Guardians : Legend Of Leo

Guardians : Legend Of Leo
Ch.26 Singa Kecil


__ADS_3

Leo membuka matanya, tubuhnya terasa sangat sakit. Hal terakhir yang ia ingat hanyalah kekuatannya ditarik dalam jumlah besar, sampai pada titik terendah dan membuatnya kehilangan kesadaran.


Jika dalam keadaan normal, kejadian tersebut akan sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kematian pada korbannya.


"Apa yang terjadi?"


Leo melihat ke arah Ariel, gadis itu kini tengah tertidur ditangan kanannya. Dan membuatnya tidak sampai hati untuk membangunkannya.


Setelah memulihkan sedikit staminanya, dan rasa sakit di sekujur tubuhnya menghilang.


Leo kembali melanjutkan tidurnya.


Keesokan paginya, saat matahari masih mencoba naik untuk memberi sinarnya pada dunia.


Seekor singa kecil mencakar wajah pemuda itu dan berhasil membangunkannya.


Leo terkejut, ia tidak pernah melihat singa kecil itu sebelumnya, tetapi singa itu nampak tidak asing di matanya.


"Hey, bocah kecil! Mau sampai kapan lagi kau tertidur!? Kau sudah bisa bangun sekarang!"


Leo menaikan sebelah alisnya sambil memperhatikan singa kecil yang terus mencakar-cakar tubuhnya.


"Anak siapa ini? Mungkinkah kau anak dari Beast milikku?"


Leo menatap heran singa kecil tersebut, sementara singa kecil itu dengan suara mungilnya terus menerus berteriak kesal.


"Apa? Kau mau susu?"


Pertanyaan Leo berhasil menaikkan emosi singa kecil tersebut sampai ke puncaknya.


"Kau mau aku panggang atau aku tarik kembali energi kehidupanmu?"


Aura dingin menyebar saat singa kecil itu mengucapkannya sambil menatap dingin Leo.


Pemuda itu masih belum bisa memahami maksud singa kecil tersebut.


"Baiklah, sekarang jawab pertanyaanku, siapa kau?"


Leo mengangkat tubuh mungil Singa tersebut sambil mengelus lembut puncak kepalanya.


Leo cukup terkejut, ternyata bulu yang dimiliki singa kecil itu terasa sangat lembut saat menyentuh tangannya.


Singa kecil itu menggigit tangan Leo, dan mengerang kesal.


"Bocah bodoh! Ini aku! Beast Singamu! Aku begini karena menyelamatkanmu, dasar bocah tak tahu terima kasih!"


Ia segera meninggalkan Leo yang kini menatap heran singa kecil tersebut.


"Ia Beastku? Sejak kapan?"


Ucapan Leo berhasil membuat Ariel tertawa geli, setelah mendengar keributan keduanya, ia terbangun dari tidurnya, tetapi memilih tetap mendengarkan keduanya sambil berbaring di tangan kanan Leo.

__ADS_1


Ia sendiri tidak sadar kapan ia tertidur di tangan kanan pemuda tersebut.


"Leo, ia menjadi begitu setelah menyelamatkanmu sebelumnya"


Ariel tak kuasa menahan tawanya, ekspresi bingung pemuda dihadapannya benar-benar membuatnya tidak kuasa menahan tawanya.


"Leo, jika kau tidak percaya coba saja kau panggil dia dengan caramu memanggilnya seperti biasa"


Leo menyetujui saran gadis tersebut dan memanggil Beastnya tersebut, tanpa ia duga singa kecil itu datang dengan ekspresi wajah yang datar.


Ariel kembali tertawa geli melihat keduanya, hubungan mereka memang cukup akrab untuk seorang Master dan Beastnya.


"Apa? Kenapa kau memanggilku sekarang?"


Wajah Beast itu tetap tidak berubah, ia masih sangat kesal dengan perlakuan Leo sebelumnya.


Melihat Beastnya benar-benar menjadi seekor singa kecil, membuat Leo kebingungan untuk memberi alasan ia memanggil Beast tersebut.


Dengan cepat Ariel menarik pelan tubuh Singa kecil tersebut.


"Aku yang menyuruhnya memanggilmu kesini, aku ingin dia percaya kalau kau benar-benar Beastnya"


Gadis itu menahan tawanya saat melihat ekspresi lucu di wajah singa kecil tersebut.


Ia benar-benar terlihat lucu ketika menunjukkan ekspresi datar di wajah imutnya.


"Apa hanya itu? Aku akan pergi beristirahat jika hanya itu"


"Jangan begitu, ayo kesini!"


Ariel menarik tubuh mungil Beast tersebut ke dalam dekapannya, sebelum ia mulai mengelus singa kecil tersebut.


Singa kecil itu akhirnya takluk ketika Ariel mengelus lembut kepalanya dan bagian bawah lehernya.


Ariel sendiri cukup terkejut ketika mengelus bulu lembut singa tersebut. Ia bahkan terlihat sangat menikmati setiap waktunya bersama Beast kecil itu.


"Ngomong-ngomong siapa nama Beast kecil ini, Leo?"


Pertanyaan Ariel membuat Leo tertegun sesaat, ia baru mengingat belum menanyakan namanya, apalagi memberi Beast itu nama, saat di awal mereka bertemu.


"Aku belum memberinya nama..."


Leo memalingkan wajahnya kepada Beast kecil itu, ia memberi isyarat agar Beast itu memberitahu namanya.


Beast itu hanya diam mengabaikan Leo dan terus menikmati elusan lembut yang diberikan Ariel padanya.


Leo memutar kepalanya, mencari jawaban yang tepat untuk diberikan pada gadis tersebut.


"Bagaimana jika kita beri dia nama Singa Kecil? Lihat betapa imutnya dia?"


Ariel mengangkat tubuh mungil singa tersebut tanpa memperhatikan ekspresi Beast itu sedikitpun.

__ADS_1


Leo terlihat memikirkan sesuatu di dalam kepalanya, ia menyetujui saran gadis itu tidak lama setelahnya.


Singa kecil itu terlihat tidak setuju dengan keputusan Tuannya itu dan mulai memberontak.


"Salahmu sendiri tidak mau memberitahu namamu sebelumnya"


Singa kecil itu menyesali keputusannya dan meneriakkan namanya dengan keras.


"Pride! Namaku Pride!!! Jangan panggil aku dengan nama menyedihkan itu!"


Suara mungil Singa kecil tersebut berhasil membuat semua yang ada disana terhibur melihat sikapnya yang benar-benar cocok dengan wujudnya itu, tidak ada yang akan percaya jika mereka bilang sebelumnya, singa kecil itu adalah Beast Singa yang sangat besar yang menjaga mereka sebelumnya.


Ditengah keributan mereka bertiga, tiga orang gadis datang mendekati mereka.


Ketiga gadis tersebut datang untuk mengucapkan terima kasih pada Leo, ketiga gadis itu adalah dua orang adik dan kakak yang ia selamatkan di hutan yang menuju bagian dalam desa tersebut, sedangkan satunya lagi adalah gadis yang ia selamatkan saat sedang menyusuri bagian utama desa yang sudah terbakar.


Ketiganya menundukkan kepalanya pada Leo, mereka sebenarnya ingin mengenal lebih dekat pemuda tersebut, tetapi setelah melihat hubungannya dengan gadis yang ada dibelakangnya, mereka mengurungkan niatan tersebut.


"Terima kasih pada Tuan pahlawan karena telah menyelamatkan kami sebelumnya, kami tidak akan melupakan jasa Tuan Pahlawan"


Ketiga gadis tersebut dengan cepat pergi setelah berterima kasih pada pemuda itu, mereka merasakan detak jantung mereka berdetak dengan cepat saat bertatap muka dengan pemuda tersebut.


Leo mengalihkan pandangannya saat ketiga gadis tersebut meninggalkannya, ia tahu jika ia terlalu lama menatap mereka, ia akan mendapatkan masalah yang cukup besar.


Leo kemudian kembali menatap gadis yang berada dihadapannya saat ini.


Gadis itu masih terlihat tersenyum sambil bermain dengan Singa Kecil di tangannya.


Situasi kembali tenang, dengan cepat hari tidak terasa sudah berlalu.


~•~


Di sebuah hutan di dekat Kota Breathanea, terlihat seorang Kakek tua dengan langkahnya yang sempoyongan berjalan riang menuju reruntuhan kota tersebut, di pinggang kakek tersebut terlihat sebuah gagang pedang yang terukir ukiran mawar. Ia berjalan dengan santai saat banyak Ashura bergerak cepat ke arahnya.


"Heh! Tidak bisakah kalian menghentikan itu?! Aku sudah bosan menghadapi kalian, datangkan Raja kalian seperti yang kalian lakukan pada pemuda itu, aku ingin yang seperti itu!"


Para Ashura itu tidak menghiraukannya dan tetap mencoba menyerangnya.


Kakek itu menghela nafasnya dengan bosan.


Dengan cepat semua Ashura yang ada disana terbelah menjadi dua bagian.


Sementara kakek itu melanjutkan langkahnya dengan santai menuju reruntuhan kota tersebut.


————


**Dukung Author dengan menekan tombol Like, Fav, dan Komen di Kolom Komentar!


Jangan lupa untuk memberi Like pada chapter sebelumnya juga, ya!


Sampai jumpa di Next Chapter**!

__ADS_1


__ADS_2