
Suasana desa terlihat cukup tenang, dengan hamparan sawah yang sudah berwarna hijau dan terlihat siap dipanen.
Di tengah keramaian desa tersebut Leo sedang mencari makanan ditemani oleh Ariel yang selalu mengikutinya kemanapun pemuda itu pergi.
Ia sudah berkeliling cukup lama namun belum menemukan penjual makanan maupun restoran.
Leo terus melanjutkan mengelilingi desa tersebut bersama Ariel dan berjalan masuk lebih dalam ke desa yang cukup luas tersebut.
Setelah berjalan cukup lama Leo dan Ariel menemukan penjual makanan di desa tersebut. Dengan cepat mereka masuk dan duduk di meja yang berada di tengah ruangan tersebut.
"Ariel, kau mau yang mana?"
Leo bertanya setelah melihat menu yang tersedia, ia tidak tahu selera gadis tersebut sehingga ia menanyakannya.
"Aku ingin yang seperti punyamu"
Leo menutup daftar menu yang di pegangnya sebelum memesan dua porsi makanan yang sama.
"Aku ingin dua Mie ayam porsi besar. Oh iya bisakah kau menambahkan sedikit kecap di dalamnya?"
"Baiklah, Tuan."
Ariel melihat heran pemuda tersebut, ia tidak mengira dari semua menu yang ada, pemuda itu akan memilih Mie ayam.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Mie ayam itu enak, aku sangat menyukainya."
Pemuda itu terlihat tidak sabar menunggu pesanannya dan menanti dengan antusias.
Ariel tertawa geli melihat pemuda tersebut. Sebelumnya, ia tak pernah sekalipun melihat ekspresi seperti ini di wajah Leo.
Selang beberapa saat kemudian, hidangan mereka akhirnya datang.
"Dua porsi besar Mie ayam, dengan tambahan kecap di dalamnya telah siap! Silahkan di nikmati" Pelayan yang mengantar pesanan Leo tersenyum lucu melihat sikap Leo yang seperti anak-anak.
Leo terlihat semakin antusias dan langsung menyantap hidangan tersebut.
Ariel tersenyum geli, menahan tawanya. Ia tidak pernah menduga pemuda yang selalu bersikap tenang dan pendiam di depannya itu akan kehilangan ketenangannya di hadapan seporsi Mie ayam.
Penasaran dengan raut wajah Leo yang seakan-akan sangat menikmati makanan tersebut, Ariel mencoba mencicipi Mie ayam miliknya.
Perasaan puas seketika terasa di lidah gadis itu, ia tak pernah menduga porsi besar Mie ayam yang di tambah sedikit kecap bisa terasa seenak ini.
"Bagaimana? Enak bukan? Aku selalu memakannya seperti itu, aku merasa takaran kecap yang diberikan sebelumnya selalu kurang, sehingga aku lebih sering menambah kecapnya agar terasa lebih nikmat"
Ariel hanya tersenyum hangat sebelum melanjutkan menyantap hidangannya, ia tak pernah mengira bahwa pemuda di hadapannya akan menjadi sedikit lebih akrab dengannya melalui seporsi Mie ayam.
~•~
Leo dan Ariel melangkah keluar dari tempat makan tersebut.
Terlihat ekspresi puas pada wajah pemuda tersebut, sedangkan Ariel hanya tersenyum lucu melihat wajah pemuda tersebut.
"Ah, sudah mulai gelap"
Leo memperhatikan sekitarnya, hari sudah mulai gelap karena memang mereka lebih banyak membuang waktunya mencari penjual makanan daripada menikmati hidangannya.
__ADS_1
"Apakah kau puas dengan makanannya?"
"Iya, tapi aku lebih puas saat melihat ekspresi lucumu"
Ariel hanya tertawa geli setelahnya. Dan Leo hanya memperhatikan gadis tersebut.
Entah sejak kapan keduanya sudah sangat dekat seperti ini.
Leo tersenyum lembut sambil memandang langit.
"Rose, apa kabarmu disana?"
Leo memejamkan matanya sebelum kembali berjalan pulang ke penginapan yang mereka sewa sebelumnya.
Hari sudah malam saat Leo dan Ariel sudah dalam setengah perjalanan pulang ke penginapan.
Berbeda dengan daerah utama desa, tempat yang mereka lewati sekarang terasa sangat sepi dan masih dikelilingi oleh hutan.
Leo merasakan ada hawa berbahaya mengintainya, tetapi ia tidak memperdulikan hawa kehadiran tersebut.
"Ariel jangan menjauh dariku"
Leo menarik tangan gadis tersebut dan mendekatkan tubuhnya dengan gadis tersebut.
Ariel merasa sedikit kebingungan dengan sikap Leo dan hanya menuruti permintaan pemuda itu.
"Ada apa Leo?"
Ariel melihat perubahan ekspresi Leo, dan melihat pemuda itu sudah dalam keadaan waspada sekarang.
~•~
Tidak jauh dari lokasi Leo, terlihat dua orang gadis muda yang tengah berjalan pulang menuju rumah mereka.
Terlihat bahwa mereka sangat akrab satu sama lain dan bisa ditebak hubungan keduanya adalah kakak dan adik.
Mereka awalnya bercanda tawa sambil melewati hutan perkebunan desa tersebut.
Mereka hanya terus tertawa dan berjalan tanpa menyadari ada bahaya yang tengah mengintai mereka.
"Ara, kau benar-benar mau di ajak berkencan dengan pria tadi? padahal kau tahu betapa buruknya dia disini"
Seorang gadis tertawa mendengar curhatan gadis lainnya yang dipanggil dengan Ara itu.
"Aku hanya tidak tahu kalau dia adalah orang yang kalian bicarakan. Namanya sedikit berbeda dengan yang kalian ceritakan padaku."
Gadis yang disebut Ara itu menunjukkan ekspresi sedihnya karena merasa malu dengan pilihannya menerima ajakan pemuda yang baru ia temui sebelumnya.
"Arlina! Hentikan tawamu, itu tidak lucu kau tahu!"
Ara terlihat sedih mendengar Arlina yang tidak berhenti tertawa disampingnya.
Di tengah tawa Arlina, Ara melihat sesosok bayangan hitam bergerak dengan kecepatan tinggi.
"Arlina!"
__ADS_1
Ara menunjuk ke arah dimana ia melihat bayangan tersebut.
"Apa?"
Arlina hanya menatap bingung adiknya tersebut.
"Itu, disana aku melihat sesuatu! Aku tidak berbohong! Aku benar-benar melihat sesuatu disana!"
Arlina kembali menatap heran gadis tersebut sebelum mengucapkan bahwa ia mungkin telah salah melihat.
"Tidak! Aku benar-benar melihat sesuatu disana, aku serius!"
Arlina mengerutkan dahinya,
"Sudahlah, lebih baik kita tetap berjalan. Aku takut jika nanti kita malah bertemu dengan orang jahat"
Ara menyetujui ucapan kakaknya itu dan mempercepat geraknya sambil melihat ke tempat dimana ia melihat bayangan hitam tersebut.
Saat Ara menengok ke arah tempat tersebut bayangan hitam itu kembali terlihat, tidak hanya satu, kali ini bayangan itu terlihat lebih banyak dan terlihat mendekat ke arah mereka.
"Arlina! Itu!"
Ara menjadi panik saat melihat bayangan tersebut kini secara terang-terangan memburu mereka berdua.
"Lari! Ara lari!"
Dengan panik, mereka berlari menjauhi bayangan tersebut.
Bayangan itu juga terlihat bergerak mengejar mereka dengan kecepatan tinggi.
Keduanya hanya bisa berlari dengan putus asa saat bayangan tersebut mengejar mereka, jarak di antara mereka juga semakin menipis dari waktu ke waktu.
"Ara, larilah! Cepat minta pertolongan pada Tuan Capricorn!"
Arlina dengan putus asa menyuruh adiknya terus berlari, sementara kakinya sudah terasa sangat berat dan nafasnya terasa sangat berat dan mulai terputus-putus.
Ara menuruti perintah sang kakak tanpa berpikir lagi, kini ia hanya ingin terus hidup lebih lama bersama sang kakak.
"Arlina..."
Ara terdiam melihat kakaknya kini dikepung puluhan bayangan hitam tersebut.
Arlina akhirnya dapat melihat dengan jelas wujud asli bayangan hitam itu, bayangan itu tidak lain adalah Ashura yang memiliki wujud menyerupai macan, dengan taring pendek yang sangat tajam dan mata ungu yang menyala.
Arlina jatuh berlutut saat puluhan Ashura itu kini mengelilinginya dan melirik ke arah adiknya.
Dengan senyuman putus asa di wajahnya, Arlina memejamkan matanya dan pasrah menerima serangan dari puluhan Ashura itu.
Tepat sebelum cakar salah satu Ashura mengenai tubuh gadis tersebut, sebuah pedang yang diselimuti api menebas cepat cakar Ashura tersebut dan memisahkannya dari kaki depan Ashura itu.
Arlina membuka kembali matanya dan melihat seorang pemuda tengah berdiri tegap dihadapannya dengan sebilah pedang dan seorang gadis berada dalam dekapannya.
————
**Jangan lupa share cerita ini pada teman maupun orang terdekat kalian agar cerita ini bisa dinikmati oleh banyak orang dan terus berkembang menjadi lebih baik ke depannya.
__ADS_1
Jangan lupa dukung Author dengan menekan tombol Like, Fav, dan Komen di kolom komentar**!