Guardians : Legend Of Leo

Guardians : Legend Of Leo
Ch.32 Ahli Pengobatan


__ADS_3

Leo menggendong gadis tersebut dengan hati-hati, ia tidak tahu apa yang sudah ia lakukan sebelumnya, tetapi saat ini ia harus menyelamatkan gadis yang selalu menemaninya tersebut.


Tanpa menunda lebih lama, pemuda itu berlari dengan sangat cepat ke arah kota yang berada tidak terlalu jauh dari desa tersebut.


Sambil berlari dengan cepat, ia terus memperhatikan wajah gadis di tangannya tersebut, sesekali perasaan sesak mengisi hatinya dan mulai berubah secara perlahan menjadi kesedihan.


Dengan perasaan sedih yang menusuk hatinya, Leo membawa Ariel ke kota untuk merawat lukanya.


Sambil berharap gadis tersebut selamat, Leo menambah kecepatan geraknya dan bergerak lurus ke arah kota tanpa memikirkan jalur panjang yang tercipta karenanya.


Tak berselang lama, mereka sudah tiba di hadapan gerbang kota.


Melihat gerbang kota sudah di depan matanya, Leo menurunkan kecepatannya menyamai kecepatan lari manusia pada umumnya.


Tanpa berpikir panjang pemuda itu mencari Rumah Tabib, atau Ahli Pengobatan hebat yang ada di sana.


Satu per satu Rumah Tabib dan Ahli Pengobatan hebat ia datangi dan masuki, tetapi tidak ada dari mereka yang mengaku bisa menyembuhkan Ariel, entah itu karena memang tidak bisa atau karena ragu Leo tidak akan bisa membayarnya.


"Seratus Eutho! Akan kubayar kau Seratus Eutho! Aku hanya ingin kau menyembuhkan gadis ini!" Leo berkata lirih,


Ia sudah tidak tahu berapa lama lagi gadis itu bisa bertahan, jika tidak segera disembuhkan, besar kemungkinan gadis dihadapannya akan kehilangan nyawanya.


"Maafkan aku nak, kami memang tidak bisa menyembuhkan gadis ini. Dia sudah terkena Racun Api tingkat tinggi, bahkan baru kali ini kami menerima kasus penyebaran Racun Api seganas ini, penyebabnya pasti tidak sederhana"


Ahli Pengobatan yang Leo datangi menggelengkan kepalanya, ia mengetahui pasti, gadis di hadapannya sudah tidak memiliki harapan hidup sama sekali. Bahkan jika ia berhasil hidup sekalipun, ia akan terus merasakan rasa sakit yang berasal dari Racun Api tersebut.


Mendengar hal itu, Leo mulai kehilangan harapannya. Ia tak menyangka di perjalanannya kali ini, ia harus menghadapi kejadian seperti ini.


Dengan putus asa ia mencoba bertanya pada Ahli Pengobatan tersebut, berbagai pertanyaan untuk mengangkat Racun Api di berikan oleh pemuda tersebut.


Melihat tekad pemuda itu, Ahli Pengobatan tersebut memberitahu hal yang bisa ia lakukan untuk mengangkat Racun Api tersebut.


"Racun api bisa di angkat jika diberi elemental Aura, Aura dengan atribut Air, maupun diserap oleh Pengguna Aura Api..."


Pemuda itu mendengarkan penjelasan yang di berikan oleh Ahli Pengobatan tersebut dengan seksama.


Setelah merasa cukup paham ia melakukan sesuatu yang membuat Ahli Pengobatan tersebut menaikan sebelah alisnya.


Pemuda itu mencoba menarik Racun Api yang ada di tubuh gadis yang ia bawa tersebut.

__ADS_1


Terlihat ia mencoba menyerap Racun Api yang ada di tubuh gadis tersebut, dan perlahan suhu di sekitar mereka naik beberapa derajat lebih panas.


Sambil terus memperhatikan kejadian tersebut, Ahli Pengobatan itu terus dibuat terkejut oleh Leo.


Setelah dirinya memberi tahu tentang garis besar cara menyembuhkan gadis tersebut, pemuda itu langsung mencoba menariknya dan benar-benar berhasil mengeluarkan Racun Apinya dengan sempurna.


Racun api yang ditarik oleh pemuda tersebut perlahan membentuk gumpalan api yang memiliki hawa mencekam.


Perlahan hawa mencekam itu semakin melebar dan mengejutkan semua orang yang ada di sana.


"Apa-apaan Racun Api ini!?"


Ahli Pengobatan itu tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, menurutnya untuk dapat membuat Racun Api seperti itu, pengguna setidaknya harus memiliki atribut api yang sangat kuat.


Leo melihat ke arah Racun Api tersebut, ia sedikit kebingungan melihat hawa mencekamnya itu, setelah beberapa lama, ia baru menyadari hawa mencekam itu benar-benar mirip seperti milik makhluk yang mencegahnya keluar dari ruang kesendiriannya.


Perasaan marah segera mengisi hati Leo, ia tahu semua yang terjadi di sana dan yang membuat Ariel jadi seperti ini, tidak lain adalah makhluk yang mencegahnya keluar tersebut.


"Leo..."


Suara lembut seorang gadis terdengar masuk ke telinga Leo.


Leo mengalihkan pandangannya ke arah gadis tersebut. Segera, ia di sambut sentuhan lembut di pipinya.


Gadis itu hanya tersenyum menanggapi perkataan pemuda tersebut.


"Hei, lebih baik kau menolong Singa Kecil..."


"Dia sudah berkorban banyak untukmu, sekarang dia tengah terluka di bukit tersebut"


Mendengar perkataan Ariel membuat Leo teringat hal yang ia lakukan beberapa waktu sebelumnya.


Ia melepaskan tangannya dari gadis tersebut.


"Tenanglah, aku masih bisa merasakan dia baik-baik saja. Aku akan segera menjemputnya setelah merawatmu disini."


Leo mengelus lembut puncak kepala gadis tersebut.


Setelah beberapa lama, Leo memutuskan membawa Ariel keluar dari rumah Ahli Pengobatan tersebut.

__ADS_1


Tidak lupa, sebelum pergi, ia berterima kasih pada Ahli Pengobatan tersebut. Menurutnya, jika Ahli Pengobatan itu tidak memberitahunya, Ariel mungkin sudah terlambat untuk diselamatkan.


Setelah berterima kasih dan berpamitan, Leo melanjutkan langkahnya sambil membawa Ariel dalam dekapannya.


Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Leo membawa Ariel dengan lebih hati-hati dari sebelumnya.


Sambil beristirahat di dekapan pemuda tersebut, Ariel sesekali menatap wajah pemuda itu.


Tidak ada hal lain yang ia inginkan selain bisa terus bersama pemuda itu selamanya.


"Ariel, maafkan aku. Karena kesalahanku, kau jadi terluka seperti ini. Aku minta maaf"


Ariel menatap heran pemuda tersebut. Ia tidak tahu mengapa pemuda itu mengatakan hal tersebut kepadanya.


Ariel menarik leher pemuda tersebut dan mengecup lembut pipi pemuda itu.


"Hei, itu bukan salahmu. Kau tidak sadar saat melakukannya, jadi itu bukan salahmu. Aku tahu waktu itu, yang menyerang bukanlah dirimu yang sekarang, tapi itu kemungkinan adalah hal lain yang mencoba mengambil alih tubuhmu, benar bukan?"


Leo hanya menatap Ariel dengan heran, ia mencoba mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kalimat yang keluar dari mulutnya.


Senyum geli terukir di bibir Ariel, saat melihat raut wajah pemuda itu. Terlihat pemuda itu kebingungan untuk menjawab pertanyaannya.


Setelah puas bercanda bersama Leo, Ariel memilih memendamkan wajahnya ke tubuh pemuda tersebut sambil mengistirahatkan tubuhnya yang sudah kelelahan.


Leo menatap gadis tersebut sejenak, sebelum perlahan menaikkan kecepatan geraknya dan kembali ke reruntuhan desa.


***


Sesaat sebelumnya, terlihat seorang kakek tua dengan rambut putih panjang datang ke desa tersebut, ia cukup terkejut ketika melihat keadaan desa tersebut sudah tidak jauh berbeda dengan keadaan kota Breathanea.


"Anak ini, jika tidak diawasi dia bisa menjadi kehancuran bagi umat manusia, aku harus ikut mengawasinya mulai sekarang"


Kakek itu berkata dengan dingin sambil menyisir reruntuhan di sekitarnya.


Setelah menyisir pandang beberapa saat, ia menemukan sesuatu di antara reruntuhan tersebut.


"Hmm? Pride?"


Kakek itu menaikan sebelah alisnya saat mendapati seekor singa kecil yang ia kenal tengah terbaring lemah di antara reruntuhan tersebut.

__ADS_1


————


Jangan lupa untuk menekan tombol Like, Fav, dan Komen di Kolom Komentar!


__ADS_2