
-Sring!
Denting pedang terdengar saat Leo mengayunkan pedangnya.
Di atas langit, terlihat sesosok pria sedang melayang terbang mendekati pemuda yang terjatuh di hadapan Leo.
"Kau pikir apa yang kau lakukan anak muda?"
Suaranya dingin, tetapi, itu tidak cukup untuk mengintimidasi Leo.
"Tidak ada. Aku hanya mencoba pergi."
Mendengar jawaban singkat dari Leo, pria itu sepertinya semakin naik darah.
Kemudian ia melihat ke arab pemuda yang saat ini berada di sebelahnya.
"A-Ah! Paman! Kau akhirnya datang! Orang ini, orang ini mencoba untuk menyaki—"
-bresss....
"Eh...?"
Situasi yang sulit dipercaya tiba-tiba terjadi di hadapan Leo.
Pemuda yang tadinya mengganggu Leo kini tergeletak tak berdaya di tanah.
"Kau memalukan, bukan hanya tidak berguna, kau bahkan membuat noda di sana-sini. Aku tidak tahan lagi melihatnya."
Melihat kejadian itu, Leo cukup puas dan membawa Gemini pergi menjauh dari lokasi kejadian.
Hanya saja...
-Step!
Pedang menancap di dekat kaki Leo dan menghentikan langkahnya.
Ia berbalik dan melihat pria itu menatapnya dengan dingin.
"Siapa bilang kau boleh pergi?"
Leo menatap diam pria itu dan mengambil kembali pedangnya.
"Haha... hahaha! Kau sudah mempermalukan nama keluarga kami, meskipun si tidak berguna ini yang memulainya, kau tetap tidak boleh pergi dan harus menebus kesalahanmu."
"Hei! Apa-apaan dengan akal sehatmu itu? Apa kau masih waras?"
Gemini memprovokasinya dan sebuah angin tajam melayang ke arahnya.
Leo mengangkat pedangnya dan menarik Gemini ke belakangnya.
"Hoo... menarik, kau bisa menahan itu rupanya."
Melihat Leo dengan mudah menahan serangannya, pria itu kembali tersenyum dan kali ini melesat terbang untuk menyerang Leo.
Leo mendorong mundur Gemini dan menahan serangan demi serangan yang diluncurkan oleh pria itu.
denting besi semakin keras terdengar dan orang-orang mulai menjauh dari lokasi perkelahian.
Leo terus menatap orang itu dengan bosan dan mulai membalas serangannya sedikit demi sedikit.
"Kuh!"
"Hentikan ini. Kita tidak punya masalah apapun, aku hanya ingin pergi dari sini."
Leo menegaskan sambil mengarahkan pedangnya ke leher pria itu.
Tetapi, pria itu kemudian tertawa dan membalas ucapannya.
"Hahaha! Kau benar-benar menarik, murid dari sekte mana kau? Aku belum pernah mendengar namamu, jadi kau seharusnya dari sekte kecil, kau mungkin berbakat tapi, sayangnya, aku lebih kuat!"
Pria itu melepaskan Qi-nya dan memukul pedang Leo.
__ADS_1
Leo yang terkejut segera melompat mundur dan mengambil ancang-ancang.
"Hahaha! Sesali perbuatanmu dan matilah anak muda!"
Orang itu berteriak dan menyerang Leo dengan tinjunya.
Leo yang tidak berpengalaman dalam pertarungan tangan kosong tentu saja tidak diuntungkan, hanya saja, dia memiliki trik lain.
-Fwit!!
Dengan siulan singkat yang dibuat oleh Leo, Sesosok singa besar tiba-tiba muncul dan menghentikan serangan pria itu.
Pria itu terkejut serangannya dihentikan dan buru-buru melihat apa yang menghentikan serangannya.
"T-tidak mungkin! Kau! K-Kau...!?"
Matanya melebar sementara itu tubuhnya sedikit bergetar, Leo bisa melihat ini dan membuka suaranya.
"Sepertinya kau sudah tidak untuk melanjutkan pertarungan, mari kita akhiri sampai sini saja."
Leo mengangkat suaranya tanpa minat.
Sementara pria itu langsung pergi dengan ketakutan setelah melihat singa itu.
"Hmm?"
Leo kemudian melihat ke arah singa yang kini terlihat sedang menguap.
"Kau boleh kembali."
"Ha? Apa-apaan itu? Kau pikir, kau bisa memerintahku sesuka hatimu?"
Singa itu memprotes.
Tapi Leo masih menatapnya tanpa minat dan mengungkapkan isi kepalanya.
"Bukan begitu, tapi kau menakuti orang-orang."
"Yah, manusia memang makhluk lemah sedari dulu, selain tuanku, tidak ada makhluk yang pantas untuk kuperhatikan."
"Ya, ya. Sekarang pergilah."
"Tch."
Dengan sikap tak puas, Singa besar itu pergi meninggalkan tempat itu.
"K-kau lihat itu kan?!"
"Singa itu...!!!"
Sementara orang disekitarnya mulai heboh, Leo melihat ke arah Gemini menariknya mendekat.
"Maaf."
Leo meminta maaf. Gemini yang tidak mengerti dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak, tidak. Kenapa kau minta maaf?"
"Apa maksudmu?"
"Ha? Bukankah harusnya aku yang minta maaf? Kalau bukan karenaku, kita pasti tidak akan terkena masalah."
"Tidak, itu karenaku, andai aku lebih bersabar sebelumnya."
Leo menegaskan kesalahannya, masalah kali ini murni karena kesalahannya memprovokasi pemuda sebelumnya.
Meskipun mereka tidak bersalah, Leo bisa saja meminta maaf dan mungkin mereka bisa melanjutkan perjalanan mereka lebih cepat sebelumnya.
"Tidak, tidak. Kau lihat sendiri 'kan apa yang dilakukan si brengsek itu?" Gemini menunjuk mayat pemuda sebelumnya.
"Meskipun kau meminta maaf, dia belum tentu akan melepaskanmu."
__ADS_1
Ya, ucapan Gemini ada benarnya, Leo menyadari ini tapi tetap saja.
"Yah, kurasa kau benar."
"Ya! Selain itu, lupakan ini, ayo pergi!"
Gemini dengan cepat menangkap tangan Leo dan menariknya pergi.
Mereka masih memiliki tempat yang harus dikunjungi.
Jadi dengan penuh semangat, Gemini bergegas menariknya lebih jauh ke dalam kota.
***
Di dalam kota, Leo dan Gemini membeli dan mencoba banyak hal.
Mulai dari menbeli makanan, senjata, sampai ke pakaian dan juga peralatan-peralatan yang mereka rasa berguna.
Melihat hal ini, Leo kemudian melanjutkan perjalanannya.
Dengan Gemini di sebelahnya, Leo berjalan santai mengelilingi kota.
Perasaan ini sudah lama tidak ia rasakan.
"Sudah cukup lama ya, sejak terakhir di kota Sodcca..."
Leo segera menoleh ke arah Gemini saat mendengar gumaman gadis itu.
"Kau bilang apa tadi?"
Leo sangat terkejut dengan ucapan gadis itu, pasalnya nama tempat yang disebutkan gadis itu adalah nama tempat yang tidak asing bagi Leo.
"Hmm...? Tidak, tidak ada. Aku hanya teringat mimpiku, suasananya mirip seperti sekarang. Saat itu aku sedang bersama dengan seorang pemuda dan kami membeli banyak barang, bedanya tidak ada cincin ruang atau hal-hal seperti kantung ruang di sana."
Leo menatap gadis itu dalam diam, dia salah paham terhadap sesuatu.
Entah apa yang ada di pikirannya, tapi dia mengira dia melihat seseorang yang seharusnya sudah tak ada lagi.
'Yah, itu tidak mungkin.'
Saat Leo dan gadis itu melanjutkan perjalanannya, keduanya kini tiba di pusat kota.
Sambil menyisir ke sekeliling kota, Gemini terlihat sangat puas dan tersenyum bahagia.
"Sudah lama aku tidak merasa begini."
Dia mengungkapkan perasaannya.
Leo hanya diam menatapnya dari samping.
Tapi, dia juga memiliki perasaan yang sama dengan gadis itu, sudah cukup lama sejak dia bisa bersantai seperti ini.
Memang ada beberapa masalah, tapi mereka bisa dengan mudah mengatasinya.
"Ya, pemandangan kota di sore hari seperti ini memang sangat indah, entah kenapa aku jadi sangat merindukan sesuatu saat melihatnya."
Leo mendengarkan perkataan gadis itu dengan damai.
"Biasanya aku selalu menghabiskan waktu seperti ini jika guru pergi, tapi, tidak seperti hari ini, aku selalu merasa kesepian."
Gemini menundukkan wajahnya.
"Aku selalu merasa merindukan seseorang, padahal aku tidak pernah bertemu siapapun selain Guru."
"Yah, untungnya hari ini ada kau! Aku jadi tidak kesepian lagi. Tetap temani aku dan jangan tinggalkan aku, oke!" Gemini tersenyum dan terlihat sangat puas.
Leo kemudian mengangguk samar-samar, dia mengetahui hal ini tidak mungkin untuknya, karena pada akhirnya dia harus kembali.
"Yah, kalau begitu. Ayo pulang!"
Gemini mengajak Leo pulang, tapi mereka dihentikan oleh segerombolan orang berbaju hitam.
__ADS_1
"Apalagi kali ini." ucap Leo dengan wajah buruk.