Guardians : Legend Of Leo

Guardians : Legend Of Leo
Ch.39 Nostalgia


__ADS_3

"Kota diserang! Kota diserang! Segera pergi ke portal evakuasi!" Seru seorang Penjaga Kota yang kemudian diikuti oleh Penjaga Kota lainnya.


"Segera pergi ke portal evakuasi! Bawa barang yang kalian anggap penting saja dan jangan panik!" Penjaga Kota sebelumnya kembali berseru keras.


Selang beberapa waktu, seluruh jalan di kota segera dipenuhi oleh orang-orang yang saling berdesak-desakkan bergegas menyelamatkan diri.


Sementara itu, cukup jauh di arah selatan kota,


Terlihat seorang pemuda dengan seorang gadis di dekapannya bergerak dalam kecepatan tinggi menuju ke arah kota.


"Apakah Singa Kecil benar-benar berada disana?" Ariel memandang Leo dengan raut wajah penasaran,


Mereka sudah bergerak selama beberapa hari tanpa berhenti mencari Singa kecil itu, mendengar pemuda dihadapannya mengatakan bahwa singa itu berada tidak jauh di arah utara membuatnya merasa sedikit lega.


"Aku tidak yakin, tetapi berdasarkan Auranya, seharusnya ia berada tidak terlalu jauh di depan"


Setelah mendengar jawaban pemuda tersebut, Ariel memilih kembali membenamkan wajahnya di tubuh pemuda tersebut, kebiasaan Ariel ini masih menjadi pertanyaan bagi Leo, tetapi ia tidak pernah mempermasalahkannya sekalipun.


Waktu terus berjalan, tidak terasa keduanya tiba di dekat gerbang kota tersebut.


Terlihat dari depan gerbang kota, ribuan penduduk terlihat berbondong-bondong keluar dari kota tersebut.


Mereka rela saling berdesak-desakkan agar bisa melangkahkan kakinya keluar dari kota tersebut.


Tidak peduli anak-anak, orang tua, bahkan wanita hamil sekalipun tidak dihiraukan oleh mereka.


Leo yang melihat hal ini segera menurunkan Ariel dan menyuruhnya untuk menunggu dari tempat mereka berdiri sekarang.


"Ariel, tunggu disini. Aku akan segera kembali!" Tanpa memberi penjelasan lebih lanjut Leo bergerak dengan cepat ke arah kerumunan tersebut.


Tanpa menunda waktu lebih lama, ia segera menyelamatkan anak-anak, orang tua, dan wanita hamil yang ada disana.


Sambil berjalan melewati dinding-dinding kota ia terus mengungsikan lebih banyak orang dalam waktu singkat.


Tentu saja aksinya tersebut menarik banyak perhatian dari penduduk lainnya dan Penjaga kota yang ada disana.


Bagi mereka, menerobos kerumunan ini saja sudah sangat sulit apalagi melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh pemuda tersebut.


Setelah beberapa waktu, Leo menghentikan langkahnya tepat dihadapan seorang Penjaga kota.


"Apakah ada anak-anak yang tersisa?" Tanya Leo pada Penjaga Kota.


Penjaga Kota itu segera mengalihkan pandangannya dan mengingat-ingat tempat yang mungkin masih dihuni oleh anak-anak.

__ADS_1


"Ah! Aku ingat! Sebenarnya masih ada satu tempat yang mungkin masih dihuni, tapi kami tidak bisa kesana karena sangat berbahaya bagi kami" Penjaga itu menunjukkan raut wajah bersalah.


Ia tahu sebagai Penjaga Kota ia adalah orang yang harus menjaga wilayahnya dan mengamankan warganya, tidak peduli terhadap apapun resikonya.


"Tidak perlu dipikirkan lebih jauh, cepat beritahu saja aku" Leo membaca pikiran orang tersebut,


Tetapi baginya, tidak ada waktu yang lebih baik daripada langsung menyelamatkan mereka daripada harus menunggu lebih lama dan semakin membahayakan mereka.


"Sebelum itu apa yang sedang terjadi? Mengapa seluruh kota menjadi panik?" Leo menghentikan langkahnya.


Penjaga itu menatap Leo dengan heran, ia tidak menduga ada orang yang belum mengetahui situasi Kota Bargh saat ini.


"Aku dari luar kota, jadi aku tidak tahu apa-apa" Leo kembali menebak pikiran Penjaga tersebut.


Penjaga itu kembali menatap Leo dengan heran, ia penasaran bagaimana pemuda dihadapannya membaca pikirannya dua kali.


"Apa kau peramal?" Ucapnya dengan raut wajah heran.


"Tidak ada waktu menjawab itu, jawab dulu pertanyaanku" Leo kembali memotong.


Penjaga itu kemudian teringat dan segera memberitahu Leo apa yang terjadi, dengan cepat Leo memahami situasinya dan melangkahkan kakinya bergegas menolong anak-anak yang berada di lokasi yang disebutkan Penjaga Kota tersebut.


Tidak lama setelahnya, ia sampai di depan lokasi tersebut dan ia mengerti apa yang dimaksud berbahaya oleh Penjaga kota tersebut.


~•~


Hanya dengan kedatangannya, semua orang yang ada disana merasakan tekanan hebat pada tubuh mereka. Hal ini membuat Pria itu menjadi waspada, sebab tidak semua orang bisa menekannya seperti yang dilakukan oleh kakek itu.


Kakek itu mengukir senyumnya sebelum menjawab Pria tersebut.


"Dethyus, kau melupakanku? Bukankah kita adalah rekan yang hebat dulunya? Apakah semua perjalanan kita sudah hilang darimu? Apakah menjadi jahat membuatmu melupakan semua kenangan kita?" Senyum kakek itu berubah menjadi dingin.


Pria yang disebut sebagai Dethyus itu mengerutkan dahinya, seharusnya tidak banyak yang mengenalnya, terlebih dengan penampilannya saat ini, walaupun begitu ia akui, wajah kakek tersebut tidak asing di pikirannya.


"Dethyus? Dia adalah mantan Jenderal Terkuat Kedua? Dethyus sang Dewa Serigala Salju!?" Jenderal Darth tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, ia tahu bahwa ada rumor yang mengatakan Jenderal Dethyus keluar dari Kerajaan dan membentuk kelompok militernya sendiri untuk merubuhkan Kerajaan, ia sendiri awalnya tidak mempercayai hal ini, sampai ia melihat sendiri orang yang saat ini berada dihadapannya.


"Jika ia adalah Dethyus, maka orang ini!?" Jenderal Darth akhirnya mengenali kakek disampingnya ini, sekali lagi ia memasang wajah terkejut saat mengenali kakek tersebut.


Kakek itu menatap Darth sejenak sebelum mengelus kepala Jenderal tersebut, "Tidak buruk Darth, Kau berhasil menyusulku" Kakek itu kembali mengukir senyumnya.


Melihat hal ini, Dethyus semakin merasa tidak asing dengan kakek tersebut.


"Kau, Myrthe!?" Dethyus berseru lantang pada kakek tersebut, ia baru menyadari, hanya ada satu orang yang memiliki Aura seperti kakek tersebut, dan yang paling penting hanya ada satu orang yang bisa mengenalinya dalam satu kali tatap mata.

__ADS_1


Kakek Myrthe tertawa ringan menanggapi Pria dihadapannya itu, walaupun terlihat muda, usia keduanya sebenarnya tak jauh berbeda.


"Jadi? Maukah kau menarik pasukanmu untuk teman lama ini?" Kakek Myrthe mengukir senyum hangat di bibirnya, terlihat jelas tidak ada niatan bertarung sama sekali pada dirinya.


Dethyus tertawa lantang menanggapi ucapan kakek tersebut, "Menarik semua pasukanku? Jika aku bisa melakukan semuanya semauku, untuk apa aku berdiri disini? Kau tidak tahu apa-apa Myrthe! Semenjak kau pergi, semuanya tidak berjalan lebih baik! Bahkan menjadi lebih buruk dari sebelumnya!" Dethyus mendengus kesal, ia kembali teringat hal yang paling ingin ia lupakan.


"Maafkan aku, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa waktu itu, kau tahu? Aku sangat ingin pulang waktu itu, hanya saja sama sepertimu, aku tidak bisa." Myrthe menundukkan kepalanya, ia tidak menyangka kesalahannya di masa lalu berakhir buruk pada rekannya itu.


"Sudah puas berkata-kata? Jika sudah mari kita lanjutkan urusan kita, tidak ada yang bisa diselesaikan hanya dengan kata-kata!" Dethyus mengangkat senjatanya,


Terlihat sebilah pedang yang sangat besar dan panjang berada dalam genggamannya.


"Aku sudah melupakan masa laluku Myrthe, yang ada di pikiranku sekarang hanya masa depanku saja!" Dethyus memacu Serigala yang ditungganginya, tidak lama setelah ia maju, pasukan dibelakangnya ikut menyusulnya dan mengangkat senjata mereka.


"Mari selesaikan ini sekali dan selamanya!" Seru Dethyus sambil mengayunkan pedang besarnya.


Kakek Myrthe menghela nafasnya, ia tahu semua tidak akan mungkin berjalan seperti yang ia harapkan.


Dengan berat hati, ia mengambil senjatanya,


Sebuah pedang berukiran Naga terlihat di tangannya, setelah menghela nafas dalam-dalam, ia mengayunkan pedangnya.


"Dragons Aura! Dragon Soar To The Sky!"


Dengan cepat tebasannya membentuk Gelombang Aura dan menghantam pasukan musuh yang bergerak ke arahnya.


Dibawah cahaya rembulan yang tertutup salju, pertempuran di depan Gerbang Kota tersebut akhirnya dimulai, dalam waktu yang singkat kerusakan besar terjadi di area pertempuran tersebut.


————


**Sekedar pengumuman,


Pertama, saya ingin meminta bantuannya untuk memberikan kembali penilaian bintang 5 pada karya ini, bintang saya yang sebelumnya telah diturunkan secara drastis oleh seorang oknum yang ya... begitulah tahu sendiri lah ya, males saya ngomongnya.


Dan yang kedua, saya mohon untuk para pembaca cerita ini membagikan komentarnya di kolom komentar, saya tuh sebenarnya pengen ngajukan kontrak, tapi kayaknya ga bisa deh melihat pembaca saya yang budiman-budiman sekali, like aja masih sepertiga dari jumlah view.


Oiya, saya minta tolong sama kalian, share cerita ini ke temen-temen kalian biar readers saya makin naik, dan saya semangat upnya, saya sedih melihat jumlah view yang semakin nurun per harinya, niat saya pengen nunggu read nambah eh malah makin berkurang sedih jadinya.


Dan terakhir, Yuk Join di GC saya! Besok malam, akan ada event Q&A yang di adakan di GC saya, agar semakin meriah yuk, ikutan juga! Ga dipungut biaya, langsung joins aja!


Yaudah itu aja malah jadi curhat kan.


Ok See You in the next Chapter! Bye!

__ADS_1


***


Jangan lupa Like, Fav, dan Komen di Kolom Komentar!


__ADS_2