
Leo dan Ariel sudah berada di depan Aula Tetua saat Taurus datang dan berteriak memanggil nama mereka.
Nafas pria itu terputus-putus dan terlihat ia sudah berlari cukup lama sebelum sampai dihadapan kedua pemuda pemudi tersebut.
"Ini, ambil uang ini... aku yakin kau akan membutuhkannya nanti"
Taurus mengatur nafasnya sambil menyerahkan sekantong besar uang keping emas berukir padi dan kapas kepada Leo.
"Terima kasih Senior, kami pasti akan menggunakan uang ini dengan baik ke depannya."
Leo dengan senang hati menerima pemberian pria tersebut sebelum memanggil Beast singanya untuk datang menjemput mereka.
Tidak butuh waktu lama bagi Beast tersebut untuk sampai di hadapan Leo.
Setelah Beast tersebut datang, Leo segera membantu Ariel naik ke atas pundaknya.
Leo melihat ke arah Taurus dan berterima kasih sekali lagi padanya,
"Terima kasih Senior, semoga kau diberi keselamatan dan kesehatan agar kita bisa bertemu kembali di masa depan"
Taurus tersenyum singkat mendengar perkataan Leo.
"Kembalilah saat kau sudah kuat nanti, dan akan kulihat sejauh apa kau sudah berkembang nantinya."
Leo membalas tersenyum hangat pada Pria tersebut sebelum akhirnya bergerak meninggalkan Aula Tetua dengan cepat.
~•~
Markas utama Aliansi Besar Phoenix,
"Mengapa kalian bisa gagal seperti ini!?"
Teriakan seorang pria disertai dengan angin kencang menggema memenuhi gedung yang terletak di tempat yang tidak diketahui itu.
"Maafkan kami, Tuan! Kami sungguh tak mengira seorang pemuda akan sanggup menghabisi Hanz dan yang lainnya seperti itu..."
Pria itu menatap tajam orang yang berlutut dihadapannya. Ia sangat geram karena rencana mereka gagal hanya karena seorang pemuda yang menurutnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya.
"Kalian tidak berguna, tidak perlu hidup lebih lama lagi!"
Kepala orang itu meninggalkan tempat yang seharusnya, dan membuat darah segar mengalir deras dari lehernya.
"Katakan pada semua anggota Aliansi Besar Phoenix, bahwa Aliansi tidak menerima kegagalan sekecil apapun!"
Suasana menjadi mencekam, tidak ingin menambah amarah pria tersebut, mereka pun bergegas menyampaikan pesan yang diucapkan oleh pria tersebut.
"Seorang pemuda, huh?"
Pria itu terlihat memikirkan sesuatu di dalam kepalanya.
~•~
Hari sudah mulai gelap saat Leo dan Ariel tiba di suatu desa petani yang terlihat makmur. Walaupun sudah hampir gelap, tetapi suasana di desa tersebut nampak masih sangat ramai.
__ADS_1
Desa ini sendiri lebih mau peradabannya dibanding desa lain yang ada disekitarnya, hal ini terlihat dari bangunan megah dan kokoh yang sudah banyak berdiri di desa tersebut.
Leo dan Ariel memilih berjalan kaki saat memasuki desa tersebut. Mereka tidak ingin membuat keributan dengan membawa Beast singa masuk ke dalam sebuah desa yang maju seperti ini.
Pemandangan gemerlap lampu desa menghiasi penglihatan kedua pemuda pemudi tersebut. Ditengah gemerlap lampu tersebut ternyata ada banyak orang yang tengah menari dan beberapa terlihat menggunakan topeng yang aneh menurut Leo maupun Ariel.
Mereka melanjutkan langkahnya sambil mencari penginapan untuk mereka tempati malam ini.
Setelah berkeliling cukup lama di desa tersebut Leo, melihat sebuah penginapan yang ukurannya tidak terlalu besar tetapi cukup untuk mereka beristirahat malam ini.
"Ah, aku menemukannya. Ariel, ayo masuk"
Leo mengajak Ariel masuk ke dalam penginapan itu. Di dalam penginapan tersebut, terlihat ada dua orang gadis yang bekerja sebagai pelayan di penginapan tersebut.
Kedua gadis itu menghampiri Leo dan memasang senyum ramah di wajah mereka.
"Tuan, apakah anda ingin menyewa ruangan disini?"
Seorang gadis lainnya tiba-tiba muncul bertanya pada Leo, pemuda itu hanya mengangguk pelan sambil menjelaskan bahwa ia butuh kamar dengan tempat tidur yang terpisah.
Setelah berhasil mendapatkan kamar yang ia inginkan Leo baru menyadari bahwa Ariel sejak tadi hanya diam dan memasang wajah cemberut padanya.
"Ariel? Ada denganmu?"
Pertanyaan Leo hanya dibalas hembusan kasar oleh Ariel,
"Humph!"
Leo merasa semakin kebingungan terhadap sikap gadis tersebut, sebelumnya ia seperti nasi yang menempel pada tubuh Leo, tetapi sekarang ia tiba-tiba seperti kehilangan daya rekatnya.
Gadis itu hanya terus diam sambil menggembungkan pipinya pada Leo, terlihat jelas Leo sepertinya melakukan kesalahan tapi tak disadari olehnya.
"Kau terus menerus menatap yang lain seperti itu, padahal di belakangmu kau sudah punya aku bersamamu..."
Gadis itu akhirnya membuka suaranya, suara gadis tersebut terdengar seperti anak kecil yang merajuk saat ia mengucapkannya.
Leo yang melihat hal ini hanya tertawa menanggapi kalimat gadis tersebut. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama tawa dan perasaan hangat kembali dirasakan oleh Leo.
"Kupikir kau marah karena apa"
Leo menghentikan tawanya.
"Kau tahu, aku menatap mereka karena aku harus melakukan itu. Memangnya aku bisa berbicara tanpa menatap wajah orang tersebut? Terlebih saat menyewa kamar seperti tadi"
Leo mendekatkan gadis tersebut ke dirinya. Dengan cepat senyuman manis kembali terukir di wajah sang gadis.
"Padahal kau punya aku, tapi kau tak pernah melihat sedetik pun padaku kau jahat!"
Ariel memukul ringan tubuh pemuda tersebut, dan senyum geli terlihat di wajahnya.
"Aku melihatmu, tapi kau hanya tak menyadarinya"
Ucapan Leo sukses membuat wajah gadis tersebut memerah karena malu, dengan cepat ia mendekapkan wajahnya ke tubuh pemuda itu.
__ADS_1
"Leo, kau bodoh..."
Leo tidak terlalu mendengar kalimat sang gadis dan menanyakan pada gadis itu apa yang ia ucapkan.
"Tidak, kau tidak perlu tahu"
Senyuman manis kembali terukir lembut di wajah gadis itu ia dengan cepat meninggalkan Leo dan menjatuhkan dirinya ke dalam tempat tidurnya yang empuk.
"Leo, kau bodoh"
Perasaan bahagia dengan cepat mengalir di pikiran gadis tersebut saat mengingat kalimat Leo.
Tidak berselang lama ia kemudian memejamkan matanya dan tertidur pulas dengan perasaan bahagia yang kini meluap di dadanya.
~•~
Di dalam hutan perkebunan desa Loa,
Seorang pria tua dan anaknya terlihat masih bersemangat bekerja dan terus memanen buah hasil tanaman mereka.
Kebun mereka memang sangat luas dan cukup besar dibanding milik warga yang lain di desa ini, sehingga perlu waktu lebih untuk memanen buah-buahan tersebut.
Keduanya terus bergerak masuk ke dalam kebun dan terus memanen.
Saat sudah masuk lebih dalam ke kebunnya, pria tua itu merasakan ada sesuatu yang mengintainya dari dalam kegelapan.
Dengan lentera di tangannya ia mengarahkan pencahayaan ke arah sesuatu yang mengintainya tersebut.
Sesaat suasana menjadi hening tanpa suara apapun, saat itulah dia merasa ada yang salah.
"Cresh! Nak, dimana kau?!"
Pria tua itu panik mencari anaknya.
Ia terus mencari dan berteriak memanggil namanya.
"Cresh! Nak!"
Saat pria tua itu memanggil nama anaknya, ia kembali merasakan hawa yang sama seperti sebelumnya.
Tetesan cairan hangat jatuh dari atas kepalanya dan mengenai wajah pria tua tersebut. Ia menyentuh cairan itu dengan jarinya dan barulah terlihat warna merah gelap pada cairan tersebut.
Jantung pria itu berdebar kencang, ia kehilangan kekuatannya untuk berdiri dan jatuh berlutut.
Ketika ia mengarahkan penerangannya ke atas. Terlihat jelas bahwa anaknya, Creshlah yang berada di atas pohon buah tersebut dengan keadaan yang mengenaskan.
Pria itu kembali merasakan perasaan merinding sebelum sebuah bayangan hitam dengan cepat menerjangnya.
Sesaat terdengar jeritan seorang pria tua di hutan tersebut tanpa ada yang bisa mendengarnya.
————
**Saya mau mengingatkan, Ch sebelumnya membuat saya menjadi ambyar, silahkan like ulang chapter sebelumnya dan jangan lupa komen di kolom komentar.
__ADS_1
Author perlu bantuan kalian, Like, Fav, dan Komen! untuk vote saya ga terlalu memaksa.
See you later**!