
Kakek Myrthe maju dan mendekatkan jaraknya dengan Dethyus, saat keduanya sudah berjarak tidak lebih dari satu langkah Kakek Myrthe mengayunkan pedangnya.
Cahaya putih terlihat melayang saat pedang Kakek itu mengenai tubuh Serigala yang ditunggangi Dethyus.
"Kau masih belum berubah, kecepatan dan kekuatanmu masih sama seperti yang dulu, tapi itu masih belum cukup untuk mengalahkanku." Dethyus tersenyum sinis sambil melompat ke belakang, menghindari serangan Kakek tersebut.
Kakek Myrthe tertawa pelan, "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, karena tidak ada yang tahu apakah kita sudah bertarung sekuat tenaga atau belum," ucap Kakek Myrthe sambil melangkah, mempersingkat jarak mereka.
Dethyus yang mendengar hal ini menaikan sebelah alisnya, ia masih belum memahami maksud dari ucapan Kakek itu, tetapi ia tidak memikirkan hal itu lebih jauh, dan memilih menyambut serangan yang datang dari Kakek tersebut.
Sesaat kemudian, keduanya saling mengayunkan dan menebaskan pedangnya secara bergantian. Setiap kali pedang mereka bersentuhan, gelombang udara yang kuat tercipta dan menyebar ke segala penjuru arah.
Gelombang udara ini tentu saja menarik perhatian pasukan dan Penjaga yang sedang bertarung di dekat mereka, dengan cepat pasukan maupun penjaga itu pergi memberi jarak yang lebih besar karena takut terkena dampak serangan kedua orang tersebut.
"Kau lihat? Kekuatan ini kudapatkan ketika bertahan hidup melawan ganasnya dunia, tepat saat kau tidak ada disini!" Ucap Dethyus sambil mengayunkan pedang besarnya sekuat tenaganya.
Dengan cepat Kakek Myrthe menahan serangan tersebut dengan pedangnya, berbeda dengan teknik berpedang pada umumnya, Kakek Myrthe menahan serangan tersebut menggunakan bagian tajam dari pedang miliknya alih-alih memiringkannya secara horizontal.
"Tidak buruk, tapi masih belum cukup!" Dethyus kembali mengayunkan pedangnya sekuat tenaga, dalam waktu singkat situasi nampak berubah lebih berpihak pada Dethyus.
Sementara itu, Kakek Myrthe terlihat hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Pria tersebut.
Walaupun terlihat terpojok, namun itu hanya akal-akalannya saja untuk menghadapi Kawan lamanya tersebut.
"Dethyus, jika kau bisa kembali, maukah kau kembali bersama kami? Aku tahu kau melakukan ini secara terpaksa, maka dari itu maukah kau kembali pada kami?" Kakek Myrthe tersenyum hangat sambil menahan setiap serangan pria tersebut.
Dethyus tidak menghiraukan ucapan Kakek itu dan terus menghantamkan pedang besarnya ke arah Kakek tersebut.
Setelah menahan lebih dari 40 serangan, Kakek Myrthe jatuh ke posisi berlutut. Melihat hal ini dengan cepat Dethyus mengayunkan serangan terakhir untuk menghabisi kakek tersebut.
"Sampai jumpa kawan lama, sampaikan salamku untuk sahabat kita yang lain!" Dethyus berseru lantang sebelum mengayunkan pedangnya sekuat tenaganya.
__ADS_1
Ledakan Aura terjadi saat pedang Dethyus berhasil menumbuk pedang milik Kakek tersebut.
Debu dengan cepat menutupi pandangan setiap orang yang ada di sana, tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi di dalamnya, karena sesaat setelah ledakan Aura tersebut, suasana mendadak menjadi hening dan semua pertempuran dihentikan sejenak.
Walaupun begitu, keputusasaan terlihat menghantui pihak Penjaga kota.
Mereka sadar, jika serangan yang terakhir tadi merupakan kekalahan Kakek tua yang membantu mereka, maka harapan mereka untuk menang di pertempuran ini juga ikut sirna.
Dengan penuh harapan, mereka terus menatap gumpalan debu yang membumbung tinggi tersebut.
~•~
Leo masih terus menatap tempat yang disebutkan oleh Penjaga Kota sebelumnya, setelah melihat secara langsung ia sadar tidak mungkin bagi orang biasa untuk pergi ke sana.
Ini dikarenakan tempat itu merupakan bangunan seperti pabrik tua yang di kelilingi oleh reruntuhan bangunan tua yang sudah lapuk, bahkan ada beberapa jasad tak terurus yang tertimbun di bawah reruntuhan di sana.
Sambil memperhatikan langkahnya Leo bergerak mendekati bangunan tua yang masih berdiri kokoh di tengah reruntuhan tersebut.
Tetapi, tanpa memikirkan hal ini lebih lanjut Leo mempercepat langkahnya. Sambil bergerak melewati reruntuhan yang sudah lapuk tersebut, Leo terus menyisir pandang ke sekitarnya.
Terlihat beberapa jasad anak-anak yang sudah membusuk tertimbun di bawah reruntuhan tersebut.
Tidak tahan melihat pemandangan tersebut, ia mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam bangunan tua itu.
Di dalamnya Leo segera menyalakan lentera yang ada di sekitarnya, terlihat warna bangunan itu sudah mulai hilang ditelan waktu, bahkan tidak ada udara segar yang terbebas dari aroma debu.
"Siapa yang bisa hidup di sini?" Leo sudah tidak tahu lagi, penderitaan apa yang telah di alami anak-anak di sini.
Ia tahu, kemungkinan yang tinggal di dalam kawasan berbahaya seperti ini hanyalah pengemis atau setidaknya gelandangan yang sudah kehabisan tempat bernaung dari kejamnya dunia luar.
Setelah melihat-lihat isi bangunan tersebut, Leo di sambut dengan suara tangis yang menggema ke seluruh ruangan yang ada di bangunan tersebut.
__ADS_1
Suara itu terdengar sangat menusuk hati dan bahkan memberi perasaan pusing saat terdengar di telinga Leo.
Tidak lama setelah suara tangis itu menyebar, suara langkah kaki terdengar menderap dari lantai kayu di sekeliling pabrik tersebut.
Awalnya hanya satu yang langkah kaki terdengar, tetapi tidak berselang lama, suara yang terdengar di telinga Leo bertambah menjadi puluhan langkah, atau bahkan lebih.
Mendengar hal yang aneh ini, Leo mendekati sumber suara tersebut. Setelah berjalan cukup jauh ke dalam, suara lain kembali terdengar.
Setelah mencoba mendengar lebih baik suara tersebut, sesuatu dari kegelapan segera menerjang Leo.
————
Saya Libur Ya Beberapa Hari ke Depan!
Karena saya sedang merevisi ulang chapter-chapter di awal cerita, saya akan libur merilis chapter tambahan selama beberapa hari ke depan.
Jadi mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
Dan bagi kalian yang sedang menunggu cerita ini, mungkin kalian bisa membaca cerita dari rekan-rekan saya.
Salah satunya adalah Is It The End Of The World? Karya Eve
bercerita tentang adik kakak yang hidup di dunia kacau yang dipenuhi dengan Zombie, sambil terus bertahan hidup keduanya terus dipertemukan dengan orang baru dan kemudian membentuk grup untuk bertahan hidup, jika kalian berminat dengan ceritanya, silahkan cari ya di profilnya dia.
dan terakhir, semoga kita selalu diberi kesehatan, semoga kita tidak ada yang bertambah menjadi korban selanjutnya dari pandemi ini, dan semoga pandemi ini bisa cepat selesai sebelum bulan suci ramadhan menyambut kita.
Mari bersama-sama berdoa, baik itu muslim, nasrani, budha, konghuchu, Hindu, atau apapun itu agamanya, mari kita sama-sama berdoa agar cepat diselesaikan masalah pandemi yang melanda kita ini ya.
Sekian dari saya sampai jumpa di Next Chapter
***
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Fav, Dan Komen di Kolom Komentar ya!