Guardians : Legend Of Leo

Guardians : Legend Of Leo
Ch.75 Hubungan — Arc 1 Ramalan Dan Hubungan — End


__ADS_3

Lily menarik kembali bayangan-bayangannya. Penampilannya yang dipenuhi bayangan gelap kembali berubah menjadi seperti gadis kecil yang lugu dan polos, tidak terlihat sedikitpun kekejaman pada dirinya.


Gadis kecil itu mendekati Leo dan duduk di sebelahnya. Ia melihat ke sebelah kiri dan kanannya, hutan yang sebelumnya menutupi bagian bawah gunung yang menjulang di dekatnya hangus dan hancur tak bersisa, bahkan beberapa hektar tanah terlihat hancur berantakan.


Bisa dilihat sebelumnya terjadi pertempuran besar disana dan kemungkinan hanya beberapa orang yang menyebabkannya.


Lily mengembalikan pandangannya ke arah Leo. Setelah mendapatkan ingatannya kembali, ia tersenyum penuh kebahagiaan.


Sebelum kehilangan ingatannya, Lily adalah seorang wanita biasa yang melawan kejamnya takdir dan kehidupan.


Penghinaan, pelecehan, penyiksaan, apapun itu penderitaannya sudah ia rasakan. Setelah nyaris putus asa dan mengakhiri hidupnya, cahaya harapan memeluknya.


Itu adalah seorang pria yang nampak serupa dengan pemuda di hadapannya saat ini.


Pria itu mengajarinya cara untuk membela diri dari orang-orang jahat yang ingin bermacam-macam dengannya. Bukan hanya itu, pria itu bahkan mengajarinya banyak hal termasuk tentang kebahagiaan dan kasih sayang yang telah lama ia lupakan.


"Pak tua, mengapa kau datang kepadaku? Bukankah aku hanya seorang gadis kecil lusuh yang tidak mempunyai apapun yang spesial?" Lily mengingat kembali kenangannya saat ia menanyakan alasan mengapa orang tua itu menyelamatkannya beberapa puluh tahun yang lalu.


"Apa? Adakah alasan untuk itu? Jika ada mungkin itu karena kau mengingatkanku akan istri kecilku yang sudah tiada.


Ia selalu disiksa dan dibedakan di keluarganya, aku tak tahan saat mengingat bagaimana ia selalu menangis di setiap malam ketika aku masih di dekatnya dulu." Pria itu tersenyum kemudian menjadi muram dan kembali tersenyum lagi.

__ADS_1


"Pak tua, kau sangat aneh. Bukankah kau bilang istrimu disiksa? Mengapa kau tersenyum seperti itu?" Lily memasang wajah waspada dan curiga sebelum disambut oleh tawa dari pria tua itu.


"Memang benar ia disiksa, bahkan ia tidak mau mengaku padaku. Tapi, jika bukan karena penderitaannya aku mungkin tidak memiliki kesempatan untuk mendekatinya.


Dia memiliki pesona misterius yang bisa menarik hati setiap pria yang melihatnya." Pria itu menjelaskan. Ia dengan sangat sadar mengetahui bahwa penderitaan yang dialami istrinya memang benar adalah hal yang tak bisa dimaafkan, tapi disisi lain, penderitaan itu juga yang mempertemukan keduanya.


Pria tua itu tersenyum dan menatap Lily dengan sangat hangat. Lily yang masih kebingungan segera menggelengkan kepalanya.


"Lily. Aku ingin meminta tolong padamu, andaikan kau bisa menemukan anakku nantinya, kumohon jagalah dia sebaik mungkin.


Dia mungkin akan menyebabkan banyak masalah, tapi aku yakin dia juga memiliki hati yang baik dan kemungkinan besar akan menyerupai aku, ayahnya. Jadi Lily jagalah dia."


Lily menggelengkan kepalanya saat ingatan itu berhenti mengalir. Kenangan indah yang juga sangat pahit itu membuat air matanya menetes.


Setelah Pria itu menghilang, ia baru merasakan kekosongan dan kehampaan yang pernah ia rasakan dan kali ini rasa sakitnya bahkan lebih parah dari yang pertama kali ia rasakan. Kehilangan sosok ayah terlalu menyakitkan untuk Lily yang hidupnya sudah seperti di neraka.


"Aku bahkan belum sempat menanyakan namamu, tapi kau telah pergi lebih dulu dariku," Lily menumpahkan lebih banyak air matanya, kali ini diikuti dengan suara tangis yang perlahan makin terdengar jelas.


Saat gadis itu akhirnya menangis dengan tersedu-sedu, sebuah sentuhan hangat menyentuh lembut kelopak matanya.


Sentuhan yang sangat tidak asing bagi gadis tersebut. Kehangatan tulus yang sepenuhnya mengabaikan latar belakang dan asal usul gadis itu.

__ADS_1


Sentuhan hangat yang penuh kasih sayang layaknya seorang ayah. Lily sangat mengingatnya dengan jelas, sentuhan yang sama dengan yang ia rindukan.


Saat gadis itu membeku karena perasaan senang yang tak tertahankan, mulutnya secara reflek mengucapkan sepatah kata.


"Pak tua ..." Matanya menjadi lebih berair dan ia mengangkat wajahnya, gadis kecil itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sosok ayahnya setelah sekian lama.


"Gadis kecil, aku masih hidup. Bagaimana bisa kau menyebutku telah pergi." Senyuman yang sama dengan yang diperlihatkan oleh Pria tua itu terukir di wajah Leo, meskipun sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu pria itu kembali, Lily merasa sedikit senang karena bisa menepati permintaan sederhana pria tersebut.


"Kau benar, dia adalah pembawa masalah ...." Lily tersenyum dengan bahagia sebelum kemudian menggelengkan kepalanya dan mengalihkan topik.


Leo yang tidak ingin mengganggunya, hanya mengikuti keinginan gadis tersebut dan kemudian berbicara dengan santai seperti biasanya.


————


Arc I End — Ramalan dan Hubungan


————


Thanks For Reading.


Dan terima kasih telah menemani author sampai hari ini. Saya selaku Author mengucapkan terima kasih dan tunggu terus kelanjutan dari cerita ini ya, di Arc Kedua cerita ini baru akan berjalan sepenuhnya.

__ADS_1


Sekali lagi, terima kasih dan sampai jumpa di chapter selanjutnya!


————


__ADS_2