
Hari telah berganti dan matahari kembali menyinari tempat yang Leo singgahi.
Leo dan Gadis itu memilih menginap di sebuah penginapan setelah gadis itu dengan susah payah membujuk Leo yang terus menolak tawarannya itu, hanya sampai Leo melihat sendiri betapa mengerikannya Beast yang ada di hutan barulah ia menguburkan niatnya untuk tidur di hutan dan menerima tawaran gadis itu meskipun merasa enggan.
"Pagi, bagaimana tidurmu tadi malam?" Gadis itu datang sambil melambaikan tangannya ke arah Leo.
Leo yang masih mengganti pakaiannya hanya menatap datar gadis tersebut layaknya seekor pemangsa yang menatap mangsanya tanpa minat.
"Tidak adakah etika yang mengajarkan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu di sini? Aku bahkan belum selesai berganti pakaian dan kau sudah masuk sesuka hatimu seperti ini?" ucap Leo yang merasa terganggu dengan sifat gadis berambut hijau tersebut.
Gadis itu hanya bersiul dan berlagak seperti tidak mengetahui apa-apa, sejujurnya ia merasa malu melihat tubuh pemuda itu sebelumnya, tapi ia memilih menutupi ekspresinya dengan pertanyaan yang diberikan Leo sebelumnya.
Gadis itu berdeham sebelum akhirnya mengomentari, "Tubuhmu tidak buruk, kupikir kau telah tumbuh dengan baik."
Ucapannya itu justru mengundang heran di benak Leo, adakah gadis yang lebih vulgar dari yang di hadapannya ini? Siapa yang merawatnya sampai menjadi gadis seperti ini? Memikirkan itu membuat Leo menyayangkan paras dan kesan pertama yang ia dapatkan dari gadis itu.
"Kau memang aneh, selain itu, mengapa juga ada gadis rupawan sepertimu yang memungut dan bahkan membiayai orang asing sepertiku? Seberapa keraspun aku memikirkannya, aku tidak bisa menemukan jawabannya." Leo mencoba mengenakan pakaian lamanya yang selalu ia pakai sebelum akhirnya ada sesuatu yang menganggunya.
Sebuah aroma tidak sedap menusuk penciuman Leo hingga membuatnya mual karena tidak tahan dengan bau tersebut.
"Baju ini sudah tidak layak pakai lagi, sepertinya aku harus membeli yang baru kali ini." ucap Leo sambil melempar baju itu ke atas tempat tidurnya.
__ADS_1
Leo tidak menyadarinya, tetapi, gadis yang berada di sebelahnya itu masih belum beranjak dari tempatnya, melihat pemuda itu kembali menunjukkan tubuh bagian atasnya, tentu saja terlalu berat bagi gadis tersebut.
"Setelah kupikirkan, bagaimana aku harus memanggilmu? Kau sudah menolongku sebelumnya, tidak mungkin aku akan diam saja dan tidak mengetahui namamu sampai akhir." Leo bertanya setelah menyadari bahwa mereka belum berkenalan sebelumnya.
Tidak ada jawaban dari gadis tersebut, Leo yang merasa diabaikan segera berbalik dan menghadap ke arah gadia tersebut, hanya untuk melihat wajahnya yang berubah kemerahan dan ekspresi aneh yang gadis itu tunjukkan.
"Apa yang kau pikirkan?" ucap Leo dengan datar, ia tidak mengerti terlalu banyak tentang wanita, sehingga hanya bisa bertanya.
Gadis itu memalingkan wajahnya dan menjawab dengan gugup, "A-Ah, tidak ada. A-Aku tidak memikirkan apa-apa" ucap gadis itu sambil menutupi wajahnya yang memerah.
Leo hanya menggelengkan kepalanya sambil mencari pakaian lain yang bisa ia dapatkan disekitar sana, hanya saja tidak ada yang sesuai ukuran tubuhnya.
Merasa tidak kuat dengan situasi di depannya, gadis itu segera mengeluarkan sebuah pakaian dari ruang hampa dengan tangannya, Leo yang menyaksikan ini secara langsung berdecak kagum dan bahkan sempat menaikan kewaspadaannya selama beberapa saat.
Leo segera menerima pakaian itu dan mengenakannya, anehnya, ukuran pakaian tersebut segera menyesuaikan ukuran tubuh Leo dengan sendirinya.
Leo yang sudah terlalu banyak kagum hanya bisa menerima dengan datar meskipun di dalam hatinya masih menyimpan rasa kagum yang besar.
"Bagaimana cara kerja pakaian ini sampai bisa menyesuaikan ukuran tubuh penggunanya?" tanya Leo saat telah selesai mengenakan pakaian tersebut.
Pakaian putih dengan lengan panjang dan kesan oriental yang serupa dengan yang digunakan orang-orang di dunia itu pada umumnya, kini terlihat sangat gagah di tubuh pemuda tersebut.
__ADS_1
Dengan paras alaminya yang sudah di atas rata-rata, Leo segera terlihat semakin menarik dengan pakaian itu di tubuhnya.
"Pakaian ini cukup nyaman, hanya saja terasa sedikit mengganggu di bagian lengannya" Leo mengomentari pakaian yang diberikan gadis itu sebelumnya, sementara gadis itu masih terdiam membeku melihat Leo yang langsung terlihat cocok di dalam balutan kain putih tradisional tersebut.
"Setelah ku ingat lagi, bukankah kau belum menyebutkan namamu sebelumnya?" Leo menatap ke arah gadis itu dan mata mereka segera bertemu.
Gadis itu hanya memerah sambil tersenyum, entah apa yang ia pikirkan Leo tidak mengetahuinya, hanya saja Leo sadar itu pasti bukan sesuatu yang baik dilihat dari ekspresi wajahnya.
"Kau mendengarku? Aku sudah menanyakan ini dua kali sebelumnya, siapa namamu?" ucap Leo kali ini dengan suara yang sedikit ditinggikan.
Gadis itu segera tersadar dan menundukkan sedikit kepalanya, "Ah, maafkan aku. Aku tidak mendengarmu sebelumnya."
"Baiklah, jadi siapa namamu?" Leo kembali bertanya.
Gadis itu tersenyum sebelum kemudian memperagakan etika berkenalan yang digunakan di Euthorea sebelum akhirnya menyebutkan namanya, "Maafkan kekasaranku sebelumnya, namaku adalah Gemini, kau bisa memanggilku Gemi kalau kau menginginkannya"
Leo yang melihat etika berkenalan dan bahkan nama yang tidak asing di telinganya segera tersentak, berapa banyak lagi kejutan yang harus ia temukan di sini?
"K-Kau?" ucap Leo sambil membesarkan pupil matanya.
————
__ADS_1
Thanks For Reading!
————