
"Ugh..."
Gemini merasakan sakit yang sangat berat di kepalanya.
Beberapa hari yang lalu, ia menemani Leo berlatih di halaman rumah gurunya. Tetapi, secara tiba-tiba kesadarannya direnggut dan ingatannya jadi kacau.
"Mulai saat ini, kau adalah aku dan aku adalah kau...—"
Sesuatu seperti cahaya berwarna emas mengucapkan itu di mimpinya, hanya saja ia tidak bisa mengingatnya.
"Haa... sudahlah." ucapnya sebelum bangkit dan berjalan keluar ruangannya.
Di luar ruangan, terlihat seorang pemuda sedang duduk santai sambil memakan semangkuk nasi.
Pemuda itu adalah Leo, yang saat ini sedang sarapan.
Gemini kemudian mengambil semangkuk makanan dan ikut sarapan bersamanya.
"Kau mau?" tanya Leo sambil menawarkan air kepada Gemini.
Gemini menerimanya dan duduk di sebelah Leo.
"Di mana guru?" (Gemini)
"Entahlah." (Leo)
"Yah, mungkin dia hanya ke pasar untuk membeli bahan makanan." (Gemini)
"Mungkin." (Leo)
Keduanya kemudian saling diam sambil menikmati sarapan mereka.
"Siang ini, kamu mau ikut aku?"
"Ke mana?"
"Entahlah, aku sedang berpikiran untuk pergi ke kota, mungkin kamu mau ikut."
"Ah, boleh. Aku ingin belajar tentang budaya dan alat tukar di sini."
"Baik, kalau begitu silakan bersiap, aku akan menunggu di pintu depan."
Dengan begitu, Leo dan Gemini memutuskan untuk pergi.
Leo menghabiskan sedikit waktu untuk bersiap, dia hanya mengambil dan membawa barang yang dia butuhkan.
"Aku sudah siap, ayo."
"Ya, ayo!"
Mereka kemudian berjalan menuju kota.
Sebelumnya, mereka sudah pernah ke kota, tetapi, itu hanya untuk menginap sementara dan tidak ada waktu untuk berkeliling di sana.
Kali ini, Leo yakin, ia bisa menghabiskan waktu untuk berkeliling dan melihat seisi kota.
Ditemani Gemini di sebelahnya Leo terus berjalan dengan santai menuju Kota dan meskipun memakan waktu yang sedikit lama, keduanya tiba di gerbang masuk kota.
Hiruk pikuk kota terdengar di telinga keduanya, tawar menawar dan berbagai transaksi terdengar menggema dari segala arah.
Kota ini tidak jauh berbeda dari kota pada umumnya.
"Hei, Leo! Lihat itu!"
__ADS_1
Gemini yang awalnya terlihat sedikit suram kini mulai kembali seperti biasanya. Ia melihat sebuah kios kecil yang menjual makanan, itu terlihat seperti cumi panggang, hanya saja bentuknya sedikit berbeda.
"Aiyo, Nona kecil, apa kau mau mencoba Sotong bakar ini?"
Gemini terlihat bersemangat dan kemudian mengangguk.
Dengan cepat dia mengeluarkan sebuah kristal dan memberikannya pada penjaga kios itu.
"Sipp, 1 Qi stone kualitas rendah diterima! Ini untukmu!"
Penjaga itu kemudian menyerahkan sotongnya dengan wajah bahagia.
"Apa itu?"
"Hmm? Oh! Ini Qi stone."
Gemini menunjukkan kristal itu lagi, kali ini ada 3 kristal berbeda di tangannya.
"Yang ini kualitas rendah, ini menengah dan ini tinggi. Ini alat tukar di sini, Guru yang memberikannya padaku."
Gemini menjelaskan sambil memakan sotongnya dengan bahagia.
"Uwah! Ini enak! Kota memang yang terbaik!"
Leo kemudian memahami bahwa nilai tukar yang digunakan di sini bukanlah uang, tapi kristal aneh yang disebut Qi stone inilah yang diperjualbelikan.
"Bagaimana caraku mendapatkannya?"
"Minta ke Guru, aku tidak pernah mendapatkannya secara langsung, biasanya guru yang memberiku."
Gemini menjawab dengan acuh sambil menghabiskan sotongnya.
Wajahnya kemudian terlihat kecewa, tetapi, dengan cepat berubah kembali.
"Kalau kau sebegitu penasarannya, kenapa tidak bertanya langsung? Aku cukup yakin Guru akan memberitahumu."
Sambil mengucapkan itu Gemini menyisir sekeliling pasar dengan matanya.
Saat dia bersemangat dengan sesuatu dan bergegas mendatanginya, sekelompok orang terlihat dengan sengaja menabrakkan diri ke arah Gemini.
Leo yang melihat ini langsung menyadari adegan ini.
"Hei! Apa yang kau lakukan?!" Gemini dengan kesal bertanya ke arah mereka.
Mereka hanya tersenyum dan seorang pemuda yang sepertinya pimpinan mereka kemudian berdiri.
"Apa yang kami lakukan? Harusnya itu pertanyaan kami! Apa yang kau lakukan? Beraninya kau menabrak tuan muda di sini, apakah matamu itu hanya pajangan?"
Seorang pemuda gemuk berkata dengan kasar, Gemini yang sepertinya tidak tahan kemudian mengeluarkan sedikit Qinya, tepatnya, mungkin itu bocor.
"Haa?!"
Urat terlihat menonjol di keningnya dan Gemini balas bertanya.
"Apa? Jelas-jelas kalian yang menabrakku? Aku juga sudah menghindari kalian tadi, tapi kalian malah sengaja menabrakku."
Suasananya semakin panas dan perhatian orang-orang sekitar berfokus ke arah Gemini.
Seakan mengetahui sesuatu, mereka menghela napas dan menatap Gemini dengan rasa kasihan.
"Beraninya kau berbohong! Mana mungkin tuan muda yang terhormat ini akan menabrakkan dirinya ke rakyat jelata sepertimu! Seharusnya kau sadar diri dan meminta maaf saat ini juga!"
Pemuda gemuk tadi kembali membuka mulutnya.
__ADS_1
Leo yang sudah tidak tahan menghela napasnya dengan berat, pesan dari Jade emperor muncul kembali di kepalanya.
'Yah, aku hanya harus pergi dan tidak perlu terlibat lebih jauh'
Leo kemudian menggenggam tangan Gemini dan menyeretnya pergi menjauh.
Tetapi, belum sampai beberapa langkah, sekelompok orang berbaju ungu menghalangi jalannya.
Leo mengernyitkan keningnya dan menatap pemuda yang tadi menabrak Gemini.
"Kemana kau pikir kau akan pergi?"
Kali ini, pemuda yang terlihat seperti pemimpin kelompok itu angkat bicara.
"Kami tak punya masalah denganmu, biarkan kami pergi."
Leo menajamkan matanya dan mencoba sedikit mengintimidasi pemuda itu.
Bukannya terintimidasi, pemuda itu sepertinya malah semakin naik darah.
"Kalian sudah menyinggungku, sudah sepatutnya kalian meminta maaf, tapi kalian malah bergegas pergi tanpa sepatah kata."
Senyum terukir di wajahnya.
"Aku ingin tahu bagaimana kalian akan membayar penghinaan ini? Tapi, jika kau memberikan gadis itu untuk menemaniku makan malam, mungkin aku akan melepaskan kalian berdua."
'Ha.."
Leo mengerti. Tidak ada ruang untuk bicara, selain itu dari awal ini adalah tujuannya, tidak ada gunanya berbicara di sini. Oleh sebab itu-
-sring!
"Ucapkan itu sekali lagi dan lihat siapa yang melepaskan siapa?"
Leo mengangkat pedangnya dan sekelompok orang yang menghentikannya juga ikut waspada.
"Nak, aku sarankan kau tidak melakukan itu."
Seorang pria yang ikut menghentikannya berpendapat.
"Oh? Lalu haruskah aku menyerahkan rekanku dan pergi begitu saja?"
Leo membalas dengan dingin. Dan ini mengundang tawa Pemuda yang sedari tadi mencari masalah dengan Leo.
"Menarik, sepertinya kau tidak tahu siapa yang berkuasa di sini. Baiklah kalau begitu, aku akan mengajarimu satu dua hal. Potong kakinya dan beri dia pelajaran!"
Pemuda itu berteriak dan memerintah sekelompok orang yang sedari tadi menghentikan langkah Leo.
Mereka dengan cepat bergerak dan menyerang Leo secara bersamaan. Melihat arah serangan mereka, Leo mendorong Gemini sebelum kemudian memutar pedangnya.
-Clang!
-Ting!
-Kling! Kling! Kling!
Satu persatu serangan ditahan dan senjata orang-orang itu dilucuti.
Dengan wajah dingin Leo kemudian menatap ke arah pemuda yang kini jatuh ketakutan.
"Kali ini, kita lihat siapa yang memberi pelajaran—"
Saat Leo tengah serius mengancam pemuda itu, sebuah pedang melayang terbang ke arahnya.
__ADS_1