Guardians : Legend Of Leo

Guardians : Legend Of Leo
Ch.34 Perjalanan Ke Kota Bargh


__ADS_3

Leo segera mengayunkan pedangnya ke arah kakek tua itu, terlihat energi putih keemasan segera mengekori serangan pedang tersebut.


Dengan rasa panik kakek itu menghindari serangan demi serangan yang di lancarkan oleh Leo.


"Hei, Nak! Aku tidak bermaksud jahat! Aku hanya ingin bertanya arah ke kota Bargh padanya!" Kakek itu berujar panik pada Leo,


Leo mengerutkan dahinya, ia masih sulit percaya dengan kata-kata kakek tersebut.


Sementara kakek tersebut terus menerus menghindari serangan Leo dengan penuh perjuangan.


"Hei, Nak! Hentikan seranganmu! Aku sudah bilang tidak ingin mencari masalah denganmu!"


Kakek itu semakin panik saat Leo mulai mengubah serangannya menjadi lebih mematikan dari yang sebelumnya.


Melihat Leo tidak juga menghentikan serangannya kakek itu menghela nafasnya sambil sedikit mengambil jarak dari pemuda tersebut.


"Nak, jangan memaksaku! Sudah kubilang aku tak ingin mencari masalah denganmu!"


Leo terus mengacuhkan Kakek tersebut, sambil terus menerus mengubah serangannya, dan kini Leo mencoba mengakhiri serangannya.


"Api Dewa Langit! Pedang Pembasmi Iblis!"


"Dragons Aura!" Kakek itu berseru keras saat Leo mencoba menyerangnya dengan sungguh-sungguh.


Leo terkejut dan mengambil jarak setelah melihat Kakek itu mengeluarkan Aura putih yang dahsyat dari tubuhnya, bisa dilihat kekuatan kakek tersebut setara atau bahkan mungkin melebihi tingkat Aura Evolution.


Leo menatap dingin kakek tersebut sebelum mengambil posisi menyerang.


"Aura Raja Singa"


Tepat setelah Leo mengucapkannya, Kedua Aura putih maupun emas itu saling menekan satu sama lain dan menyebabkan tekanan hebat dalam ruang lingkupnya.


Melihat Auranya dengan mudah ditekan oleh pemuda di hadapannya itu membuat Kakek tersebut mengerutkan dahinya.


Kakek yang sedari tadi menghindar itu, akhirnya mulai bersiap untuk membalas serangan pemuda tersebut.


Leo kembali mendekatkan jarak keduanya, sambil mengayunkan pedangnya yang tidak memiliki celah, keduanya kembali bertukar serangan.


"Nak! Hentikan dulu seranganmu, dan dengarkan penjelasanku!" Ujar kakek itu sambil menahan setiap serangan Leo,


Kakek itu mulai kehabisan kesabarannya, sementara Leo terus mengayunkan pedangnya pada kakek tersebut.

__ADS_1


Melihat Leo tidak kunjung menghentikan serangannya, kakek tersebut mengeluarkan pedang patah yang sebelumnya terus tersimpan di pinggangnya.


Pedang tersebut langsung menarik perhatian pemuda itu, tidak perlu waktu lama baginya untuk mengenali pedang tersebut.


"Kakek tua, dimana kau mendapatkan pedang itu?" Leo berucap dingin,


Terlihat sorot matanya sedikit berubah dan sedikit memancarkan cahaya redup berwarna keemasan.


Segera setelah pemuda tersebut menyinggung pedangnya, kakek itu baru mengingat pemuda yang saat ini berada di hadapannya tersebut.


Aura emas yang sebelumnya sudah menekan Kakek itu, kini bertambah kuat.


Kakek itu menyadari pemuda di hadapannya itu menjadi murka karena pedang patah di tangannya tersebut.


Dengan cepat ia mencoba menyembunyikan pedang tersebut.


"Kembalikan pedang itu" Suara dingin tiba-tiba terdengar dari belakang kakek tersebut.


Belum sempat ia mengalihkan pandangannya, sebuah tendangan melayang tepat ke kepalanya.


Leo menatap dingin kakek tua di hadapannya, sementara kakek itu sudah mulai kehabisan akal untuk melarikan diri dari pemuda tersebut.


"Dimana kau mendapatkan pedang itu?" Pertanyaan kembali Leo berikan pada kakek tersebut, tetapi sama seperti sebelumnya kakek itu hanya diam dan menatap Leo dengan tatapan tak berdaya.


Melihat kakek tersebut tidak ingin menjawab pertanyaannya, Leo berniat mengayunkan pedangnya untuk mengakhiri kakek tersebut, tetapi belum sempat pedang itu mengenai si kakek, Ariel sudah lebih dulu menahan tangan pemuda tersebut.


Leo menatap Ariel dengan heran, "Kenapa kau menghentikanku? Kakek ini barusan mencoba melakukan hal mencurigakan padamu" Leo berujar ketus pada gadis tersebut,


Sementara gadis itu hanya menggeleng pelan sebelum menjawab pemuda tersebut.


"Tidak, kau salah. Sebelumnya dia memang terlihat mencurigakan, tetapi setelah dilihat dengan baik, kakek ini tidak berniat buruk. Bahkan ia masih menahan diri dan menghentikan serangannya bukan?"


Leo menatap gadis tersebut, sebelum kemudian mengalihkan pandangannya ke kakek tersebut.


"Haah, mungkin kau ada benarnya. Tapi aku ingin bertanya pada kakek ini, dimana kau mendapatkan pedang berukiran mawar ini?" Leo menyarungkan pedangnya setelah mengucapkan pertanyaannya.


Kakek itu kemudian menarik semua Auranya bersamaan dengan pemuda tersebut, diam-diam ia memutar otaknya untuk mendapatkan jawaban yang bisa memuaskan pemuda di hadapannya.


Setelah memutar otaknya dengan susah payah, kakek itu mendapat satu jawaban bagus untuk diberikan pada pemuda tersebut, tentu saja yang ia ucapkan adalah kebohongan, karena pedang itu sebelumnya ia ambil dari Leo, saat perbedaan kekuatan mereka masih sangat jauh.


"Aku menemukannya di hutan terlarang beberapa waktu yang lalu, waktu itu aku sedang dalam perjalanan kemari, aku tertarik dengan pedang ini dan langsung mengambilnya kala itu."

__ADS_1


Leo menatap tajam kakek tersebut, sebelum beberapa saat kemudian ia menghela nafasnya, ia tahu kemungkinan apa yang diucapkan oleh kakek tersebut sangat besar, mengingat ia juga kehilangan pedang itu di hutan tersebut.


Kakek itu bernafas lega saat Leo tidak mempermasalahkan tentang pedang itu lagi, dengan cepat ia mengembalikan pedang itu, ia tahu, sekalipun ia bertarung dengan kekuatan penuh, ia masih belum tentu bisa mengalahkan pemuda tersebut.


"Lebih baik menambah teman daripada menambah musuh..." Kakek itu bergumam kecil,


"Apa?" Walaupun suara yang terdengar sangat samar tapi Leo menyadari kakek tersebut mengucapkan sesuatu sebelumnya,


"Tidak ada apa-apa anak muda!" Kakek itu dengan cepat mengangkat kedua tangannya, ia tidak ingin memperpanjang masalahnya.


Leo kembali menatap heran kakek tersebut sebelum akhirnya memilih duduk dan beristirahat setelah berkeliling desa mencari Singa Kecil sebelumnya.


Disisi lain, Ariel sedang melihat ke arah pemuda itu sambil bernapas lega. Menurutnya tidak baik membiarkan pemuda di hadapannya itu menjadi marah, ia masih mengingat jelas apa yang terjadi saat Leo kehilangan kesadarannya dan menghancurkan desa sebelumnya. Tentu saja ia tak ingin pemuda itu mengulangi hal yang sama pada kakek tersebut.


Setelah suasana terasa agak tenang, Ariel memilih duduk di samping pemuda tersebut, sambil memperhatikan raut wajahnya yang terlihat seperti sedang berpikir serius, Ariel menyandarkan kepalanya di pundak pemuda tersebut.


"Ariel, aku tidak bisa menemukan dan merasakan Singa Kecil di desa. Aku rasa dia dibawa oleh seseorang ke tempat lain yang berada cukup jauh di utara, entah mengapa Aura yang dipancarkan Singa kecil terasa bergerak kesana." Leo menundukkan kepalanya, ia tahu Singa kecil itu pasti sedang terluka setelah mencoba menahannya sebelumnya, jika tidak maka ia tak akan mungkin bisa menghancurkan desa tersebut.


Setelah memikirkannya dengan matang ia berencana pergi ke sana untuk mencari Singa kecil, ia lantas menyampaikan hal ini pada Ariel.


"Kurasa aku akan pergi untuk menjemput Singa Kecil disana, apakah kau tidak keberatan jika aku mengantarmu pulang sebentar?" Leo bertanya dengan rasa khawatir di dadanya,


Ia takut sesuatu terjadi pada Beast tersebut, mengingat kekuatannya menurun drastis karena menyelamatkan pemuda itu sebelumnya.


Ariel segera menggelengkan kepalanya, terlihat keputusannya sudah bulat untuk mengikuti pemuda tersebut.


"Tapi—" Leo mencoba menyelesaikan kalimatnya,


Tapi belum sempat menyelesaikan kalimatnya gadis itu sudah menahan mulut pemuda tersebut dengan jari telunjuknya dan sukses membungkam pemuda tersebut.


"Aku ikut denganmu, kau tidak boleh pergi sendirian dan meninggalkanku lagi, bukan hanya kau yang tidak ingin kembali merasakan kehilangan, aku juga tidak ingin merasakan hal yang sama seperti itu." Gadis itu berujar tegas sambil perlahan menjauhkan telunjuknya dari pemuda itu,


Melihat gadis itu sudah membulatkan tekad untuk mengikutinya, Leo tidak berusaha untuk membujuk gadis itu lebih jauh, ia tahu sekeras apapun ia membujuk hasilnya pasti akan sama seperti sebelumnya, saat gadis itu memilih mengikuti Leo pertama kali.


————


**Ini cuma sisa, saya masih libur ok!


Anggap aja ini sebagai hadiah sebelum saya libur dan tidak up selama beberapa hari ke depan, tetapi seperti biasa


Jangan lupa menekan tombol Like, Fav, dan Komen di Kolom Komentar ya**!

__ADS_1


__ADS_2