
Leo melebarkan jaraknya saat menyadari ada sesuatu yang menerjang ke arahnya.
Dengan cepat ia mengambil pedang putih yang selalu ia bawa di pinggangnya.
Cahaya putih keemasan perlahan menerangi kegelapan dalam bangunan tua tersebut, tak berselang lama, Leo akhirnya bisa melihat makhluk apa yang baru saja menerjang dirinya.
Terlihat sesosok gadis kecil dengan pakaian lusuh sedang menatap Leo dengan ketakutan dan bahkan air mata mulai menetes dari kantung matanya.
"Ah, maafkan aku," ucap Leo sambil menyarungkan pedangnya kembali.
Gadis kecil itu tetap diam tanpa menjawab sedikitpun ucapan Leo, bisa terlihat ketakutan merasuki anak itu saat melihat ke arah Leo.
Leo mendekati gadis kecil itu dengan perlahan, sambil mencoba mengusap air matanya, "Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu sebelumnya" ucap Leo sambil mengusap lembut kelopak mata gadis tersebut.
Bisa dilihat gadis itu sebenarnya memiliki paras yang sangat cantik dibanding gadis lain seusianya, dengan mata hitamnya yang mirip seperti Leo, dan rambut yang tak jauh berbeda dengan warna matanya, pasti akan membuat siapa saja menjadi gemas, andaikan ia tak berpakaian lusuh seperti sekarang.
"K–Kakak" Gadis kecil itu kembali meneteskan air matanya, "I–Ikut ... " tambahnya dengan suara yang membuat Leo menjadi semakin Iba.
Leo menatap gadis kecil itu sambil mengusap puncak kepalanya, "Baiklah, Kakak memang ingin membawamu keluar, sebelum itu siapa namamu?"
"Lily" jawab gadis kecil itu sambil mengusap air matanya, Leo tidak mengetahui apa yang telah gadis kecil itu jalani selama ini, tetapi yang pasti ada sesuatu yang membuat Leo merasa sedikit tidak nyaman.
"Baiklah Lily, mari kita pergi keluar" ajak Leo, sambil memegang salah satu tangan gadis kecil itu.
Lily hanya mengangguk sambil mulai mengikuti langkah Leo untuk pergi dari bangunan tua itu.
__ADS_1
Sambil berjalan perlahan menuju pintu keluar bangunan tersebut, Leo terus mengajak Lily untuk berbicara, tetapi, entah kenapa gadis itu lebih banyak diam daripada menjawab pertanyaan Leo.
Disisi lain, Leo juga tidak mempermasalahkan hal ini, ia tahu pasti sudah banyak yang harus dilalui oleh gadis kecil yang saat ini berada di sampingnya itu.
"Hei, Lily, apakah kau hanya tinggal sendirian di sini?" Leo bertanya dengan heran, sejak awal memasuki bangunan ini, tidak sedikitpun Leo merasakan Aura maupun hawa kehidupan di dalamnya, sekalipun orang biasa, mereka juga memiliki Aura walaupun jumlahnya akan terasa sangat kecil.
Lily menatap Leo dengan heran, wajah polosnya membuat Leo menjadi sedikit gemas dengan gadis kecil itu, "Teman Lily?" Lily menundukkan kepalanya, "Teman Lily semuanya sudah mati" jawab Lily dengan senyum polosnya.
Leo tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, belum pernah selama ini ia mendengar kalimat tersebut dari seorang anak kecil, terlebih dia mengucapkannya seakan itu adalah hal yang biasa baginya.
"Kakak, kenapa Lily tidak melihat cahaya ungu?" Lily menatap Leo dengan heran.
Tentu saja sikapnya ini membuat Leo kebingungan, Leo tidak mengerti apa yang dimaksud cahaya ungu oleh gadis kecil itu.
"Kakak, di luar ada banyak teman Lily, tapi Lily tidak menyukai mereka, mereka selalu mencoba membawa Lily bersama mereka, Lily tak mau" ucapnya sambil menarik kerah pakaian Leo,
Tepat saat mereka berdua menginjakkan kakinya di luar bangunan tersebut, Leo langsung melebarkan matanya.
Puluhan mayat hidup berjejer, menghalangi jalan keluar satu satunya dari bangunan itu, dan yang lebih mengherankan lagi, para mayat hidup itu nampak lebih berfokus pada Lily dibandingkan dengan Leo.
"Kakak, Lily tak mau ... " Lily segera mendekapkan tubuhnya pada kaki Leo.
'Apa ini? Mengapa gadis ini seakan sudah mengetahui mereka akan berada disini?' Leo bergumam di dalam hatinya,
Leo semakin tidak mengerti dengan gadis kecil di sampingnya ini, selain memiliki sikap yang aneh, sepertinya ada sesuatu yang lain pada gadis kecil ini.
__ADS_1
Leo menatap gadis itu, terlihat gadis itu masih mendekap erat kaki kanannya, sambil terus menggumam tidak ingin ikut bersama mereka.
Leo mengusap puncak kepala gadis kecil itu, sebelum mengangkatnya dengan satu tangannya, gadis kecil itu terkejut saat Leo tiba-tiba mengangkatnya, tetapi ia tak berbicara lebih jauh.
"Lily, tutup matamu ya, kita akan melewati mereka." Leo membujuk gadis kecil tersebut, sambil memperhatikan wajah Leo, gadis kecil itu dengan polosnya mengikuti ucapan pemuda itu.
Melihat, Lily sudah menutup matanya, Leo segera mengambil pedangnya, tepat saat Leo mengambil pedangnya itu, para mayat hidup itu nampak sedikit ketakutan terhadapnya.
Tanpa menunda waktu lagi, Leo melesat cepat melewati para mayat hidup itu, hanya dalam waktu singkat keduanya telah melewati para mayat hidup itu dan bahkan tinggal sedikit lagi untuk keluar dari reruntuhan bangunan tua di sekitarnya.
Belum sempat keluar dari reruntuhan itu, sebuah getaran hebat terjadi dan menyebabkan reruntuhan bangunan di sekitarnya menjadi runtuh ke arahnya.
Sambil menghindari reruntuhan bangunan yang jatuh ke arahnya, Leo mempercepat gerakannya agar segera keluar dari tempat itu.
***
Maaf saya sudah jarang update belakangan ini, tapi ke depannya saya usahakan agar kalian bisa menikmati lebih banyak chapter dari cerita ini, dan terima kasih untuk beberapa orang yang telah mempromosikan cerita ini.
Salah satunya adalah Ay, Mark, dan Selai Jeruk.
Saya Sedang sangat sibuk beberapa minggu ini, jadi saya kesusahan meluangkan waktu untuk menulis, jadi maafkan saya ya.
Sekian dulu untuk chapter ini sampai jumpa di Next Chapter, terima kasih!
————
__ADS_1
Jangan lupa Like, Fav, dan Komen di Kolom Komentar!