
Laut besar Chindalle, Pelabuhan Kota Tresch.
Sekelompok besar pasukan kini tengah bersembunyi dan menyamar menjadi pekerja dari berbagai bidang profesi.
"Bos, kemana kita akan berangkat kali ini? Bukankah tugas kita disini sudah selesai?" ucap seorang prajurit yang menyamar sebagai pelayar.
Sang kapten kapal sekaligus orang yang disebut sebagai Bos itu hanya diam dan memperhatikan sesuatu di kejauhan laut.
"Kita akan berlayar sebentar lagi, pertempuran terakhir akan segera dimulai tak lama lagi" ucapnya sambil mendekati tepi kapal.
Semua orang yang melihat ke arah Bos mereka itu menjadi bingung, mereka tahu tugas mereka sudah selesai, tapi apa maksud dari Bos mereka tentang pertempuran terakhir.
"Bos?" seorang prajurit yang menyamar lainnya menegur sang Bos.
Pria itu hanya berdiam sambil merasakan hembusan udara yang melewatinya dengan lembut.
Sambil merentangkan kedua tangannya, ia membiarkan angin laut yang bertiup kencang menghempas ke tubuhnya.
Ia menarik nafasnya dan berbalik ke arah para anak buahnya, "Siapkan kapal untuk berlayar! Tujuan kita selanjutnya ..." ia menatap kembali lautan luas dibelakangnya sebelum berseru dengan lantang.
"Kota suci, Burgeyns!" serunya sambil menunjuk ke arah lautan luas di hadapannya itu.
***
Pertemuan antara Keluarga Kerajaan dan Aula Tetua telah sampai pada ujungnya, setelah membahas tentang beberapa hal, keduanya setuju untuk menganggap serius ancaman yang muncul di hadapan mereka itu.
"Bagaimana? Apakah Aula Tetua ikut serta dalam penaklukan pasukan Aliansi Besar ini?" Pria yang sebelumnya berbincang dengan Taurus itu kembali mengangkat suaranya.
"Yang mulia, tidak perlu bagi anda untuk meminta kami seperti ini, sebagai pelindung Kerajaan jelas kami akan ikut serta.
__ADS_1
Selain itu, sebagai seseorang yang merasakan langsung ancaman mereka, tentu saja aku tidak bisa berdiam diri dan mengabaikan mereka." Taurus kemudian menundukkan kepalanya.
Setelah mengingat kembali kejadian yang menimpanya beberapa bulan yang lalu ia akhirnya mengangkat kembali kepalanya sebelum berseru dengan tegas,
"Kami dari Aula Tetua dengan resmi ikut serta dalam penaklukan Aliansi Besar Phoenix yang meresahkan ini!
Untuk semua yang ada di bawah naungan Aula Tetua kami, Hidup selamanya Kerajaan Agung Euthorea!"
Seketika para prajurit dan Tetua yang berada di sekitarnya menjadi riuh dan berseru lantang mengikuti pemimpin mereka.
"Hidup Yang Mulia! Hidup Kerajaan Agung Euthorea!"
"Untuk kehormatan, untuk Yang Mulia Raja dan juga Kerajaannya!"
Dengan demikian, Aliansi besar Aula Raja resmi dibentuk, dengan tujuan menjaga Kerajaan beserta rakyatnya, mereka yang memiliki kekuatan memilih untuk mempertaruhkan nyawa mereka melawan Aliansi besar yang mengancam warganya.
***
Dengan rambut peraknya yang bergerak perlahan searah dengan angin yang berhembus di sekitarnya, seorang wanita muncul menghadang jalan di hadapannya.
Tawa yang menggoda terdengar mengelilingi padang rumput tersebut, disusul dengan kedatangan banyak prajurit berpakaian serba hitam beberapa saat setelahnya.
Pemuda itu memicingkan matanya, setelah menghitung jumlah musuhnya ia berdecak kesal mendapati dirinya sudah dikepung dari berbagai arah.
"Kali ini apa? Aku tidak sedang dalam kondisi yang bagus untuk mengikuti permainan kalian." Pemuda itu menatap tajam wanita di hadapannya.
Wanita itu kembali tertawa sebelum membalas tatapan dingin pemuda tersebut.
"Kau pikir hanya kau yang sedang dalam kondisi tidak bagus? Apa kau pernah berpikir untuk apa kami melakukan ini? Tentunya tidak bukan?"
__ADS_1
Udara di sekitar mereka mendadak berubah, beberapa prajurit bahkan nampak kesusahan bernapas dan tidak sedikit yang jatuh pingsan setelah wanita itu meluapkan emosinya.
"Kau tahu? Karena perbuatanmu sebelumnya, kami jadi sasaran kemarahan pemimpin kami dan kali ini dia meminta kami untuk menghabisimu, kau pasti tahu apa yang harus dilakukan bukan?" Tawa menggoda wanita itu kembali terdengar.
Seakan menjadi gila, tawa wanita itu terus mengisi pendengaran orang disekitarnya sebelum beberapa saat kemudian menghilang dan menjadikan suasana di sekeliling mereka menjadi hening.
"Jadi? Itu saja? Kalau begitu cepat selesaikan, aku masih punya banyak urusan." Pemuda itu menarik pedang perak di pinggangnya.
Wanita itu tersenyum gembira, "Bagus kau tahu yang harus kau lakukan memang seperti itu—" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah pedang melesat melewati lehernya dan hampir mengenai leher wanita itu.
"Tapi jangan harap aku akan tinggal diam begitu saja!"
————
Ok maaf saya ngilang lagi kemaren, ya masalah datang tanpa suara, saya ga bisa janji bakal bisa up lancar seperti biasa. Karena memang susah untuk berperilaku seakan-akan ini adalah hari yang biasa.
Ke depannya saya akan coba untuk mempersingkat waktu rilis sebisa mungkin, saya tidak berjanji tapi berusaha.
Dan sekedar info Arc 1 akan habis sebentar lagi, saya berencana mengakhiri Arc 1 di beberapa chapter ke depan. Saya harap kalian semua bisa tetap bersabar dan menunggu lanjutan dari cerita ini, memang lama tapi tetap saya usahakan tidak melebihi waktu dua minggu dari setiap rilisnya.
Untuk ke depannya saya akan persingkat waktu agar bisa cepat menyelesaikan Arc 1 dari cerita ini. Untuk itu mohon dukungannya.
Baiklah sekian dulu pesan dari saya, selamat menikmati Cerita yang saya sajikan untuk kalian.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
————
Dukung Author dengan memberi vote, like, dan komen untuk memberi semangat pada Author yang menuliskan cerita ini!
__ADS_1