Guardians : Legend Of Leo

Guardians : Legend Of Leo
Ch.22 Desa Diserang


__ADS_3

Leo tengah membawa Ariel menjauhi hawa berbahaya yang ia rasakan, hawa itu tiba-tiba terasa sangat banyak mengelilingi Leo dan Ariel, sehingga membuat Leo mengambil jalan aman dengan kabur membawa Ariel bersamanya.


Ditengah pelariannya, Leo bisa melihat sebuah asap hitam membumbung tinggi dari bagian utama desa.


"Desa sudah diserang..."


Leo menggertakan giginya sebelum kembali melangkahkan kakinya lebih cepat.


Belum terlalu lama melangkahkan kakinya, ia dan Ariel melihat dua orang gadis yang dikelilingi oleh Ashura.


Salah satu gadis tersebut bahkan sudah sangat putus asa dan pasrah menerima serangan para Ashura yang ada di sekitarnya.


"Ariel, pegangan yang erat..."


Dengan cepat Leo berpindah posisi dan sampai di depan gadis yang sudah putus asa tersebut.


"Api Kebanggaan! Tebasan Dewa Api!"


Leo dengan cepat menebas cakar Ashura yang sudah sangat dekat dengan gadis tersebut. Kobaran api yang sangat panas terlihat mengekori gerakan pedang tersebut dan kobaran api berbentuk sabit terlihat melayang setelah Leo menebaskannya.


Gadis itu membuka matanya dan melihat Leo yang kini tengah membawa Ariel bersamanya.


"Ariel, sebaiknya kau pergi bersama mereka ke tempat yang aman, aku akan memanggil Beast Singaku dan kau pergilah bersama mereka."


"Jangan..."


Ariel mengeratkan dekapannya pada Leo, terdengar dari suaranya, ia sangat khawatir pada Leo.


Leo mengelus puncak kepala gadis tersebut,


"Hei, cepatlah bawa mereka. Aku tidak akan kenapa-napa, aku akan kembali setelah selesai menyelamatkan desa ini. Jangan lupakan fakta kalau aku adalah Guardians..."


Leo tersenyum lembut pada gadis itu, sedangkan gadis itu hanya menatap sedih pemuda tersebut tanpa membalas ucapannya.


"Baiklah, tapi kau harus berjanji untuk kembali setelah selesai menyelamatkan desa ini. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau tidak kembali setelahnya!"


Suara Ariel terdengar sedikit serak dan air mata menetes dari matanya. Leo tersenyum lembut sebelum melepaskan dekapan gadis tersebut dan memanggil Beastnya.


Seperti biasa, Beast itu dengan cepat datang setelah Leo memanggilnya.


"Nak, Apa Yang Terjadi Pada Desa Ini? Mengapa Aku Merasakan Ada Banyak Kedengkian Disini?"


Suara berat Beast tersebut berhasil menakuti dua gadis yang mereka temukan sebelumnya.


Tanpa menjeda lagi Leo membantu Ariel dan kedua gadis tersebut naik ke punggung Beast miliknya.

__ADS_1


"Naiklah, ia tidak akan menyakiti kalian, aku yang menjaminnya"


Leo menunjukan ekspresi yang cukup menenangkan bagi gadis tersebut dan berhasil membujuk mereka untuk naik.


Setelah semuanya sudah berhasil naik ke punggung Beast singa tersebut, Leo bergegas menghabisi Ashura yang tersisa disekitar mereka.


"Aku serahkan mereka padamu, cepatlah pergi!"


Tanpa menunda apapun lagi, Beast itu langsung bergerak menjauh dari desa dan membawa ketiga gadis di atasnya menuju tempat yang lebih aman.


Leo bergerak dengan cepat sebelum menebas Ashura di sekelilingnya.


"Api Kebanggaan! Sabit Penghangus Jiwa!"


Dengan cepat kobaran api berbentuk sabit membakar apapun yang ada disekitarnya.


Leo melanjutkan serangannya, berbagai gerakan yang tegas dan cepat di tunjukkan oleh Leo. Dalam waktu singkat tidak ada Ashura yang terlihat lagi.


Leo melanjutkan gerakannya dan berlari dengan cepat ke bagian utama desa.


Gerakan Leo sangat cepat sehingga dalam waktu singkat ia sudah sampai di bagian utama desa tersebut.


Sesampainya ia di sana, pemandangan mengerikan langsung menyambutnya.


Terlihat berbagai bangunan yang sebelumnya berdiri kokoh, kini mulai rubuh karena terbakar api.


Tanpa menunda lebih lama ia berpindah di samping orang tersebut dan menebaskan pedangnya ke Ashura itu,


"Api Dewa Langit! Roda Api!"


Sebuah api berbentuk roda berputar membakar Ashura tersebut dan menghilang setelah mengubahnya menjadi abu.


"Kau tak apa?"


Leo melihat ke arah seseorang tersebut, dan ia baru menyadari bahwa orang tersebut adalah seorang gadis.


"Y—Ya, Aku tidak apa-apa..."


Wajah gadis tersebut masih terlihat syok dan kakinya tidak berhenti gemetar. Sesaat kemudian, ia meneteskan air matanya.


Leo hanya memperhatikan sekitarnya mencari kemana orang-orang pergi sebelum akhirnya menyuruh gadis tersebut pergi ke tempat yang lebih aman.


"Hei, pergilah ke atas sana. Disana ada tiga gadis lainnya sedang menunggumu untuk berlindung, cepatlah kesana, aku akan menjamin keselamatanmu"


Gadis tersebut hanya menuruti kata-kata Leo dan dengan cepat berlari ke arah gunung dimana Ariel dan kedua gadis lainnya sedang menunggu.

__ADS_1


Setelah gadis tersebut menghilang karena jarak, Leo bergegas mengelilingi desa tersebut sekali lagi.


Leo terus berlari sambil melihat sekitarnya mencari penduduk desa tersebut, namun yang terlihat hanya beberapa jasad orang yang sudah tertimbun reruntuhan desa tersebut.


Setelah berlari cukup lama Leo melihat sekelompok besar orang yang dipimpin seorang pemuda.


Pemuda itu memiliki rambut berwarna hitam kecoklatan dengan mata yang berwarna coklat terang.


Leo melihat pemuda itu maju menyerang Ashura di depannya untuk melindungi penduduk desa dibelakangnya.


"Angin Emas! Pusaran Kesucian!"


Pemuda itu menebaskan pedang ditangannya dan membuat pusaran angin berwarna emas yang sangat tajam.


Serangan itu berhasil menghabisi beberapa Ashura sekaligus, ini membuat Leo menghentikan langkahnya, dan la hanya terus memperhatikan kejadian itu dari kejauhan.


Sebisa mungkin Leo ingin menyembunyikan kekuatannya, bahkan ia belum menggunakan Auranya sedikitpun dari awal pertarungannya.


Pemuda itu terus menyerang Ashura di hadapannya, tetapi kini ia terlihat mulai tersudut karena Ashura itu tidak hanya menyerang dari depannya dan mulai menyerang dari belakang pemuda tersebut.


Melihat seekor Ashura mencoba menerjang warga dari belakangnya pemuda itu melompat dan menyerang Ashura itu dari udara.


"Angin Emas! Tombak Pemurnian!"


Sebuah energi angin berbentuk lancip menusuk Ashura itu dan langsung membunuhnya dengan cepat.


Pemuda itu kini makin terpojok saat ia menyadari bahwa para Ashura itu sengaja memancingnya menjauhi para penduduk dan mencoba menyerang penduduk yang tersisa.


Pemuda itu menggertakkan giginya sebelum kembali mencoba melompat, tetapi dengan cepat puluhan Ashura menyerangnya.


Pemuda itu dengan berat hati menyerang para Ashura dihadapannya dan melihat ke arah para penduduk dengan tatapan bersalah.


Air matanya mengalir saat melihat Ashura yang ada disana mulai menerjang para penduduk desa tersebut.


"Maafkan aku..."


Suara pemuda itu terdengar serak dan kesedihan meluap di dadanya.


Cakar Ashura yang ada disana hampir mengenai para penduduk, tetapi sebuah kobaran api besar menghentikan mereka dan membakar habis barisan terdepan Ashura tersebut.


Terlihat seorang pemuda lainnya kini tengah mengayunkan pedangnya membantu penduduk desa yang sudah di ujung tanduk tersebut.


————


**Jangan lupa dukung Author dengan menekan tombol like, Fav, dan Komen di kolom komentar.

__ADS_1


Jangan lupa juga untuk memberi like di ch sebelumnya, jumlah like dan komen di ch sebelumnya sangat memprihatinkan bagi Author**.


__ADS_2