Raga langsung bisa menebak posisi lawannya.


Langkah kaki berderap yang dihasilkan sol sepatu mahal dan aspal itu juga menjadi acuan Raga untuk menemukan posisi para musuhnya.


Raga segera berdiri dan ke dua pistolnya mengarah ke dua arah yang tepat.


Duarrrrrr


Duarrrrrr


Peluru itu melesat mengenai target dengan sangat pas.


Kau harus perhititungan sebelum menherang, buatlah gerakan seminim mungkin yang bisa memojokkan lawan. Dan kau harus membidikkan tembakanmu setepat mungkin. Ingat peluru yang kau tembakkan bulanlah didapat secara gratis. Jendral Husein.


Raga mengeletakkan pistol satunya di atas aspal begitu saja. Dia berjalan menunduk, dan masih dengan posisi dan pandangan yang sigap. Raga memcoba mendekati dua orang yang dia tembak.


Mereka masih sadar dan salah satunya masih bisa menembak ke arahnya, meski pria itu terluka di perutnya.

__ADS_1


Raga berhenti melakukan pergerakan, dia kembali berfikir untuk melenyapkan nyawa orang itu tanpa harus melukai dirinya sendiri.


Pria itu adalah asisten Tuan Harsono, dia orang yang terlatih dan sangat tangkas. Meski dia terluka dia tetap berusaha berdiri untuk menjalankan perintah Tuannya.


Tapi kesetiaan pria itu malah membuat keuntungan bagi Raga. Saat pria itu berusaha keras untuk menahan rasa sakitnya Raga segera keluar dari persembunyiannya.


Duarrrrrrrrr


Raga dapat melumpuhkan asisten Tuan Harsono itu. Dia menghampiri tubuh yang sudah kejang-kejang karena menahan rasa sakit dan kehabisan darah secara perlahan-lahan.


Raga hanya mengambil ponsel orang itu, dia menghubungi Tuan Harsono dari ponsel milik asisten itu.


"Bersiaplah, sekarang giliranmu! Paman!!!" ujar Raga.


Hanya itu yang dikatakan oleh Raga, dia langsung membuang ponsel itu dan pergi dari TKP yang ia buat. Dia tak mau ditangkap oleh polisi sebelum dia berhasil membunuh seluruh keluarga ibu kandungnya.


.


.


Raga baru saja sampai di rumah sakit,  tempat di mana Utari mendapatkan operasi dan pertolongan.


Raga segera menyambar kerah kemeja Leo yang sudah bernoda merah. Dengan penuh amarah Raga menanyakan sebuah pertanyaan. "Apa yang sebenarnya terjadi?!"


"Aku tidak tau!" kata Leo lemah.


Sebuah bogeman dari kepalan tangan melayang ke arah wajah Leo, yang sudah pucat pasi seperti mayat hidup.


"Apa kau menjebak kami?" tanya Raga.


"Aku tak bisa berfikir, aku tak tau!" jawab Leo.


Dia tak berusaha bangun, padahal tubuhnya terbaring miring di lantai depan ruang oprasi Uatri itu.


Raga yang sudah tak bisa menguasai kobaran amarah di dalam dirinya pun mendekati dinding.


Dia hampir memukulkan kepalan tangan kosongnya ke arah benda padat yang amat keras itu.


"Adikmu pasti akan selamat! Paman sudah menyuruh Dokter terbaik untuk mengurus adikmu!"


Suara itu membuat Raga mengurungkan, untuk melampiaskan amarahnya pada dinding Rumah Sakit ini.

__ADS_1


____________BERSAMBUNG__________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2