
"Lily, tunggu disini." ucap Leo sebelum melangkahkan kakinya.
Leo mendekat dan menatap tajam kedua prajurit tersebut. Tatapannya pun terasa dingin dan mencekam.
Dengan cepat salah satu dari mereka menyadari darimana asal tekanan yang didapatkannya.
"T-Tuan yang perkasa, mohon maafkan hamba, hamba punya mata tapi tidak bisa melihat keagungan di depannya."
Prajurit itu lalu sebisa mungkin bersujud di hadapan Leo.
Leo berdecak kecil sambil menatap rendah kedua penjaga itu. Beberapa saat setelahnya ia segera mendekati Ariel.
"Kau tak apa-apa?" Leo menyentuh lembut pipi gadis tersebut.
Dengan cepat gadis itu menjauhkan tangan Leo dari wajahnya. Beberapa saat setelahnya, warna pipinya berubah menjadi kemerahan.
"Leo, bodoh ..." gumamnya sambil memasang senyum manisnya.
Leo tidak menanggapi ucapan gadis itu lebih lanjut, melainkan mulai mengurus masalah yang tersisa sebelumnya.
"Lily, kemari." ucap Leo sambil melihat ke arah gadis itu berdiri.
Tidak berapa lama gadis kecil itu pun sudah berdiri di sebelahnya.
"Sekarang kalian, siapa pemimpin kalian di sini?" Leo menatap tajam kedua prajurit tersebut.
Keduanya pun dengan cepat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Leo.
"Maaf tuan, pemimpin kami adalah seorang bangsawan dengan gelar Baron. Namanya adalah—"
"Baron Luise, salam kenal." Seorang pria tiba-tiba muncul dan menundukkan sedikit tubuhnya.
Leo tidak menghiraukan ucapan pria itu, melainkan memperhatikannya dengan seksama.
Dengan pakaian mewah yang membalut tubuhnya, pembawaan yang elegan dan bijaksana, Leo dengan mudah mengenali orang tersebut sebagai seorang bangsawan.
Pria itu kemudian mendekati kedua prajurit yang tengah bersujud pada Leo itu.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan, cepat kembali bekerja!" gumamnya sebelum melangkah ke arah Leo.
Sambil menundukkan tubuhnya sekali lagi, ia kembali meminta maaf pada Leo dan lainnya.
"Maafkan atas keributan yang baru saja terjadi. Sebelum itu, boleh aku tahu nama saudara?" Baron itu menunjukkan senyum ramah di wajahnya.
Hanya dengan sekali lihat, Leo sudah mengetahui seperti apa sifat asli bangsawan tersebut.
Di depan, dia memang terlihat sangat ramah dan baik. Tetapi, pada kenyataannya dia adalah salah satu tipe orang yang paling Leo benci sejauh ini.
"Namaku Leo, aku hanya ingin mengucapkan sesuatu padamu."
Baron itu segera menyimak dengan seksama.
"Jangan cari masalah denganku, atau akan kuburu hidupmu," ucap Leo sembari melangkah pergi bersama Lily dan Ariel.
Tepat saat ketiganya sudah tak terlihat lagi, senyum ramah yang terpampang di wajah Baron sebelumnya segera berubah.
Dengan urat-urat wajahnya yang menonjol, ia segera mengumpat Leo di dalam hatinya.
Sementara itu di Aula Tetua,
Taurus tengah menatap tumpukan kertas dan susunan gulungan yang berada di meja kerjanya.
Sebagai seorang pemimpin baru Aula Tetua, tentu saja ia harus mengurus segala hal yang ada termasuk dengan masalah politik dan ekonomi wilayahnya.
Taurus memegang kepalanya yang kini terasa berdenyut sambil perlahan membaca laporan-laporan yang ada.
Beberapa saat setelahnya seorang tetua baru masuk ke dalam ruangannya.
"Permisi, Tetua Agung. Maafkan kelancangan hamba, tetapi ada hal penting yang harus anda urus terlebih dahulu" Tetua itu segera menunduk hormat pada Taurus.
Taurus memijat keningnya yang semakin terasa sakit, beberapa saat setelahnya ia pun bergegas berdiri dan mendekati Tetua itu.
"Baiklah, tunjukkan jalannya!" Taurus bergegas berjalan mengikuti tetua itu saat ia mulai menunjukkan jalan menuju hal penting tersebut.
Tidak jauh dari sana, tepatnya di Taman Suci.
__ADS_1
Terlihat seorang pemuda tengah duduk ditemani seorang gadis di sebelahnya.
Keduanya nampak sangat akrab saat berbincang dan sesekali berjalan menyusuri taman yang dipenuhi bunga-bunga serta tanaman hias itu.
"Aries, apakah ada kabar dari Ariel? Aku sedikit penasaran dengan keadaannya, setelah ia pergi, dia tidak pernah mengirim surat sama sekali." Gadis itu kemudian memandang langit di atas tempatnya berdiri.
"Sebenarnya aku juga kurang mengetahui hal ini. Tetapi, yang aku tahu ia masih baik-baik saja, dengan Leo di sekitarnya seharusnya ia baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir." Aries lalu mengusap lembut puncak kepala gadis tersebut.
Sementara gadis itu hanya tersenyum senang sembari menatap ke arah Aries.
Gadis itu adalah Virgo, setelah kepergian Leo dan Ariel, keduanya menjadi semakin dekat dan bahkan sampai tahap mulai tumbuh perasaan di antara keduanya.
Hanya saja mereka lebih memilih menyembunyikan perasaan mereka masing-masing, daripada menyampaikannya.
"Cih, niatku baru saja ingin mencari udara segar, tetapi malah bertemu udara hambar di sini." ucap Scorpio yang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke Taman.
Setelah melihat selama beberapa saat, ia memilih untuk melangkahkan kakinya kembali keluar Taman dan memilih masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Di antara mereka berempat, yang paling aktif bekerja adalah Taurus dan Scorpio.
Keduanya harus terus bekerja dalam pembangunan dan kepemimpinan Aula Tetua.
Sementara Aries dan Virgo hanya bertugas untuk membereskan pekerjaan kecil seperti mengawasi pembangunan dan pembagian bantuan berupa makanan serta barang sehari-hari.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Scorpio memilih merebahkan tubuhnya sembari melemaskan otot-ototnya yang kini terasa tegang.
Ditambah sakit yang terus berdenyut di kepalanya Scorpio akhirnya memilih memejamkan matanya perlahan, sambil menikmati ketenangan yang sudah lama ia impikan.
Selang beberapa saat memejamkan matanya, kemampuan pendengarannya menghilang dan menjadi senyap.
Tanpa ia sadari tubuhnya memilih untuk beristirahat setelah di paksa bekerja untuk jangka waktu yang lama.
————
Jangan lupa untuk tetap memberi like, komen dan Votenya ya!
Setiap Like dan Komen yang kalian berikan terasa sangat berharga bagi Author seperti saya.
__ADS_1