Guardians : Legend Of Leo

Guardians : Legend Of Leo
Ch.62 12 Guardians II


__ADS_3

Tumpukan mayat tersebar di sekitar kaki pemuda yang tidak lain adalah seorang Guardians itu.


Pemuda itu bernama Libra, jauh sebelum ia dikenal sebagai seorang Guardians, ia hanyalah seorang remaja biasa.


***


"Sayang, lihat dia membuka matanya!"


"Bukankah dia mirip denganmu, sayang".


Suara tawa memenuhi ruangan sempit dan sederhana itu. Di dalamnya terdapat sepasang suami istri yang saling bercanda dan menatap bahagia satu sama lain.


Di pelukan sang Istri seorang bayi lugu terlihat membuka matanya sebelum tertawa riang, ya dia adalah Libra di masa kecilnya.


Penampilannya yang cantik untuk bayi seusianya, begitu menyejukkan hati kedua orang tuanya. Mata gelapnya yang sekilas berwarna hitam, rambut biru gelap tipis yang seperti langit malam juga menghias penampilan unik dari bayi tersebut.


Hidupnya yang penuh kebahagiaan itu sungguh berjasa membangun kepribadian ramah dan baik hatinya.


Hari-hari yang dilalui di masa kecilnya sangat bahagia dan bisa dibilang sempurna. Ia mendapatkan perhatian, kasih sayang dan kebahagiaan di masa kecilnya, siapapun pasti akan iri setelah melihat kesempurnaan keluarga tersebut.


Waktu berlalu dan Libra kecil sekarang berusia 10 tahun. Kesempurnaan ini terus berlanjut sepanjang perjalanan usianya itu. Tetapi, Dewa selalu menginginkan sesuatu dari pengikutnya, terkadang itu berupa harta dan usaha, tapi tak jarang juga berupa kebahagiaan.


Setiap waktu yang di habiskan oleh Libra selalu bahagia, bahkan para Dewa iri padanya. Dan karena itu, mereka mencoba mendatangkan bencana.

__ADS_1


"Libra, jangan lupa untuk selalu berhati-hati, kereta kuda para bangsawan biasanya sering melaju di dekat akademimu, jangan nakal dan selalu ramah pada setiap orang,"


"Ayahmu benar, kau tidak boleh mengganggu mereka yang lemah, tetap sayangi siapapun itu dan jadikan mereka teman. Tidak boleh ada perkelahian di antara teman, kau mengerti?"


Libra mengangguk setelah mendengar pesan orang tuanya, dengan senyum ramah di bibirnya, ia melangkah pergi menuju akademi.


Seperti biasa, ia tidak kesulitan mengikuti pelajaran dan pelatihan yang diberikan oleh akademi serta selalu menyelesaikan semua tugas dan latihan dengan tepat waktu.


Setelah selesai dari pelatihan di akademi, Libra kecil melangkah pulang menuju ke rumahnya.


Awalnya tidak ada yang salah dengan itu hanya saja, pemandangan yang tidak baik dilihat oleh anak seusianya menyambut kedatangan anak kecil itu.


Rumah yang terbakar api, tumpukan kayu dengan bercak darah di sekitarnya, tangan dan bagian tubuh lain yang terhambur di sepanjang pemukiman. Ya, bencana telah datang kepadanya dan bahkan dia tidak mengetahui apa kesalahannya.


Libra kecil menitihkan air matanya dan bergidik sebelum memanggil orang tuanya, "Ibu ... Ayah ...".


Suara kayu yang berbenturan terdengar.


Menyusul setelahnya suara lain terdengar. Suara yang sudah tidak asing di telinga anak itu menghiburnya sejenak, mata gelapnya yang tak bercahaya sejenak mendapatkan kembali cahayanya, benar hanya sejenak.


"Uhuk! uhuk ... " Suara batuk terdengar di dekat tumpukan kayu yang sebelumnya adalah tempat tinggal dari Nenek Libra.


Libra yang penuh harap segera bergegas mendatanginya.

__ADS_1


Dalam benaknya ia hanya berharap hal sederhana itu adalah keselamatan orang tuanya.


'Dewa, Tuhan, Iblis, jika kalian ada maka selamatkan orang tuaku, kumohon hanya mereka satu-satunya yang kuinginkan, selamatkan mereka!'


Doa putus asa itu ia ulangi sambil bergegas mendatangi reruntuhan tersebut. Sayangnya, para Dewa sudah terlebih dahulu iri pada bocah itu.


Pemandangan kedua orang tuanya dengan kayu tajam di perut mereka sekali lagi mematahkan semangatnya, ia sudah terlalu sedih untuk menyadari hal yang begitu menjijikkan bagi orang normal ketika melihatnya.


Pandangannya hanya berfokus pada orang tuanya, mereka saling memeluk dan tersenyum penuh kasih bahkan setelah dalam keadaan seperti itu.


Ayahnya sudah terpejam dan tak bernafas sedangkan ibunya akan menyusul tidak lama setelah itu.


Hati anakn itu terbakar, panas merasuki tubuhnya, cahaya gelap menyinari sebagian dirinya sementara cahaya emas melilit tubuh lainnya.


Pandangannya kosong, kemarahan, dendam dan kesedihan merendam hatinya dengan sangat dalam.


Hanya ada satu tujuan hidupnya sekarang, "Balas dendam ... aku akan membalas dendam!" Mata gelap dan suramnya perlahan dipenuhi dengan "Kegelapan" yang sesungguhnya.


————


**Author note


maaf baru update banyak hal yang terjadi dan ya saya baru bisa update, sebenarnya kemarin sudah update hanya saja noveltoon bermasalah dan menyebabkan hilangnya satu naskah full dari chapter ini, demikian saya harap kalian bisa memakluminya.

__ADS_1


————


Don't Forget to Comment and Like**!


__ADS_2