
Leo masih membeku dengan yang dilakukan gadis itu beberapa saat sebelumnya, ia masih belum bisa mencerna apa yang terjadi.
"Ah, aku tahu kau pasti kebingungan, maafkan aku. Sebelumnya, bolehkah aku tahu mengapa kau datang kemari?" Gadis itu bertanya dengan senyum ramah saat Leo masih belum menurunkan kewaspadaannya.
Leo mencoba memikirkan kata yang tepat hanya untuk kembali terdiam, apa jawaban terbaik yang bisa ia berikan sekarang?
Seorang pria menculiknya kemari dan ia tidak tahu harus pergi kemana? Lebih parahnya lagi ia bahkan tidak membawa apapun bersamanya, jadi apa yang bisa ia lakukan?
Melihat Leo terus diam tanpa menjawab, gadis itu menghela napasnya, ia sadar yang ia lakukan mungkin cukup mengganggu pemuda tersebut, dan ia menebak mungkin pemuda ini adalah seorang pendekar, atau seorang petualang dari sebuah kota atau desa terpencil yang jauh dari sini, mengingat wajah dan pakaian Leo yang terasa asing bagaimanapun gadis itu melihatnya.
"Baiklah, karena kau tidak mau menjawab, lebih baik kita pergi ke kota di dekat sini. Tidak baik berada di hutan apalagi di tengah malam seperti ini." gadis itu memberi saran.
Leo tidak menolak, ia memang berniat mencari kota, hanya saja sesuatu menganggunya. Ia tidak mengetahui denah maupun daerah di manapun di sekitar sini, jadi bagaimana caranya mencari?
"Sebelumnya maafkan aku, aku tidak bisa menurunkan penjagaanku ketika kau bahkan tidak bisa kurasakan meski berada di dekatku sebelumnya." ucap Leo sambil sedikit menurunkan kewaspadaannya terhadap gadis itu.
Gadis itu hanya tersenyum sebelum akhirnya menuntun Leo pergi ke kota terdekat yang ada di sana.
__ADS_1
Dalam perjalanan, Leo baru menyadari betapa anggun dan menawannya paras gadis tersebut.
Rambut hijau jamrud gadis itu berkibar saat mereka berlari di bawah kegelapan malam. Selain itu mata yang selaras dengan rambutnya ditambah kulit putih bersih miliknya menambah keanggunan gadis tersebut.
Melihatnya, Leo teringat akan Ariel yang ditinggalkannya.
Ia hanya melihat sekilas dan samar tetapi, ia yakin Ariel masih hidup saat ini. Hanya saja, siapa yang berkorban untuknya dan siapa yang telah menahan tombak itu sebelumnya?
Saat Leo hanyut dalam pikirannya itu, mereka telah tiba di sebuah Kota unik yang langsung memikat perhatian Leo.
Dengan desain dan bentuk yang tidak asing baginya, Leo memandangi kota itu dengan penuh kerinduan, layaknya ia seperti pulang kembali ke kampung halamannya.
"Apa yang kau pikirkan?" ucap gadis itu sambil memiringkan kepalanya ke arah Leo.
Leo hanya menggelengkan kepalanya sambil terus mengikuti langkah gadis tersebut.
***
__ADS_1
Sementara itu, di Euthorea, terjadi sebuah kejadian yang membuat kehebohan di seluruh Kerajaan.
"Terima kasih, terima kasih!" Seorang pria paruh baya nampak menangis sambil memeluk kaki seorang gadis muda yang menunduk di sebelahnya.
"Berdirilah, tidak apa-apa." ucap gadis tersebut.
Orang-orang menyebutnya Malaikat yang diturunkan oleh Tuhan untuk membantu mereka.
Dengan rambut emasnya yang berkilau di bawah matahari, gadis itu melanjutkan perjalanannya untuk menyembuhkan semua orang yang dilanda wabah di Kerajaan tersebut.
Sudah tidak terhitung berapa banyak nyawa yang diselamatkan olehnya, bahkan yang sudah sekarat dan terlihat tidak memiliki kesempatan sekalipun berhasil disembuhkan sepenuhnya.
Oleh karena itu, orang-orang memanggilnya Sang utusan.
————
Thanks For Reading!
__ADS_1
————