
Kota Bargh, area perdagangan kota.
Satu-satunya tempat yang paling hangat di kota tersebut. Hal ini di karenakan tempat itu memang merupakan bangunan 12 lantai yang sengaja dibangun dengan sangat luas dan memiliki ventilasi yang disesuaikan dengan suhu diluar, sehingga membuat suhu di dalam area perdagangan tidak terpengaruh dengan suhu yang ada di luar bangunan tersebut.
Di dalam bangunan itu sendiri, terdapat banyak orang yang berdagang dan berbelanja. Mereka tahu, tidak mungkin untuk melakukan aktifitas dagang diluar dari bangunan itu dikarenakan suhu dan cuaca di kota tersebut sangat tidak terduga, ditambah dengan bandit dan perampok yang sering berkeliaran di dekat kota itu, membuat mereka enggan mempertaruhkan nyawa hanya untuk berbelanja dan berdagang.
Di antara ramainya orang yang berlalu-lalang itu, terlihat seorang kakek tua sedang berkeliling mencari sesuatu.
Ia terus mencari dan berkeliling area perdagangan itu sebelum akhirnya sesuatu menarik perhatiannya.
Ia melangkah mendekat, hal itu tidak lain adalah secangkir kopi hangat yang terletak di sebuah meja dan berada di salah satu kios di area dagang tersebut. Dengan pakaian dan penampilannya yang acak-acakan semua orang yang melihatnya pasti akan berpikir bahwa dia adalah seorang pengemis yang sedang mencari tempat untuk mengemis.
Segera setelah pemilik kios itu melihatnya, sebuah cangkir yang terbuat dari keramik melayang ke kepala kakek tersebut,
"Hei! Kau! Menjauh dari sana! Kau hanya akan membuat para pembeliku menjadi jijik dengan penampilanmu itu! Cepat pergi!" Pemilik kios itu berseru keras dengan nada tinggi pada kakek tersebut.
Kakek itu hanya melihat pemilik kios itu dengan tatapan tidak senangnya, ia sadar dengan pakaiannya yang seperti itu semua orang pasti akan langsung menganggapnya seorang pengemis, atau paling tinggi ia hanya akan di anggap sebagai gelandangan.
Kakek itu menghela nafasnya, ia sadar tidak ada gunanya marah pada orang itu, lagipula sebelum melakukan hal ini, ia juga sudah menyiapkan mentalnya.
"Tidak ada gunanya marah sekarang, aku masih punya tugas untuk dilakukan" Kakek itu bergumam pelan sebelum akhirnya melangkah pergi dari kios itu.
Ia kembali mengelilingi area perdagangan itu sejenak, sebelum akhirnya melangkah keluar dari sana.
Hawa dingin segera merasuki tubuhnya setelah cukup lama berada di tempat yang hangat tersebut.
Seakan tidak terganggu ia kembali melangkahkan kakinya, tidak ada hal lain dipikirannya selain pergi dari sana secepatnya.
Tetapi, belum sempat melangkah terlalu jauh, seorang pemuda datang mendekat padanya.
Senyum sinis terukir di wajah pemuda itu, terlihat niat pemuda itu jelas tidaklah baik.
__ADS_1
Ia semakin mendekati kakek tersebut, sementara kakek itu hanya diam dan menatap dingin pemuda tersebut.
Segera ia mengeluarkan pisau kecil di belakang punggungnya dan mengarahkan pisaunya ke kakek tersebut.
Kakek itu tidak menghiraukannya dan kembali melanjutkan langkahnya, tapi sekali lagi pemuda itu kembali menghentikan langkahnya.
"Kakek, berhenti dulu mari kita berbicara sebentar aku tahu kau pasti mendapatkan barang bagus di dalam sana"
Tatapan dan senyuman pemuda itu terlihat jelas ditunjukkan untuk merendahkan kakek tersebut.
Kakek itu kembali menunjukan tatapan dinginnya pada pemuda itu, tetapi pemuda itu malah semakin merendahkannya.
"Oh, apa ini? Apakah kau pikir aku takut dengan tatapanmu? Kau terlalu merendahkanku" Ucap pemuda itu sambil mengejek kakek tersebut.
"Apa yang kau inginkan, jika kau mencoba memerasku lebih baik pergi, atau kau tidak akan pernah mendapatkan kesempatan itu lagi"
Kakek itu sudah mulai kehabisan kesabarannya, sehingga tanpa ia sadari, ia mengucapkan kalimatnya tersebut dengan tatapan dan suara yang dingin.
"Oh ya? Mari kita lihat apa yang bisa kau lakukan dengan tubuh kurusmu itu!"
Dengan cepat, pemuda itu melayangkan pisaunya pada kakek tersebut.
Kakek itu hanya diam sambil memberi satu kali lagi kesempatan pada pemuda itu.
"Aku masih bisa bersabar padamu jika kau menghentikan seranganmu sekarang juga, jika tidak, jangan salahkan aku jika aku tak berbaik hati padamu" Kakek itu mundur tiga langkah dari tempatnya berdiri sebelumnya, dan langsung menatap dingin pemuda itu.
Hawa dingin segera meluap dari kakek tersebut, tetapi pemuda itu seakan tidak peduli dan kembali mengejar kakek tersebut.
Kehabisan kesabarannya, kakek itu menghilang dari pandangan pemuda tersebut dan langsung berpindah ke belakangnya.
Pemuda itu tidak bisa melihat gerakan kakek tersebut, dan dalam hitungan detik, darah mengalir dari lehernya dan segera mengalir deras beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Kakek itu kembali melihat ke arah jasad pemuda tersebut, dan dengan cepat ia memindahkannya ke tempat yang tidak bisa dilihat oleh banyak orang.
Jejak darah yang sebelumnya tercipta kemudian segera tertutup kembali oleh derasnya salju yang jatuh.
Dalam waktu singkat, pemandangan di sana kembali menjadi normal seakan tidak pernah ada yang berubah sebelumnya.
~•~
Sementara itu di tenda yang berada sedikit ke arah utara kota tersebut, situasi tidak berjalan begitu baik.
Salah satu orang yang diperintahkan untuk memeriksa bagian dalam kota tersebut ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa.
Hal ini membuat pria dengan pakaian dari bulu serigala itu menjadi murka dan kehabisan kesabarannya.
"Apa-apaan dengan hasil pekerjaan ini! Kalian tahu bukan, jika kita gagal melaksanakan tugas ini, kita bahkan tidak akan bisa bertahan dari amukan kakek tua itu! Tapi lihat hasil pekerjaan kalian?" Pria itu berkata dengan suara yang keras, bahkan suaranya terdengar sampai beberapa meter dari tenda tempatnya berada.
Para bawahannya hanya tunduk dan mendengarkan amukan pria tersebut, mereka sadar, yang diucapkan pria tersebut memang tidak salah.
Mungkin jika pria itu mengamuk, masih akan ada beberapa orang yang lolos dari amukannya, tetapi jika kakek tua yang disebutkan pria itu yang mengamuk maka tidak ada satupun orang yang bisa lolos darinya.
"Argh! Aku sudah tidak tahu lagi! Kita sudah tidak punya banyak waktu yang tersisa, segera kumpulkan para pasukan dan bersiap untuk menyerang kota! Kita harus bertaruh pada kesempatan ini, berharaplah kita mendapatkan keberuntungan kali ini!" Pria itu berseru keras memberi perintah pada anak buahnya.
Sesaat setelah anak buahnya berpencar dan menuruti perintahnya, ia menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur yang ada di dalam tenda.
Rasa sakit yang teramat sangat berdenyut di kepala pria tersebut, dengan perasaan ragu dan gelisah, ia mencoba memejamkan matanya dan beristirahat sebelum menghadapi pertempuran yang sudah berada di depan matanya tersebut.
Sekali lagi, ia tidak menyadari bahwa naga yang sebelumnya mengawasinya, masih belum meninggalkannya dan bersembunyi tidak jauh dari pria itu.
————
Jangan lupa Like, Fav, dan Komen di Kolom Komentar!
__ADS_1