Guardians : Legend Of Leo

Guardians : Legend Of Leo
Ch.27 Melatih Api Dewa Naga


__ADS_3

Dalam gelap malam di reruntuhan kota Breathanea, terlihat seorang kakek tua melangkahkan kakinya menuju sebuah reruntuhan bekas perpustakaan.


"Buku itu masih ada disini tidak ya?"


Kakek itu mengedarkan pandangannya mencari sebuah buku kecil di reruntuhan itu.


Setelah mengelilingi reruntuhan itu sambil mengedarkan pandangannya, Kakek itu menemukan apa yang ia cari.


"Ah, akhirnya kutemukan juga kau!"


Kakek itu mengangkat buku tersebut, terlihat sebuah judul di buku tersebut.


"Kitab Seribu Ilmu"


Senyum puas terpampang di wajah kakek itu, jelas ia sudah sangat lama mencari buku itu dan telah menjelajah sangat lama hanya untuk menemukannya.


Kakek itu mengambung-ambungkan buku tersebut dengan wajah riang, sesekali ia melihat ke sekitarnya sambil tersenyum sinis.


"Kalian pikir aku tidak tahu kalau kalian akan memburuku? Kalian terlalu naif"


Kakek itu menghentikan langkahnya. Senyum sinis menghiasi bibir kakek tua itu.


Menurutnya kelompok dihadapannya terlalu menilai rendah dirinya, dan hanya mengantar orang lemah kepadanya.


"Kami tahu kau akan kemari, setelah apa yang kau lakukan kami tak bisa membiarkanmu hidup"


Seorang pria bertopeng terlihat keluar dari dalam kegelapan bayangan reruntuhan kota.


Tidak lama kemudian, lebih dari sepuluh orang menyusul pria tersebut dan mengelilingi kakek itu.


"Serahkan buku ditanganmu itu! Mungkin kami akan memberikan kematian yang tak menyakitkan jika kau melakukannya"


Pria yang berdiri di dekat bayangan reruntuhan kota itu berseru lantang dengan nada yang tinggi pada si kakek.


Kakek itu hanya diam dan melihat sekelilingnya.


"Satu, dua, tiga, empat..."


Semua orang yang berdiri di dekat kakek tersebut terkejut, mereka berpikir kakek itu akan menyerang mereka, alih-alih menghitung tidak jelas seperti itu.


"Kakek tua! Apa kau pikir kami tidak bisa mengalahkanmu?! Beraninya kau merendahkan kami seperti ini!"


Kakek itu hanya tersenyum tipis menanggapi kalimat Pria tersebut.


Ia melihat ke semua orang yang ada disana dengan tatapan merendahkan.


"Kalian yang jelas-jelas meremehkanku disini! Kalian pikir hanya dengan sekelompok badut bisa menghentikanku? Akan kutunjukkan pada kalian apa itu kekuatan!"

__ADS_1


"Dragons Aura!"


Aura berwarna perak dengan cepat meluap dari tubuh Kakek itu, terlihat kini matanya juga bersinar terang berwarna keperakkan.


Orang-orang yang mengelilingi kakek itu menahan nafasnya saat Aura kuat meledak dari kakek tersebut. Kini mereka menyadari bahwa kakek itu tidak sesimpel yang mereka pikirkan.


Tanpa berpikir lebih lama salah satu dari mereka mencoba menyerang Kakek tersebut, tetapi belum sempat ia mendekat ke arah Kakek tersebut, ia sudah lebih dulu kehilangan nyawanya.


Tidak ada yang bisa melihat apa yang dilakukan kakek itu, dan mereka hanya melihat sekilas ada cahaya perak yang bergerak sangat cepat melewati orang yang mencoba menyerang sang kakek tersebut.


"Beraninya kau membunuh salah satu dari kami! Kau pasti akan menghadapi amukan seluruh Kelabang Hitam nantinya!"


Pria yang berdiri di dekat reruntuhan itu terus mengucapkan kalimat yang dianggap tidak penting oleh si kakek. Tentu saja kakek itu tidak mendengarkannya.


Dengan cepat cahaya perak melewati tubuh pria tersebut dan memisahkan kepalanya dari tubuhnya.


"Terlalu banyak bicara, tidak banyak berusaha. Ini kah yang harus kutakutkan dari Kelabang Hitam? Jangan bercanda!"


Dengan cepat sebelas orang yang ada disitu mencoba lari setelah pemimpinnya diselesaikan oleh Kakek tersebut.


"Setelah menyinggungku kalian mencoba pergi dariku? Berani sekali kalian!"


"Auman Naga! Auman Pemotong Surga!"


Puluhan pisau angin terpencar bersamaan dengan suara Auman keras dari kakek itu dan memburu semua orang yang tersisa.


Dalam satu tarikan nafas, tidak ada satupun dari mereka semua yang masih hidup, sementara kakek itu sendiri masih berdiri tegap dengan sebilah pedang patah di tangan kanannya.


Kakek itu melirik pedang patah di tangannya, terlihat ekspresi sedih diwajahnya.


Setelah merasa cukup aman, kakek itu melanjutkan perjalanannya.


Dengan langkahnya yang sempoyongan dan wajah riangnya yang selalu terpasang di wajahnya, ia melangkah pergi menuju ke arah timur dan menghilang dalam kegelapan malam


~•~


Angin berhembus di desa Loa,


Terlihat Leo baru saja selesai membantu penduduk disana membangun ulang desa tersebut, walaupun membutuhkan waktu yang cukup lama, dengan bantuan semua orang disana, desa tersebut sudah berdiri kembali.


"Selamat, kau sudah bekerja keras"


Seorang gadis datang memberikan secangkir teh pada pemuda tersebut, Leo langsung menerima teh tersebut dan meneguknya.


"Kau kelihatan lelah hari ini, apa kau tidak ingin beristirahat? Kau membangun ulang desa ini hanya dalam waktu seminggu, susah untuk percaya kau tetap baik-baik saja setelah bekerja sekeras itu"


Gadis itu menatap Leo dengan penuh khawatir, ia tidak ingin pemuda itu terlalu memaksakan diri sampai kehilangan kesadarannya lagi.

__ADS_1


Leo menatap lembut gadis tersebut, ia memang merasa cukup lelah, tapi itu tidak mengganggunya dan masih dalam batas wajar baginya.


Gadis itu menyentuh lembut wajah pemuda itu, sebelum menempatkan kepala pemuda itu di pangkuannya.


Ia merapikan rambut pemuda itu yang kini terlihat sedikit berantakan. Pemuda itu hanya diam menikmati waktu istirahatnya, sudah cukup lama sejak ia terakhir merasakan hangat di dadanya.


Tidak lama kemudian, Pemuda itu terlelap dengan wajah yang terlihat bahagia di pangkuan gadis tersebut.


***


Pagi kembali menyambut desa tersebut, sedangkan pemuda itu kini tengah tertidur di tempat tidur penginapan yang ia bangun ulang sebelumnya. Gadis yang menidurkan pemuda itu sebelumnya, kini tengah tertidur pulas disampingnya.


Dalam keheningan seekor singa kecil masuk ke dalam ruang pemuda tersebut. Senyum lebar terukir dibibirnya dan cakar tajam perlahan keluar dari jari-jari mungilnya.


Tawa jahat terdengar menggema memenuhi ruang tersebut.


Selang beberapa lama setelahnya, jeritan keras terdengar menggema dari dalam ruang tersebut.


***


Leo berjalan bersama Singa Kecil itu ke bukit yang ada di belakang desa tersebut.


Terlihat di wajah pemuda itu melintang tiga bekas cakaran panjang yang menghiasi wajahnya dengan sempurna.


"Jadi mau apa kita kesini?"


Leo yang terus mengikuti Singa Kecil itu sampai di atas bukit yang mereka tuju, hanya tanah lapang terlihat disana.


Beast singa kecil itu tersenyum lebar ke arah pemuda tersebut,


"Tentu saja kita disini untuk belajar Api Dewa Naga, memangnya ada alasan lain untuk itu?"


Leo tersentak kaget, ia belum memberitahu siapapun tentang apa yang ia dapatkan di gua misterius sebelumnya, bahkan ia memilih merahasiakannya bersama dengan rahasia lain yang ia sembunyikan.


"Tidak perlu terkejut, kau lupa aku yang menyelamatkanmu sebelumnya? Aku bukan berasal dari dunia ini, jadi aku mengetahui tentang banyak hal di dalamnya"


Kalimat Beast tersebut menyadarkan Leo, sebelumnya ia cukup heran tentang cara Beast tersebut menyelamatkannya dari kematian.


Beast itu tersenyum tipis pada Leo,


"Karena kau sudah mengetahui Pedang Langit Tanpa Tanding, pasti kau juga mengenal Ilmu yang menjadi pasangannya bukan?"


Sekali lagi Leo tersentak kaget mendengar kalimat Singa kecil itu. Menurutnya percuma untuk menyembunyikan fakta tentang ia yang memiliki kedua Kitab Ilmu tingkat tinggi tersebut.


Tanpa menyembunyikan apapun lagi, Leo menceritakan semua yang ia dapat dan alami selama penyerangan di desa tersebut, dan mulai berlatih bersama dengan Singa kecil tersebut.


————

__ADS_1


**Jangan lupa untuk menekan tombol Like, Fav, dan Komen di Kolom Komentar!


Sampai jumpa di Ch. selanjutnya**!


__ADS_2