
Di garis depan, suara benturan antara daging dan logam menderu memenuhi pendengaran, di antara semua orang yang berdiri di sana seorang pemuda nampak sedang memimpin pasukan Aula Raja.
Satu perintahnya memusnahkan ratusan musuh di garis depan, sedangkan setiap ayunan pedangnya memastikan tidak ada musuh yang menyusup ke dalam pasukan di bawahnya.
"Atur ulang formasi, para pengguna perisai bertukar dengan pengguna pedang, ksatria dengan baju jirah ringan bisa mundur dan beristirahat sejenak, perang tidak akan selesai begitu mudah." Suaranya yang tenang saat memberi arahan juga membantu membangkitkan moral pasukan, dengan cepat garis depan pertempuran menjadi lebih stabil dan situasi perlahan mulai bertukar di pertempuran.
"Siapa jendral muda itu? Aku belum pernah melihatnya sebelum ini, apakah dia seorang bangsawan?"
"Memangnya aku tahu? Tapi jika dilihat dari sikapnya sepertinya kau tidak salah menyebutnya sebagai bangsawan."
"Tapi tetap saja bagaimana bisa ada bangsawan muda yang berbakat seperti itu? Bukankah rumor menyebutkan hanya ada satu orang yang bisa melakukan hal seperti ini dulu?"
"Maksudmu ... Z-Zheira! Ya! Dia pasti muridnya, kudengar dia sudah lama menghilang jadi mungkin saja pemuda itu muridnya!"
Para prajurit berbisik satu sama lain dan rumor mengenai pemimpin muda yang membawa kemenangan di garis depan menyebar dengan cepat.
Penampilannya yang dingin, rambut hitam yang berkibar mengikuti angin, tatapan tajam dan juga sinisnya menjadi ciri khas setiap kali orang membicarakannya, para prajurit menjuluki dirinya dengan sebutan Dewa Kematian.
***
"Kalian beristirahatlah dulu, aku akan berkeliling mengatur medan perang sejenak," ucap Leo sambil mulai melangkahkan kakinya menjauh dari para prajurit yang kelelahan tersebut.
__ADS_1
Beberapa saat sebelumnya, pasukan musuh di garis depan sudah mundur dan pertempuran mulai berhenti untuk sementara.
Hasil dari pertempuran itu jelas adalah kekalahan, pasukan yang awalnya berjumlah 90.000 kini tersisa 70.000 sedangkan pihak musuh yang awalnya berjumlah 130.000 diperkirakan masih tersisa 119.000. Perbedaan kerugiannya cukup besar dan pelemahan kekuatan terlihat jelas lebih condong ke pihak Aula Raja.
Leo mengerutkan keningnya, mencoba mencari cara agar bisa menyampaikan strategi perangnya pada pimpinan pasukan, hanya saja ia tidak mengerti dan tidak mengetahui dimana dan bagaimana menyampaikannya.
Saat ia masih terbenam dalam pikirannya seorang prajurit mendekatinya, ia adalah prajurit yang diselamatkan Leo sebelumnya. Secara otomatis ia menghormati Leo sepenuh hatinya.
"Salam hormat pada Komandan muda, prajurit ini memberi hormatnya!" Prajurit itu dengan tulus menunduk dan memberi hormat pada Leo.
Leo menatapnya dengan datar seperti biasa, orang lain mungkin akan terganggu dengan tatapan tak berekspresinya tetapi tidak untuk beberapa orang, salah satunya adalah prajurit di hadapannya itu.
Leo menghela nafasnya dengan singkat sebelum menyuruh prajurit itu untuk bangun. "Berdiri, aku bukan Komandan. Aku hanya lewat dan kebetulan berada di pihak yang sama dengan kalian, jadi hilangkan saja formalitas." jelas Leo.
"Anda mungkin bukan Komandan, tapi dibanding dengan para Komandan itu, Andalah yang lebih pantas dipanggil Komandan. Selain itu ..." Prajurit itu mencoba menyampaikan keinginannya, "S-Selain itu, tolong tetap pimpin kami selama perang ini! Dengan pimpinanmu kami bisa mencapai titik ini. Saya yakin kita pasti bisa memenangkan perang apabila Anda terus memimpin pasukan ini, saya mohon tetaplah jadi Komandan kami!" Prajurit itu menundukkan kepalanya serendah mungkin, dalam Kerajaan Euthorea ini adalah sikap penghormatan dan kesetiaan penuh pada tuannya, dengan kata lain sumpah setianya.
Leo tahu kode ini dan hanya melihatnya dalam diam.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menjadi Komandanmu." Leo menjawab dengan singkat.
Prajurit itu segera kehilangan ekspresinya dan perlahan menjadi putus asa, ia sangat menyadari di bawah kepemimpinan para Jenderal dan Komandan Kerajaan yang sekarang kekalahan pasti akan menyambut mereka.
__ADS_1
Di tengah keputusasaannya, "Tapi aku akan tetap memimpin kalian. Aku sudah paham situasinya sekarang, silahkan berdiri di bawah kepemimpinanku, aku membutuhkan pedang untuk membantuku melindungi orang yang kusayangi" Leo untuk pertama kalinya tersenyum pada prajurit itu.
Walaupun ia memperlihatkan sikap acuh, nyatanya ia sangat menghargai prajurit yang setia pada Kerajaannya dan menginginkan yang terbaik untuk Kerajaannya itu.
Segera setelah mendengar jawaban pemuda itu, Prajurit yang berada di hadapan Leo tersebut tersenyum bahagia. Di dalam hatinya ia sangat bersyukur bertemu dengan Leo hari ini, ia berharap bisa melayani Leo secara pribadi setelah perang ini, kemudian ia mengungkapkan perasaannya.
"Terima kasih! Aku sangat menghargai keputusan Anda tuan ..." Prajurit itu diam sejenak ia bingung harus menyebut Leo seeperti apa, kemudian Leo menyela "Leo, panggil saja aku Leo."
"Ya! Tuan Leo, aku akan mengikutimu! Aku akan menjadi pedangmu sekarang dan selamanya, aku akan menjadi Ksatriamu apabila kau menginginkannya!" Prajurit yang tengah bersemangat itu salah paham mengenai sesuatu.
Leo mengernyitkan dahinya sebelum menjawab, "Bagaimana aku menjadikanmu Ksatriaku? Aku bukan bangsawan ataupun keluarga Kerajaan, lalu apa otoritasku sampai bisa memiliki Ksatria dibawahku?"
Ucapan pemuda itu akhirnya membawa keheningan cukup lama sampai akhirnya Prajurit loyal itu mendapatkan dan mengerti situasinya.
————
Special Event
Crazy Up untuk merayakan sesuatu yang spesial hari ini, akan ada up menyusul nanti.
Silakan Ditunggu!
__ADS_1
————
Author mengucapkan terima kasih telah membaca dan selamat menikmati ceritanya