Guardians : Legend Of Leo

Guardians : Legend Of Leo
Ch.07 Pemakaman Tetua Agung


__ADS_3

Taurus tidak bisa menahan air matanya saat Tetua Agung pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Sosok yang selama ini selalu baik kepadanya pergi meninggalkannya.


Taurus teringat kenangannya saat pertama kali ia bertemu Tetua Agung. Saat itu ia masih sangat muda dan tidak memiliki siapapun bersamanya, orang tuanya membuangnya, keluarganya tidak mencarinya, bahkan penduduk disekitarnya tidak memiliki sedikitpun iba padanya. Hanya Tetua Agung yang terus memelihara dan merawatnya seperti anak kandungnya sendiri.


Mulai dari ia tak memiliki harga apapun dihadapan penduduk kota, sampai saat ini dimana ia memegang kehormatan tertinggi memimpin Pasukan Khusus Kerajaan, dan memegang posisi Kepala keamanan Kerajaan, ia selalu didampingi oleh Tetua Agung, bahkan saat ia sudah menikah sekalipun Tetua Agung tidak pernah melupakannya dan menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri.


"Aku berjanji akan menepati harapanmu padaku, dan akan kuwujudkan permintaanmu dengan menembus tahap Spirit Aura. Tetua Agung— Tidak, Ayah, Aku akan mencapai puncak kekuatan dan menjadi Guardians Terkuat di Kerajaan Euthorea—"


Taurus teringat akan sesuatu.


"Mungkin setelah monster disampingku ini"


Taurus melihat ke arah Leo yang menatapnya datar.


"Apa? Aku hanya tidak ingin berbohong pada ayahku"


Guru Leo tertawa keras melihat tingkah konyol yang dilakukan Taurus, menurutnya Taurus pasti sangat menghormati sosok ayahnya ini, sampai-sampai masih sempat berpikir dalam situasi tersebut.


"Ah, tapi sebelumnya aku harus berterima kasih pada Tuan."


Taurus menundukkan kepalanya dan berterima kasih pada Pria tua itu.


"Tidak usah segan, dan panggil saja aku Zheira"


Zheira tidak merasa menolong apapun, karena pada akhirnya Tetua Agung tetap tidak dapat ia selamatkan, tetapi Taurus tetap bersikeras ingin berterima kasih padanya, sehingga ia terpaksa menerima terima kasih yang tulus dari Pria berbadan besar itu.


"Aku akan membawa pulang Tetua Agung setelah ini, dan untukmu Leo. Terima kasih sudah menyelamatkanku dan memberiku kesempatan untuk berkembang dan berlatih agar menjadi lebih kuat lagi mulai dari sekarang."


Leo kebingungan harus merespon seperti apa terhadap perkataan Taurus, ia hanya bisa mengangguk dan menyuruh Taurus berhenti berterima kasih seperti itu.


Selepas bercengkrama dengan Leo dan Gurunya Taurus akhirnya memutuskan untuk kembali ke Aula Tetua dan mengadakan Pemakaman besar untuk menghormati sosok yang dianggapnya sebagai ayah tersebut.

__ADS_1


"Leo, kalau aku tidak salah, tadi dia menyebut setelah monster disampingku ini. Mungkinkah kau sudah menjadi Guardians? dan dimana Rose?"


Leo kembali terdiam, dia mengetahui dengan jelas bahwa pada akhirnya ia harus menjelaskan semuanya kepada sang Guru.


Zheira hanya bingung dengan perubahan ekspresi yang terjadi pada muridnya itu, selama ia melatih Leo baru kali ini ia menunjukan dua hal yang belum pernah ia lakukan. Meminta pertolongan dari gurunya dan menunjukkan ekspresi wajah yang sangat mendalam seperti sekarang.


"Sebenarnya, Rose sudah tewas saat kami dikepung oleh banyak Ashura..."


Leo menjelaskan segala hal yang terjadi mulai dari kematian Rose, Aura Kebangkitan, dan pertemuannya dengan Taurus, semuanya iya jelaskan kecuali Aura Raja Singa yang menurutnya lebih baik ia sembunyikan terlebih dahulu.


Zheira terkejut mendengar penjelasan dari muridnya itu, tetapi ia memilih mendengarkan semuanya sampai muridnya itu selesai menjelaskan.


Dari yang disampaikan Leo, Zheira bisa melihat seberapa berat perjalanan Leo dalam beberapa hari ini. Ia bisa memaklumi beberapa perubahan signifikan pada muridnya itu.


"Jadi sekarang kau sudah jadi lebih kuat dari Taurus? pantas saja ia menyebutmu monster. Sebelumnya tidak pernah ada orang yang menjadi sekuat dirimu dalam waktu singkat. Mungkin ada sesuatu yang terjadi pada Auramu, sehingga kau menjadi lebih kuat dari yang lain. Ini bisa disebut sebagai Aura Raja, atau kekuatan Aura yang abnormal dan berkembang dengan sangat cepat."


Leo mendengarkan penjelasan Zheira dengan seksama, dan menyimpulkan mungkin Aura yang dimilikinya memang merupakan Aura Raja yang disebutkan oleh gurunya.


Zheira hanya melihat muridnya itu pergi sebelum mengambil cangkir tehnya dan kembali duduk dikursinya yang ia tempati sebelumnya.


"Leo, sepertinya kau harus menjalani takdirmu sendirian setelah ini. Karena aku sepertinya akan menyusul Tetua tadi"


Senyuman terukir di bibir Zheira sebelum ia bangkit menendang kursinya kearah pintu rumahnya.


Suara tawa mengisi keheningan hutan ditempat Zheira berada.


"Seperti yang diharapkan dari pensiunan Jenderal Kerajaan, instingmu begitu kuat. Tetapi kau masih tidak memiliki kekuatan untuk selamat dari kematianmu saat ini."


Seorang pria bertopeng muncul dihadapan Zheira. Ia terlihat seperti pria yang sudah berumur 45-50 tahunan, tetapi tenaga yang dimilikinya terasa sangat mencekam melebihi yang pernah dirasakan oleh Zheira sebelumnya.


"Apa yang kau inginkan?! Apa yang kau dapatkan dengan membunuhku?!"

__ADS_1


Zheira mengeluarkan Tenaga dalam jumlah besar mencoba menyaingi jumlah yang dipancarkan oleh pria bertopeng itu.


"Tidak, tidak ada yang kudapatkan jika membunuhmu. Tetapi kau akan menjadi ancaman jika aku tak mengakhirimu sekarang juga, di antara semua orang di kerajaan, hanya kau dan Tetua Agung yang mengetahui tentang rencana kami selama ini, itulah sebabnya kami tidak bisa membiarkanmu hidup lebih lama lagi"


Zheira terkejut mendengar pernyataan yang dilontarkan pria tersebut. Memang selama ini Zheira sedang menginvestigasi peristiwa-peristiwa yang mencurigakan yang terjadi disekitarnya.


"Jadi ternyata memang benar kalian merencanakannya, kalau begitu maka aku sudah tidak bisa berdiam diri saja, Api Dewa! Kobaran Pemusnah!"


Zheira menghembuskan kobaran api dari mulut, api yang dikeluarkan sangatlah panas dan mampu membakar manusia dalam waktu singkat.


"Hahaha, sudah kuduga kau tidak bisa dibiarkan hidup lebih lama lagi, jika kau hidup lebih lama lagi, kau akan menjadi ancaman bagi kami.


Pria itu menatap dingin Zheira sebelum berpindah dengan cepat ke hadapan Zheira dan menusuk jantungnya.


"Bagai...mana... kau bisa..."


Zheira perlahan kehilangan kesadarannya dan dengan samar melihat bayangan Pria bertopeng itu pergi menjauhinya.


~•~


Taurus sudah membawa kembali Tetua Agung ke Aula Tetua, suasana di Aula Tetua mendadak menjadi pilu, banyak penduduk yang awalnya mencoba untuk menuntut pertanggung jawaban Aula Tetua, menjadi turut berduka saat melihat Taurus membawa jasad Tetua Agung bersamanya.


Sebuah jalan panjang menuju Aula Tetua terbentuk saat Taurus mencoba melewati kerumunan orang tersebut.


Pria berbadan besar itu berjalan melalui jalan panjang yang dibuat oleh ribuan orang tersebut.


Perlahan suara tangis memenuhi keheningan dan unjuk rasa yang diadakan para penduduk berubah menjadi acara berkabung bersama.


Tokoh yang selalu memperlakukan rakyatnya dengan adil dan selalu memprioritaskan rakyatnya kini terbaring lemas dalam dekapan seorang pria besar di tengah-tengah mereka.


Serentak para penduduk menyanyikan lagu perpisahan untuk mengantar patriot yang telah memperjuangkan mereka tersebut.

__ADS_1


__ADS_2