
Tatapan terputus saat Nara menundukkan kepalanya, dia tidak lagi berani menatap Gavin. Jika Nara tahu kalau yang menjadi tamu ibunya adalah Gavin maka Nara tidak akan datang ke sini.
Nara tidak ingin menambah masalah di hidupnya karena selalu bertemu dengan Gavin. Jika suatu saat kebenaran masa lalu terbongkar, maka Nara tidak tahu harus bagaimana.
"Nek, kami nggak tau kalau lagi ada tamu, maaf ya.. "
Suara Nessa membuat perhatian Nara teralihkan. Dia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Nessa. Dua anak itu menunduk dan sedang meminta maaf pada ibu Mira.
Usapan di kepala ibu Mira berikan kepada Nessa dan Nevan. Rasa sayangnya dengan dua anak itu sudah seperti rasa sayang kepada cucunya sendiri. Walaupun Nessa dan Nevan bukan cucu kandungnya.
Bagaimana bisa ibu Mira marah pada cucunya, dia yang selalu ingin melihat cucunya setiap hari tapi tidak bisa di karenakan sudah tidak serumah dengan Nara.
Bujukan yang dia berikan pada Nara agar tidak pergi dan tetap tinggal di panti itu tidak bisa membuat tekad Nara goyah. Nara selalu bilang ingin mandiri dan memulai usaha sendiri.
Beberapa hari sebelum Nara pergi dan pindah rumah dengan membawa dua balita kembar, ibu Mira masih mencoba membujuk Nara dengan mengatakan:
"Kamu bisa pindah kalau anak-anak udah besar. Ibu takut kamu terlalu capek karena ngurus anak-anak sendiri."
Menggunakan alasan anak-anak yang masih kecil tetap tidak bisa menghentikan Nara. Tekadnya yang sudah bulat membuat Nara menjadi keras kepala dan tidak mau mendengarkan ibu Mira.
Akhirnya dengan berat hati, ibu Mira menyetujui keinginan Nara. Membujuk Nara pun sudah tidak akan berguna, berbagai alasan sudah ibu Mira coba tapi tetap tidak berhasil membuat Nara tetap tinggal.
Setelah itu, setiap dua bulan sekali atau satu bulan sekali, Nara akan pulang ke panti. Jika sudah di panti, Nara akan menginap semalam atau dua malam setelah itu Nara akan kembali ke rumahnya.
Dan dalam beberapa tahun, Nara sudah bisa membeli rumah sendiri. Mempunyai usaha sendiri serta memiliki kendaraan sendiri. Tentu hal itu membuat ibu Mira menjadi bangga pada Nara. Ucapan Nara yang bilang ingin mandiri dan mempunyai usaha sendiri ternyata tidak main-main.
Nara membuktikan kalau apa yang dia ucapkan akan dia kabulkan. Perkataannya bukan omong kosong yang hanya bisa di katakan di mulut saja tapi dengan tindakan juga.
__ADS_1
Kembali pada saat ini. Anak-anak Nara yang sudah dia anggap sebagai cucu sendiri sudah besar. Nara pun sudah semakin dewasa, bukan gadis yang selalu manja kepadanya. Bersandar padanya jika ingin menangis, dan mengadu padanya jika ada yang berbuat nakal pada Nara.
Saat ini, Nara sudah bisa melakukan semuanya sendiri. Tidak memerlukan bantuannya lagi. Ibu Mira menatap Nessa dan Nevan, mengusap kepala mereka sayang.
"Iya, nggak apa-apa. Sekarang kalian minta maaf sama o'om yang itu."
Ibu Mira menunjuk ke arah Gavin, Masih dengan kepala yang menunduk Nevan dan Nessa berjalan ke arah Gavin. Berniat meminta maaf seperti kata nenek mereka.
Perintah nenek sudah seperti perintah Bunda Nara. Hal yang selalu Nara ajarkan adalah untuk tidak melawan dengan orang yang lebih tua dan selalu menuruti perkataan nenek dan bunda. Tapi jangan menuruti perkataan dari orang asing.
Nara sudah mengajarkan banyak hal pada mereka semenjak masih berusia 2 tahun. Sampai sekarang, semua perkataan yang selalu Nara ucapkan kepada Nessa dan Nevan akan mereka laksanakan tanpa ada bantahan.
Kaki mereka melangkah pelan menuju tempat pria yang menjadi tamu neneknya. Saat mengangkat kepala untuk melihat Gavin, Nessa dan Nevan terkejut. Tiba-tiba wajah mereka menjadi sumringah, senyum mereka mengembang.
Wajah takut dan rasa bersalah tiba-tiba hilang dan di gantikan dengan wajah bahagia.
"Om Gavin.. " Ucap keduanya.
Gavin membalas pelukan Nessa dan Nevan. Bibirnya tersenyum saat melihat mereka berdua. Bocah yang dia temui dua hari lalu ternyata bertemu lagi dengannya.
Awalnya, Gavin juga terkejut saat melihat kedatangan Nessa dan Nevan. Dan lebih terkejut saat melihat Nara yang datang bersama anak kembar Nessa dan Nevan. Dia tidak menyangka kalau Nara adalah ibu dari dua anak yang sedang memeluknya itu.
Kemarin, saat makan siang Gavin tidak melihat dengan jelas wajah Nessa dan Nevan sehingga Gavin tidak mengenali mereka.
"Gimana kabar kalian?" Tanya Gavin sembari melepaskan pelukan mereka.
Dengan wajah yang bahagia Nessa segera menjawab. "Kabar aku baik banget, Om. Om Gavin gimana kabarnya?"
__ADS_1
"Om juga baik."
Tatapan Nessa beralih pada Nara, dia mendekati Nara dan menuntun Nara untuk masuk. Dengan terpaksa Nara mengikuti langkah putrinya, mendekat ke arah Gavin yang sedang mengobrol santai dengan Nevan.
"Bunda, ini Om Gavin. Kita baru kenal waktu lagi jalan-jalan sama Om Fahmi."
Nessa membantu Nara mengulurkan tangannya, berniat memperkenalkan Gavin padanya. Pegangan tangan Nessa yang kuat membuat Nara tidak bisa menarik tangannya. Nara pasrah mengikuti keinginan putrinya.
"Om, Gavin. Ini Bunda nya Nessa, cantik 'kan?"
Nessa menatap Gavin, tangan kirinya mengambil salah satu tangan Gavin dan mulai menyatukan kedua tangan yang di pegang nya. Saat kedua tangan itu menyatu, jantung keduanya mendadak berdetak dengan kencang.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka, seakan keduanya berada dalam keheningan. Nessa yang sedang mencoba memperkenalkan Nara dan Gavin merasa kesal sendiri. Melihat dua orang yang sedang bersalaman itu tidak ada yang memulai pembicaraan.
"Bunda... " Nessa merengek.
"Ah, iya. Sa-saya Nara." Ucap Nara terbata, tanpa menunggu balasan dari Gavin, Nara menarik tangannya kembali. Memalingkan wajah dan tidak ingin menatap Gavin.
Sentuhan tangan Nara yang halus dan hangat membuat hati Gavin tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Sentuhan wanita yang baru dia temui seolah membuat Gavin merasakan sesuatu yang tidak asing.
Gavin mengambil kembali tangannya yang mengapung di udara. Mulutnya yang hendak juga memperkenalkan diri tiba-tiba diam dan tidak jadi. Melihat Nara yang memalingkan wajah, membuat Gavin tidak memperkenalkan dirinya.
Nessa yang melihat itu memutar bola matanya malas, sudah biasa dengan kelakuan Nara. Bukan hanya pada Gavin, tapi pada pria lain Nara juga akan seperti itu.
"Om, Gavin. Main sama aku yuk..."
Sudah malas dengan perilaku Nara. Lebih baik Nessa mengajak Gavin bermain. Dia menarik tangan Gavin dan Nevan, membuat dua lelaki itu diam tanpa berkata apa-apa. Mereka pasrah mengikuti gadis kecil yang lincah itu.
__ADS_1
Melihat kepergian kedua anaknya dan Gavin, air mata Nara hampir menetes. Kebenaran yang tidak diketahui apakah akan terbongkar? Melihat mereka bertiga yang baru kenal, sudah membuat perasaan Nara campur aduk.
Entah Nara tidak tahu harus bersikap bagaimana. Bersikap seolah tidak pernah bertemu dengan Gavin? Mungkin sangat sulit bagi Nara. Atau bersikap biasa dan tidak ada rasa canggung? Nara tidak tahu apakah bisa melakukannya.