
Grubuk!
Leo jatuh berlutut dan menjadikan pedangnya sebagai tumpuan.
Napasnya terdengar sangat berat dan matanya sudah sayu seakan bisa tertutup kapan saja.
Myrthe yang berada disebelahnya tidak lebih baik lengan kanannya terluka parah dan napasnya sudah mulai terputus.
Di hadapan kedua pemuda tersebut, tiga orang tersisa dengan seorang Kakek tua ditengahnya sedang menahan sakit dari luka tusuk yang terbuka dan terlihat jelas di perutnya, dua orang lainnya juga tidak dalam keadaan yang lebih baik.
"Hey, Nak." Myrthe memanggil Leo dengan susah payah. Napasnya yang mulai terputus-putus memotong di sela-sela ucapannya.
Leo hanya menengok sejenak sebelum kembali fokus dengan orang-orang dihadapannya.
10 orang yang tersisa sebelumnya telah berhasil ia bunuh dan hanya menyisakan 3 orang yang saat ini berada beberapa meter di depannya.
"Segera habisi mereka selagi kau bisa, aku punya firasat buruk tentang ini. Aura dengan tekanan besar terasa mendekat dari kejauhan—" Myrthe terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
__ADS_1
"Diamlah dulu, hidupmu masih panjang. Kau bahkan terlihat lebih muda dariku, jangan sia-siakan hidupmu." Leo berkata dengan lemah, tenaganya benar-benar terkuras habis dan Auranya nyaris tak bersisa.
3 orang di hadapannya itu pun hanya diam memantau keadaan, mereka terluka parah sama seperti Leo dan Myrthe hanya saja mereka memiliki keunggulan dalam jumlah dan kekuatan. Jika mereka memilih bergerak sekaranglah waktu yang tepat, karena jika mereka membiarkan Leo dan Myrthe mendapatkan kembali kekuatan mereka, hanya kematian yang menunggu masa depan ketiga orang tersebut.
Kakek tua yang memimpin kelompok ke empat belas orang itu membuka mulutnya, "Bocah, kau tidak buruk. Andaikan kita tidak memiliki pertentangan aku ingin menjadi sekutumu alih-alih musuhmu," Kakek tua itu menahan darah yang hendak menyembur keluar dari kerongkongannya.
"Sayangnya Kita adalah musuh sekarang, dan kau terlalu cepat muncul. Sayang sekali tapi inilah akhirmu nak, Sampai jumpa!" Kakek itu menghilang bersama dengan dua orang di sebelahnya. Gerakan mereka terlalu cepat untuk ditangkap oleh penglihatan Leo yang telah memburam dan tertutup oleh warna merah dari darahnya.
Leo tersenyum dan mendorong Myrthe dengan kekuatannya yang tersisa, ia telah memprediksi arah serangan ketiga orang tersebut dan menggunakan jeda waktu yang sangat singkat itu untuk menyelamatkan Myrthe.
Leo yang sudah kehabisan tenaganya menjadi waspada sebelum menyadari siapa yang menyelamatkannya.
Seorang gadis kecil yang anggun dengan iris mata hijaunya yang menyala terang. Bayangan gelap disekitarnya sangat tidak cocok dengan penampilan lugu gadis kecil tersebut.
"Lily ...?" Leo mencoba melihat dengan lebih baik dan membersihkan darah di sekitar matanya. Hasilnya? Pemandangan Lily yang diselimuti bayangan gelap dan cahaya hijau aneh di matanya justru semakin jelas.
Leo yang kebingungan akhirnya memilih duduk dan memulihkan tenaga dan Auranya secepat mungkin. Ia tidak menyadari bahwa masalah lain sedang menuju ke arahnya saat ini.
__ADS_1
***
Lily melayang mendekat ke arah Leo. Tetapi, bayangan hitam gelapnya tidak berhenti mengikat ketiga orang yang mencoba menyerang Leo sebelumnya.
Gadis kecil itu melirik ke arah Leo dan mengusap darah yang hampir mengering di jidatnya.
"Kau telah berjuang, biarkan aku yang membantumu kali ini, Pahlawanku." Lily tersenyum sejenak sebelum akhirnya kembali ke penampilan awalnya yang datar dan sedikit mengerikan.
Bayangan gelap yang menghiasi tubuhnya di ubah menjadi tombak yang runcing, ia memunculkan ratusan bayangan lainnya sebelum meruncingkan dan akhirnya menusukkannya ke orang-orang yang di ikat oleh bayangan miliknya.
"Ini sudah berakhir."
————
Thanks For Reading!
————
__ADS_1