
Leo berlari dengan cepat menuju Aula Tetua, ia tak ingin benda satu-satunya yang menjadi kenangan Rose menghilang dari tangannya. Setidaknya dengan pedang itu ia bisa mengenang Rose yang selalu disayanginya.
"Sial! Dimana aku menjatuhkannya!"
Leo berteriak keras sambil terus berlari menuju Aula Tetua.
20 menit setelah Leo berlari, ia sampai didepan gerbang Aula Tetua. Ia bergegas masuk dan kembali ke ruangannya dan mencari pedang itu ke segala sudut ruangan.
Leo terus mencari pedang itu, mulai dari bawah kasur, dalam lemari, di sekitar dinding, maupun di tempat pajangan yang ada di ruangan tersebut.
"Ah, mungkin Senior Taurus mengetahui hal ini! Aku harus mencarinya!"
Putus asa tidak mendapatkan apa yang ia cari, Leo memutuskan untuk bertanya pada Taurus dan mencari Pria berbadan Besar itu.
Leo berkeliling mencari Taurus diseluruh Aula Tetua, tidak ada sedikitpun tanda dari Taurus hingga akhirnya Leo pergi kembali ke bagian Tengah Aula Tetua.
Di bagian tengah Aula Tetua Leo samar samar mendengar suara dentingan logam yang terdengar seperti pertarungan, awalnya Leo tak terlalu memperdulikannya dan hanya mengganggap mungkin ada seseorang yang sedang berlatih pedang atau semacamnya. Sampai akhirnya gelombang kejut besar tiba-tiba menyebar di udara.
"Ini?! Ini milik Senior Taurus!"
Leo menyadari sesuatu yang buruk sedang terjadi dan segera berlari menghampiri lokasi gelombang Aura itu berasal.
~•~
Kota Sura, dipinggir Kolam Dewa.
Seorang pemuda dengan tubuh tinggi dan rambut pirang terlihat memejamkan matanya sambil memainkan alat musik tiup dipinggir kolam.
Alunan musiknya membuat apapun yang berada di sekitarnya menjadi lebih tenang saat mendengarnya. Bahkan hewan-hewan disana juga ikut berdatangan setelah mendengar alunan yang menyejukkan hati itu dari kejauhan.
Suasana Kolam Dewa saat itu menjadi sangat tentram dengan bunyi siulan burung dan alunan musik yang menyejukkan hati, disertai angin yang berhembus lembut, membuat hati siapapun yang berada disana menjadi hangat dan tentram.
Ditengah alunan itu seorang gadis datang membawa dua cangkir teh bersamanya.
"Kakak, minumlah dulu tehmu. Kau bisa memainkannya lagi setelahnya."
Gadis itu tersenyum manis ke arah pemuda yang memainkan musik tersebut.
"Kau memang selalu baik hati seperti ini, sudah kubilang sebelumnya cukup panggil aku, maka aku akan mengambil tehnya."
Pemuda itu tersenyum dan mengelus puncak kepala sang gadis.
Mereka adalah Aries, seorang Guardians yang juga teman baik Taurus dan adiknya Ariel. Walaupun Taurus dan Aries berbeda usia cukup jauh, keduanya berteman dengan sangat akrab bahkan sampai seperti saudara yang menjaga satu sama lain.
"Ariel, kau tahu, entah kenapa aku merasa sangat tidak nyaman sekarang ini. Aku seperti memiliki firasat buruk, entah apa yang sedang terjadi pada dunia ini."
__ADS_1
Aries kembali memejamkan matanya.
"Apapun yang terjadi kuharap dia tak apa-apa disana."
Ariel melihat raut wajah kakaknya yang menjadi sangat khawatir akan sesuatu.
"Kakak, jangan khawatir. Kak Taurus itu kuat, bahkan kau juga kesulitan menembus pertahanannya dengan sihirmu bukan?"
Ariel mencoba menenangkan kakak lelakinya itu.
Bagi Ariel kakaknya itu sangat jarang menjadi khawatir, biasanya ia akan percaya bahwa sesuatu akan berjalan lancar sesuai yang diharapkan. Melihat perubahan yang tiba-tiba pada kakaknya juga membuatnya menjadi ikut khawatir.
"Ah, Kau benar. Tetapi aku masih merasa sangat khawatir entah apa yang akan terjadi selanjutnya aku tidak tahu, tapi sepertinya itu akan menjadi suatu masalah yang sangat besar."
Aries menatap langit, seakan-akan sedang membaca sesuatu disana.
Perlahan cuaca cerah yang menghiasi langit di atas Kolam Dewa tertutup oleh awan hitam, sampai akhirnya meneteskan rintik-rintik air.
'Taurus, kuharap kau baik-baik saja saudaraku.'
Aries membawa adiknya kembali kerumah sebelum hujan mulai bertambah deras.
~•~
Leo sampai dihadapan pintu Aula Utama, sumber dari gelombang Aura yang ia rasakan.
Leo segera membuka pintu itu, aroma amis darah segera menutupi indra penciumannya.
Setelah membuka pintu barulah ia melihat jelas berapa banyak Tetua yang tewas sebab kejadian tersebut.
"Apa ini?!..."
Dada Leo terasa sesak, ingatannya saat di Hutan Terlarang kembali terngiang di kepalanya.
"Senior Taurus..."
Setelah menyisir pandang barulah Leo menyadari Taurus sudah dalam posisi terjatuh dan ada seorang pemuda yang mencoba membunuhnya.
Aura keemasan dengan cepat menutupi tubuhnya dan membentuk jirah ringan.
"Aura Raja Singa!"
Leo berteriak, sebelum berpindah posisi dengan cepat di sebelah pemuda itu.
Perpindahan Leo yang tiba-tiba membuat pemuda itu cukup terkejut, tetapi ada hal lain yang mengganggunya, sesaat setelah Leo berada didekatnya, pundaknya seperti dijatuhi beban berat dan membuatnya hampir berlutut pada Leo.
__ADS_1
Leo melihat ke arah Taurus dan melihat Pria besar itu kehilangan kesadaran, mungkin ia sudah terlalu lemah dan akhirnya jatuh pingsan karena tekanan Aura milik Leo.
Setelah melihatnya sesaat, Leo memindahkan Taurus bersama dengan Tetua Agung ke tempat yang lebih aman dari jangkauan Auranya, dan kenbali kehadapan pemuda misterius itu.
Pemuda itu sempat mendapatkan kembali keseimbangannya sesaat dan mencoba kabur sebelum Leo kembali muncul dihadapannya.
"Setelah yang kau lakukan, apakah kau ingin melarikan diri dari sini?"
Suara Leo terdengar datar dan tanpa emosi, tetapi di telinga pemuda itu suara Leo terdengar seperti terompet kematian yang siap mencabut nyawanya.
Ia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi suaranya seperti tertahan sesuatu dan beban dipundaknya terasa semakin kuat, sampai akhirnya ia jatuh berlutut dihadapan Leo.
Pemuda itu mengangkat kepalanya dan melihat Tatapan Leo. Ketakutan langsung terpancar saat ia melihat ke arah Leo, dipenglihatannya Leo terlihat seperti Sosok Agung, yang tidak bisa ia lawan. Ia merasa seperti berhadapan dengan Seorang Raja Yang diselimuti Kobaran Api.
"Apa sekarang kau ingin meminta ampun?"
Leo kembali membuka suaranya, dan sekali lagi pemuda itu jadi gemetar. Belum pernah sebelumnya ia berhadapan dengan kekuatan sebesar ini, dia bahkan bisa mengetahui Leo belum mengeluarkan sedikitpun kekuatan aslinya.
"A... Aku ingin.. memin..ta... ampun.. pa..da.. Raja.."
Pemuda itu mencoba mengucapkan kalimatnya, walaupun dengan susah payah dan terbata-bata ia akhirnya bisa mengucapkan kalimatnya.
Leo hanya menatap pemuda itu dengan dingin, membuat keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya.
"Pertanyaan terakhir, siapa yang mengirimmu?"
Pemuda itu mencoba sekeras tenaga mengucapkan kalimatnya, tidak ada keinginannya selain hidup dan pergi sejauh-jauhnya dari Leo.
"H-Hanz.."
Pemuda itu akhirnya berhasil mengucapkan kalimatnya, tetapi tidak berselang lama kepalanya meninggalkan tubuhnya, tanpa pemuda itu sadari ia telah kehilangan nyawanya.
"Kau bahkan tidak memberi ampun pada Tetua yang mencoba pergi darimu, orang sepertimu tidak layak untuk dibiarkan hidup."
Leo meninggalkan jasad pemuda itu dan membawa Taurus dan Tetua Agung keluar dengan cepat.
**Author is back:
Ok, kali ini saya kembali untuk menjelaskan beberapa hal.
yang pertama setelah saya baca ulang ternyata saya menyadari bahwa ada beberapa istilah yang belum dijelaskan di Ch.03
Tenaga: disini tenaga itu versi lebih lemahnya Aura, Jadi susunannya itu dimulai dari yang terendah Tenaga, Aura, Battle Spirit (nanti masih lama), Aura Evolution (Apalagi, masih lama sangat), Spirit Aura.
nah itu yang belum dijelasin, kalau ada yang pengen ditanyain lagi tanya dikomentar ya, nanti saya jawab, saya lupa soalnya apa lagi yang belum saya jelaskan.
__ADS_1
itu dulu di chapter ini, sampai nanti**!