
Leo masih berdiri di dalam kesendiriannya sendiri, ia terus melihat kenangan demi kenangan yang pernah ia alami sebelumnya.
Setelah melihat masa-masa bahagianya, kenangan pahitnya saat kecil mulai muncul kembali.
Api terlihat berkobar di bangunan yang tak lain adalah rumah yang Leo dan ayahnya tinggali, sedangkan mereka berdua terlihat tengah berlari menjauh saat itu.
Tidak lama kemudian, terlihat banyak orang yang terbang cepat ke arah mereka.
Hal ini membuat Leo dewasa kebingungan, seingatnya tidak ada orang yang bisa melakukan itu di dunianya, bahkan orang terkuat yang mencapai Spirit Aura saja tidak bisa terbang dan melayang cepat seperti itu.
Mengesampingkan hal tersebut, Leo dewasa kembali melihat potongan kenangan itu dengan seksama.
"Raja Singa Langit! Berhenti melarikan diri seperti pengecut! Kau bisa saja menghancurkan kami jika kau mau, tetapi kenapa kau malah melarikan diri seperti itu!?"
Seorang pria dengan rambut putih panjang, dan jenggot yang tak kalah panjang, terbang mengejar Leo dan ayahnya.
Senyum sinis terlihat di wajah Pria yang memanggil ayah Leo dengan sebutan Raja Singa Langit tersebut.
Leo dewasa melihat raut wajah ayahnya, terlihat Pria tersebut sudah memikirkan hal yang disebutkan pria itu, tetapi ia harus mengorbankan hal yang sangat besar untuk melakukannya.
Pria itu menatap lekat anaknya, terlihat keputusasaan sudah merasuki pria tersebut, tanpa berpikir lebih jauh, Pria itu memilih menyelamatkan anaknya meski harus mengorbankan nyawanya sendiri.
"Leo..."
Pria itu mendekap anaknya yang berada tepat disampingnya itu, tetapi disaat yang bersamaan semua orang yang mengejar mereka berhasil mengepung mereka berdua.
"Nak, maafkan ayah. Ayah akan mengantarmu pergi jauh..." Pria itu berbisik di telinga Leo yang terlihat masih berusia sekitar 12 tahunan itu. Sedangkan Leo yang masih muda itu meneteskan air matanya sambil mengeratkan dekapan ayahnya.
"Ayah akan memberimu hadiah perpisahan, tunggu ayah disana ya. Ayah akan segera mengunjungimu nanti, setelah menyelesaikan masalah ayah yang ada disini"
Pria itu mengalihkan pandangannya dan menatap geram semua orang yang tengah mengepungnya dan anaknya. Perasaan marah dan dendam memenuhinya dan membuat tubuhnya mengeluarkan Qi tipis yang berwarna keemasan.
Ia mengalihkan pandangannya dan kembali menatap anaknya dengan lembut,
"Nak, ayah akan memberimu dua warisan. Pertama ayah akan memberimu Aura Singa Surgawi milik ayah, kau bisa mengubahnya sendiri nanti"
Pria itu mengecup kening anaknya, ia tahu ini mungkin terakhir kalinya mereka bertemu.
"Yang kedua, ayah akan memberimu Api dan Qi milik ayah. Ingat nak, kau hanya boleh menggunakan Qi milik ayah saat kau sudah mencapai tingkat yang setara dengan tingkat Qi Foundation. Jangan menggunakannya jika kau berada di bawah itu! Ayah akan menemuimu nanti"
Pria itu melepaskan dekapannya, ia tidak bisa menunda lebih jauh karena salah satu orang yang mengepung mereka sudah mulai menyerang mereka.
Ia menatap geram semua orang yang berada disana, terlihat amarah dan emosinya sudah sampai puncaknya.
"Aura Singa Surgawi"
__ADS_1
Pria itu berkata datar, tetapi terlihat Qi di tubuhnya meluap dahsyat hingga menekan semua orang di sekitarnya.
Qi keemasan miliknya meluap dan memberikan tekanan dahsyat ke tubuh musuh-musuhnya, bahkan tidak sedikit yang jatuh ke tanah dan langsung berlutut di hadapannya.
"Heh! Kalian masih berada di bawahku tapi sudah berani menyinggungku seperti ini? Kalian mencari mati!"
Dengan cepat ia membuka portal berwarna kuning keemasan.
"Leo, maafkan ayah. Ayah akan mengirimmu jauh ke masa depan dan ke tempat yang juga sangat jauh agar mereka tidak bisa mengejarmu, ayah minta maaf harus berbohong padamu sebelumnya. Ayah mencintaimu"
Pria itu tersenyum hangat pada anaknya, sebelum melempar anak itu ke portal emas yang ia buat.
Setelah melempar anaknya dan menutup portal miliknya, Pria itu menunjukkan tatapan bengisnya.
Semua yang ada disana nampak ketakutan, karena mereka sadar kalau mereka bukanlah tandingan Pria dihadapan mereka saat ini, mereka berani mengejar pria tersebut sebenarnya juga bukan karena kemauan mereka sendiri, melainkan ada kekuatan yang jauh lebih besar dari pria tersebut yang tengah mengancam mereka untuk mengulur waktu sehingga dia bisa datang dan menghabisi pria tersebut.
Pria itu menarik senjatanya,
Terlihat, sebuah pedang panjang berwarna emas dengan gagang yang berbentuk kepala singa berada di genggaman pria tersebut.
Ia dengan cepat mengayunkan pedangnya ke arah salah satu orang yang mengepungnya.
Sebuah energi besar berwarna emas nampak melayang dengan cepat setelah pria itu mengayunkan pedangnya dan menghantam orang tersebut.
Ledakan itu hanya menyisakan debu dan tidak ada tanda-tanda lagi dari orang yang terkena hantaman itu sebelumnya.
Semua orang yang berada disana kini menahan nafasnya, mereka sadar telah melakukan kesalahan dan hanya mengantar nyawa pada pria tersebut.
Saat semua orang tengah menatap takut dirinya, Theo yang dijuluki Raja Singa Langit itu kembali mengangkat pedangnya, ia berniat mengayunkannya pada orang lainnya, sebelum sebuah energi besar berwarna hitam mendekat dengan cepat ke arahnya.
Pria itu mengubah arah serangannya ke arah energi hitam tersebut.
Energi yang berasal dari Pria itu menghasilkan ledakan yang sangat dahsyat saat berbenturan dengan energi hitam yang menuju ke arahnya dan menghancurkan semua yang ada dalam lingkup ledakannya.
Tidak berselang lama, seorang pria tua dengan rambut yang sudah mulai memutih melayang perlahan ke arah Theo, dengan Qi putih yang meluap keluar dari tubuhnya, Pria itu menatap rendah Theo.
"Heh, tidak buruk. Bisa menahan seranganku seperti itu, berarti kau memang cukup pantas menyandang gelarmu itu."
Pria tua itu kembali mendekatkan jaraknya sambil menatap rendah Theo.
"Tapi sayangnya, itu masih belum cukup untuk melawanku!"
Dengan cepat ia melayangkan pukulan keras pada Theo, dan ditepis dengan cepat oleh Pria tersebut.
Keduanya kembali bertukar serangan dan menghancurkan daratan tempat mereka bertarung saat itu.
__ADS_1
***
Leo dewasa kini memperhatikan versi kecil dirinya yang perlahan membuka matanya.
Tubuh Leo kecil terasa sangat sakit dan kepalanya terasa berputar karena pusing.
Ia mencoba berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.
Tidak kehabisan akal, Leo kecil kini mencoba menggulingkan badannya berharap ada orang yang menyadari keberadaannya dan mau menolong dirinya.
Selang beberapa waktu kemudian, seorang gadis seusianya datang mendekat secara perlahan.
Gadis tersebut memiliki paras yang terbilang cantik untuk gadis seusianya.
Ia terus menatap penasaran ke arah Leo kecil sebelum membuka suaranya.
"Huh? Sedang apa kau di situ? Apakah kau sedang bermain?"
Pertanyaan polos gadis tersebut berhasil membuat Leo dewasa tersenyum, ia mengingat hal ini dengan jelas.
Gadis yang saat itu berada di hadapannya, tidak lain adalah gadis yang sampai sekarang masih menyisakan ruang dihatinya.
Leo dewasa menghela nafasnya, dan bergumam
"Andaikan waktu dapat diulang..."
Leo dewasa segera menggelengkan kepalanya, ia sadar tidak ada gunanya menyesali hal tersebut sekarang, itu sudah merupakan takdirnya, dan ia mengingat kembali tujuannya saat ini.
Yang sekarang harus ia lakukan hanyalah menjaga apa yang masih bisa ia jaga, tidak perlu menyesali masa lalu, karena itu sudah berlalu.
Leo menghela nafasnya, ia merasa sudah cukup lama berdiam di dalam kesendiriannya, sekarang sudah tiba waktunya untuk ia keluar.
Namun saat ia mencoba keluar, sesuatu yang kuat mencegahnya untuk kembali.
————
**Kesendirian: ranah kosong yang berada di dalam pikiran seseorang dan memuat berbagai kenangan serta perasaan yang sudah sejak lama dikumpulkan oleh pemiliknya, ranah ini bisa disebut juga sebagai Alam Bawah Sadar.
Sekian dulu dari saya Jangan lupa Like, Fav, dan Komen di Kolom Komentar.
Juga Jika Kalian Mau, silahkan Share pada teman-teman kalian ya, cerita GLOL ini.
Saya tidak memaksa, itu hak kalian untuk melakukannya atau tidak.
Sekian dari saya, sampai jumpa di chapter berikutnya**!
__ADS_1