
Taurus membuka matanya secara perlahan dan mendapati dia sedang di angkut oleh seorang pemuda ke suatu tempat yang belum pernah dilaluinya sebelumnya. Kepalanya masih terasa sedikit sakit dan berputar-putar, sedangkan ia lupa apa yang terjadi terakhir kali kecuali sebuah beban besar seperti dijatuhkan padanya dan membuatnya kehilangan kesadaran.
"Uhh.. kepalaku masih terasa sakit.. nak, bisa kau turunkan aku? aku sudah bisa berjalan sendiri."
Taurus meminta Leo menurunkannya, dia merasa sudah bisa berjalan dengan kekuatannya sendiri.
"Baiklah, tapi Senior Taurus harus istirahat sebentar disini, aku akan mengantar Tetua Agung ke Guruku, ia adalah ahli pertempuran dan juga ahli medis. Mungkin ia bisa menyelamatkan Tetua Agung."
Selepas mendengar ucapan Leo barulah Taurus teringat apa yang terjadi padanya dan Aula Tetua. Taurus merasa menyesal tidak bisa melindungi Aula Tetua padahal ia sedang berada di tempat itu sebelumnya.
"Tidak, aku sudah tidak apa-apa. Aku ingin ikut denganmu dan melihat kondisi Tetua Agung."
Taurus menyesuaikan keseimbangannya. Setelah kehilangan kesadaran, kekuatan Aura Taurus banyak terkuras untuk mengobati lukanya. Taurus masih beruntung hanya kekuatannya yang berkurang, dan hidupnya masih tertolong berkat Leo, dan dia tahu dengan jelas bahwa Pemuda misterius yang mengalahkannya sudah diatasi oleh Leo.
"Maaf Senior tapi apa kau bisa berlari? Tetua Agung sudah dalam keadaan kritis, kita harus segera mengantarnya atau kita akan terlambat untuk selamanya."
Leo mengingatkan Taurus akan kondisi Tetua Agung yang harus segera di obati atau dia tidak akan terselamatkan lagi.
"Baiklah, aku sudah bisa berlari sekarang"
Mereka berdua menaikkan kecepatan geraknya dan bergegas menuju tempat dimana Leo dan kekasihnya, Rose berlatih.
Setelah berlari selama setengah jam, keduanya sampai di depan pintu sebuah rumah sederhana di dalam hutan. Bangunannya sangat sederhana dan tidak terlalu besar dengan halaman yang cukup luas untuk berlatih dan terlihat beberapa pajangan pedang di sekitar Rumah tersebut.
Leo mengetuk pintu rumah itu dan membawa masuk Tetua Agung bersamanya. Terlihat seorang Pria tua sedang duduk sambil meminum tehnya dengan tenang
"Guru! Murid memberi hormat!"
Leo memberi hormat pada gurunya sebelum meminta pria tua itu untuk menolong Tetua Agung yang dibawanya.
Pria tua itu kemudian menaruh cangkir tehnya dan dengan cepat memeriksa keadaan Tetua Agung.
"Tidak biasanya kau meminta tolong kepadaku, biasanya kau hanya meminta saran dan pendapat dariku, tetapi kali ini situasinya berbeda ya... Leo keluarlah dulu aku akan mencoba semua yang kubisa untuk mengobatinya."
__ADS_1
Leo menuruti permintaan Gurunya dan segera keluar setelahnya.
Begitu Leo keluar dari rumah itu, Taurus terlihat sangat khawatir dan langsung menanyakan keadaan Tetua Agung.
"Aku masih belum tahu, tapi semoga tidak terjadi apapun pada Tetua Agung."
Taurus terdiam dan merenung, andaikan terjadi sesuatu pada Tetua Agung maka sudah bisa dipastikan kedepannya akan sangat susah bagi para Guardians untuk menghadapi Bencana besar yang sudah diramalkan.
Keduanya kini hanya bisa berharap semoga tidak terjadi apa-apa pada Tetua Agung.
~•~
Berita tentang penyerangan Aula Tetua menyebar dengan cepat ke seluruh Kerajaan menyebabkan terjadi kekacauan disejumlah wilayah yang berada dibawah naungan Aula Tetua.
Ditengah kerumunan massa yang menginginkan penjelasan dan pertanggung jawaban dari Aula Tetua, Seorang lelaki muda dengan wajah tampan mencoba menerobos.
Dengan susah payah ia melewati kerumunan massa yang berdesak-desakan menuju Aula Tetua, tujuan lelaki muda itu sendiri adalah pergi ke Aula Tetua untuk menghadiri pertemuan Para Tetua, ia terlambat 3 Hari setelah melakukan perjalanan dari tempat yang jauh dan harus memutar karena berbagai macam Halangan, seperti badai, banjir, longsor, gempa dan bencana alam lainnya.
Tetapi, setelah susah payah sampai ke Pelabuhan Kota Tresch, ia justru mendapat berita bahwa Aula Tetua telah diserang. Hal ini membuatnya bergegas menuju ke Aula Tetua dan berakhir terjebak dalam kerumunan orang.
"Hormat pada Guardians! Tuan Scorpio, silahkan masuk ke dalam. Maafkan atas sikap kami yang tidak sopan sebelumnya!"
Penjaga gerbang itu mengantar Lelaki bernama Scorpio itu untuk masuk ke dalam Aula Tetua.
Scorpio bergegas menuju Aula Utama dan melihat bekas pertempuran yang terjadi.
"Ini... "
Scorpio terkejut melihat bekas pertempuran yang terjadi di dalam Aula Utama. Terlihat jelas bahwa ada banyak serangan Gelombang Aura yang menghantam dinding dan tiang pondasi Aula utama.
"Ah, ini Aura milik Taurus! Dengan siapa ia bertarung sampai harus mengeluarkan kekuatan penuhnya!"
Scorpio menyadari sisa Aura yang ada di sekitar Aula Utama adalah milik Taurus. Ia mengetahui apapun yang bertarung dengan Taurus pasti memiliki kekuatan yang cukup besar bahkan bisa membuat Guardians dengan Pertahanan terkuat mengeluarkan seluruh kemampuannya.
__ADS_1
Scorpio mematung sebelum akhirnya mencari informasi lebih banyak tentang penyerangan tersebut.
~•~
Leo dan Taurus sudah menunggu cukup lama sebelum akhirnya Guru Leo keluar dan memanggil mereka.
Wajah pria tua itu terlihat buruk, dan tidak ada yang tahu bagaimana nasib Tetua Agung diantara mereka berdua.
"Leo, kurasa kau dan temanmu harus masuk ke dalam, aku sudah mencoba semampuku untuk menyelamatkannya, tetapi aku hanya bisa mempertahankan nyawanya sampai esok hari, kuharap kalian tidak ada yang protes tentang hal ini."
Wajah Pria tua itu nampak bersalah, ia tahu bahwa orang yang dibawa Leo memiliki pengaruh yang cukup besar dalam Kerajaan Euthorea.
"Andaikan kalian membawanya 2 hari yang lalu, mungkin aku bisa membantunya."
Leo, Taurus dan Gurunya masuk ke dalam rumah milik Pria tua itu.
"Nadinya rusak, Organ dalamnya juga ada yang rusak karena kekurangan darah dalam jumlah yang banyak, penyebaran oksigennya sudah mulai tak beraturan."
Pria tua itu menjelaskan keadaan Tetua Agung pada Leo dan Taurus. Keduanya hanya bisa mengangguk sambil melihat kondisi Tetua Agung yang kini nampak tenang dalam tidurnya, dan mungkin ia tidak akan bangun kembali seterusnya.
Taurus hanya menggenggam tangan Tetua Agung, ia meneteskan air matanya karena tahu akan kehilangan sosok yang dianggapnya sebagai ayah sekaligus pemimpin baginya.
Tetua Agung membuka matanya, pandangannya terlihat lemah, nafasnya seakan sudah hampir habis dan bahkan kedipannya terasa sangat lemah.
"Taurus... Kau.. harus.. menyatu..kan.. para... Guardians... Bencana ituu... tidak.. a..kan... bi..sa.. kalian hada...pi.. sendirian... kalia..n harus.. berlatih... membang..kitkan—uhuk"
Tetua Agung mengeluarkan darah dari tepi bibirnya. nafasnya semakin lemah.
"Tetua jangan banyak berbicara itu tidak baik untuk anda!"
Taurus semakin panik saat Tetua Agung batuk berdarah, bahkan nafasnya juga menjadi sangat lemah.
"Ka..lian.. Harus... membang..kitkan... Spirit... Aura! Hanya.. itu.. satu-sa..tunya.. cara... menye...lamatkan... Um..at... Ma..nu..sia..."
__ADS_1
Nafas Tetua Agung berhenti tepat setelah menyelesaikan kalimatnya. Tatapan matanya menjadi kosong, tubuhnya bertambah pucat, bahkan suhu tubuhnya ikut bertambah dingin. Tetua Agung telah menghembuskan Nafas Terakhirnya.