Guardians : Legend Of Leo

Guardians : Legend Of Leo
Ch.81 Lembaran Baru


__ADS_3

Ariel membuka matanya dan mendapati dirinya sedang berada di sebuah tempat gelap tanpa pencahayaan.


Di sana, hanya ada ia dan seorang gadis lain dengan sesuatu yang tidak asing baginya.


Gadis itu hanya menangis sementara, Ariel yang kebingungan melihat ke sekeliling dan tidak menemukan petunjuk apapun tentang lokasinya saat ini.


Merasa tidak akan menemukan jawabannya sendiri, Ariel mendekati gadis itu dengan hati-hati. Jika bukan karena Aura yang dipancarkan oleh gadis itu, Ariel tidak akan menyadari perbedaan apapun di antara mereka berdua.


"Permisi, boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Ariel sambil mendekat perlahan. Ia tentu saja telah belajar dari pengalamannya, bahwa tidak semua orang yang ia temui itu baik, hanya beberapa yang benar-benar baik dan salah satunya adalah sosok yang ia sayangi saat ini. Anehnya, Ariel tidak bisa mengingat nama dan wajahnya saat ini.


Gadis itu tidak menjawab, tetapi, tangisnya terhenti dan ia mengusap beberapa kali matanya.


Ketika gadis itu berbalik menghadap ke Ariel barulah terlihat wajah cantik dan menawan yang dimilikinya, apabila Ariel terlihat lembut dan lemah, gadis itu sebaliknya. Ia terlihat tegas dan berani, meskipun begitu, hal ini justru memperlihatkan lebih jelas daya tariknya.


"Ah, maafkan aku. Namaku Rose, aku yang membawamu ke sini." ucap Rose setelah mengusap matanya, rambut coklatnya yang berkibar dan mata indahnya terlihat berkilau karena masih ada sisa air mata di sana.


"Tidak, tidak apa-apa. Jika memang benar saudari adalah yang membawaku kemari, bisa beritahu aku kita ada dimana?" tanya Ariel dengan sedikit perasaan takut di hatinya.


Rose melihat itu dan tersenyum ramah sebelum menjawab pertanyaan Ariel, "Kita ada di mimpimu. Aku tidak bercanda, kita benar-benar ada di mimpimu." balas Rose dengan senyum di bibirnya.


Ariel tentu saja tidak mengerti maksud gadis itu, hanya saja, dia tahu gadis itu tidak sedang bercanda.


"Lalu, jika ini adalah mimpiku, bagaimana bisa aku bertemu dengan saudari yang bahkan tidak aku kenal? Bukankah ini menjadi tidak masuk akal?" Ariel menjadi lebih bingung dan menanyakan sebagian dari rasa penasarannya.


"Itu adalah suatu hal, kau mungkin tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu. Atau setidaknya begitu, kurasa." Rose mulai kebingungan bagaimana cara ia menjelaskan.


"Intinya, aku mengundangmu kesini tentu saja bukan tanpa alasan." Rose menarik napas cukup dalam sebelum menghembuskannya, "Aku ingin membagikan memoriku, mungkin ini akan menjadi cukup menyakitkan, tapi kau mungkin akan cukup bahagia dengan ini, anggap saja hadiah dariku."


Ariel yang semakin bingung hendak menanyakan sesuatu kembali, hanya saja tangan halus Rose sudah lebih dulu menyentuh keningnya.


"Dengan ini, sekarang, kau adalah aku dan aku adalah kau. Kita adalah satu, meskipun aku dan kau tidak berada dalam satu fisik yang sama.".


Selepas ucapan gadis itu terdengar, pandangan Ariel memburam dan perlahan memutar kembali kenangan yang seharusnya bukan miliknya.

__ADS_1


"Lihat dia, begitu cantik dan lucu. Persis sepertimu Jeanne." Bayangan seorang pria terlihat samar-samar dalam pandangan Ariel.


"Rose, kemari! Ikuti ayah, kita akan berburu kelinci hari ini."


"Rose Ibu yang cantik, kau harus tahu, di dunia ini, ada banyak rahasia dan kebenaran yang belum terbongkar, kau tidak harus membongkarnya, tapi kau harus bersiap apabila dunia itu ingin membongkar segala rahasia yang ada kepadamu."


"Rose! Pergilah! Kau harus tetap hidup di dunia ini," ucap seorang wanita yang sebelumnya mengaku sebagai Ibu Rose. Sementara itu, di sekitar mereka hanya terlihat kobaran api dimana-mana, tidak diketahui apakah itu di rumah atau di tempat lain.


Hari itu seorang Jendral pensiunan yang kebetulan lewat akhirnya memungut Rose, dan menjadikannya murid.


Ingatan milik Rose kembali bergulir dan mempercepat waktu, kali ini Ariel melihat sesuatu yang tidak pernah ia duga.


"Aku adalah Rose, siapa kau?" ucap Rose yang saat itu masih anak-anak pada seorang bocah berambut coklat dengan sorot mata yang dingin.


Meskipun begitu, terlihat jelas anak itu tidak sepenuhnya sama dengan sorot matanya.


"Leo, aku adalah Leo," balasnya tanpa emosi, terlihat penderitaan dan cobaan yang telah bocah itu hadapi tidak bisa diukur baik oleh Rose,maupun Ariel yang saat ini berbagi ingatan dengan gadis tersebut.


Rose pun segera membawanya kembali ke rumah barunya dan menunjukkan bocah itu ke Gurunya.


Gurunya yang tidak lain adalah Zheira itu tersenyum sebelum kemudian menerima dan menyuruh Rose menyiapkan ruangan untuk Leo.


Setelah itu, sekali lagi waktu kembali dipercepat, "Leo, aku ingin memberitahumu sesuatu." ucap Rose yang saat itu jantungnya sudah berdegup kencang seperti langkah kuda.


Leo hanya menatap datar seperti biasanya, sekilas, jika Rose tidak mengenal pemuda itu, ia akan mengira pemuda itu tidak tertarik sedikitpun.


"Eh, sepertinya tidak jadi." Rose bergegas membatalkan ucapannya karena takut penolakan yang ia dapatkan.


Leo segera mendekatinya dan Rose reflek melangkah mundur hingga akhirnya dihentikan oleh sebuah pohon yang berada dua langkah di belakangnya.


"Kenapa tidak jadi? Padahal aku sudah menantikan apa yang ingin kau ucapkan, apakah sebegitu bencinya kau denganku?" Tatapan Leo terlihat sedih kali ini.


Untuk pertama kalinya, pemuda di hadapannya ini menunjukkan ekspresi yang bisa ia kenali secara jelas.

__ADS_1


"Tidak bukan begitu, hanya saja, aku takut ... " Rose mengalihkan pandangannya. Rasa malu kini membumbung tinggi dan siap meledakkan dadanya.


"Ucapkan." ucap Leo dengan wajah sedih yang masih belum berubah.


"Aku ... A—" Rose hendak berkata sebelum dipotong oleh pemuda itu.


"Aku menyayangimu," ucap Leo tanpa memberikan kesempatan gadis itu menyelesaikan kata-katanya.


Rose tentu saja memerah dan menjadi malu, hanya saja sesuatu memaksa keduanya untuk menunda hal itu.


Seekor Ashura berwujud serigala menerjang dan mencoba menyerang mereka, tentu saja, Leo berhasil membunuhnya.


Tapi, masalahnya tidak semudah itu. Ratusan, atau bahkan lebih sedang mengintai dari kegelapan malam


"Leo! Aku sudah tidak kuat lagi!" ucap Rose yang saat itu sudah merasakan pening hebat dan pandangannya berkunang-kunang akibat kelelahan setelah berlari.


"Cepatlah Rose, mereka sudah dekat!" ucap Leo yang terlihat sangat panik, Ariel bisa merasakan rasa sedih dan putus asa di wajah Leo yang telah beranjak dewasa tersebut.


"Sial, mereka sudah mengepung kita." Leo terlihat lebih putus asa. Ariel tahu, saat ini mereka adalah sepasang kekasih karena ada satu memori yang terlintas beberapa waktu sebelumnya.


"Leo ... " Rose melihat ke arah Leo dengan berat hati, ia tahu. Mereka tidak akan mudah selamat dari kejadian ini, sehingga ia sudah membulatkan hati untuk berkorban demi Leo.


Setelah seekor Ashura dan seekor lainnya bergantian menyerang, mereka akhirnya bisa beristirahat sejenak.


Hanya saja, bencana tidak pernah bisa diduga.


Hari itu, Rose menghembuskan napas terakhirnya di depan Leo yang mengamuk tepat setelah kepergiannya.


Ariel dan Rose masih sempat melihat amukan pemuda itu sampai akhir sebelum akhirnya benar-benar pergi dari dunia.


————


Selamat membaca dan terima kasih telah setia menanti selama ini, semoga kalian bisa menikmati dan terus membaca cerita ini sampai akhirnya nanti.

__ADS_1


————


__ADS_2