Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Tes DNA


__ADS_3

Pelukan antara dua wanita yang sedang menangis itupun terlepas, keduanya mengusap air mata yang mengalir di pipi masing-masing. Dari kejauhan, Nevan melihat dengan kening yang berkerut.


Ia seperti heran dengan bunda-nya dan wanita yang ia panggil dengan nenek. Tapi tetap diam tak bicara.


"Oh, iya. Nessa kemana? kenapa nggak keliatan?" matanya menatap sekeliling, ia hampir lupa untuk menanyakan kabar gadis kecil kesayangannya.


"Nessa lagi sekolah, Tan. Mungkin sebentar lagi pulang, sekitar jam sebelas." Nara melihat jam di pergelangan tangannya, sekarang sudah pukul sepuluh.


"Yahh ... Padahal Tante bawa mainan banyak. Udah seneng banget pengen ketemu tapi sayangnya nggak ada." Wajahnya terlihat kecewa, jari telunjuknya menunjuk ke arah paper bag dan beberapa kantung plastik di atas meja.


"Kalau Tante nggak sibuk tunggu aja, sebentar lagu pulang. Tapi kalau Tante sibuk nanti sore bisa kesini lagi."


"Gimana kalau Tante aja yang jemput Nessa ke sekolah?"


"Eh, nggak usah, Tan. Nanti juga bakalan di jemput sama kak Fahmi."


"Fahmi yang biasa bareng sama kamu?" tanya tante Helen dengan selidik. Ia memicingkan kedua matanya, kenapa ia merasa kalau Nara sangat dekat dengan pria itu.


"Iya, Tan. Hampir setiap hari kak Fahmi selalu antar jemput mereka berdua." Yang di maksud adalah Nessa dan Nevan.


Meskipun ia sudah menolak berkali-kali, namun ternyata Fahmi sangat keras kepala. Fahmi tetap bersikeras ingin mengantar jemput kedua anaknya. Bahkan setiap akhir pekan, Fahmi akan datang untuk mengajak kedua anaknya jalan-jalan.


"Kalian udah kenal berapa lama?"


Nara mendongak, kemudian menghela napas. Ia tersenyum saat mengingat semua kebaikan Fahmi selama lima tahun terakhir.


"Kalau kenal sih belum lama, baru lima tahun. Dari aku mau lahiran, kak Fahmi dateng tiba-tiba buat bantu. Bahkan sampai sekarang kak Fahmi masih terus bantu aku. Aku nggak tau harus bales kebaikan dia kayak gimana. Pokoknya kalau nggak ada kak Fahmi, juga nggak bakalan ada aku yang sekarang."


Ya, Fahmi selalu ada di saat Nara membutuhkan. Tanpa di panggil, tanpa di telepon, atau yang lain. Fahmi akan datang dengan sendirinya, ia selalu mengulurkan tangan pada Nara. Menganggap Nara sebagai adik, bukan teman biasa.

__ADS_1


Jika tidak ada Fahmi maka tidak ada Nara yang kuat seperti sekarang. Mungkin ia akan selalu menangis setiap kali mendengar hujatan yang menyakiti hati. Atau tanpa bantuan Fahmi maka Nara tidak akan sesukses sekarang, mempunyai usaha sendiri.


Keberhasilan dirinya yang saat ini adalah berkat dari dukungan Fahmi serta orang-orang terdekatnya. Tanpa mereka, tidak ada Nara yang sekarang. Sungguh Nara merasa sangat bersyukur.


"Ternyata Fahmi baik banget, ya. Tante pikir anak itu masih terus nakal, nggak berubah dari kecil. Tapi Tante salah, Fahmi sudah tumbuh semakin dewasa."


"Eh, Tante kenal sama kak Fahmi?" tanya Nara dengan wajah terkejutnya. Ucapan tante Helen seperti ia sudah mengenal Fahmi sejak lama.


"Nggak terlalu kenal, tapi dulu waktu kecil Tante sama bunda-nya Fahmi temen deket. Tapi semenjak temen tante sakit sampai... yahh, sekarang udah nggak ada. Semua cuma bisa jadi masa lalu." Tante Helen mengusap air matanya yang sudah hampir terjatuh.


"Ah, jadi kak Fahmi udah nggak punya ibu?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Nara, selama kenal dengan Fahmi, baru kali ini mengetahui kalau ternyata Fahmi sudah tidak mempunyai seorang ibu.


"Kamu nggak tau?" Nara menggeleng, ia merasa semakin tertarik dengan cerita Fahmi versi dulu.


"Sebenarnya, Fahmi punya adik perempuan. Tapi tiba-tiba adiknya yang baru lahir hilang. Makanya temen Tante syok terus dia jadi sakit-sakitan. Kasihan sebenarnya, tapi mau gimana lagi."


Nara terus mendengarkan cerita tante Helen. Banyak kisah Fahmi yang membuat Nara semakin tertarik. Sedikit demi sedikit, Nara mengetahui separuh kisah Fahmi. Ada yang sedikit lucu juga ada yang membuat sedih.


Sampai tak terasa waktu semakin siang, dan Nessa sudah pulang dari sekolahnya. Tentu bersama dengan Fahmi. Saat melihatnya, Nara menjadi bingung sendiri bagaimana harus bersikap.


Nara merasa kasihan tapi tidak mungkin ia menunjukkan sikapnya yang aneh pada Fahmi. Jadi sebisa mungkin Nara menutupinya, bahwa ia sudah mengetahui sedikit tentang Fahmi. Padahal sebenarnya, kisah Nara lebih menyedihkan dari pada kisah Fahmi saat kecil dan remaja dulu.


Setelah menjemput Nessa dan mengantarkan gadis kecil itu ke rumah sakit, Fahmi tidak mampir terlebih dahulu, ia bilang kalau ada sesuatu yang harus di urus. Tantu Nara tidak akan melarang.


_________


Tempat lain, parkiran rumah sakit.


Seorang pria dewasa sedang berjalan memasuki rumah sakit, ia berdecak saat melihat pesan di ponselnya. Mamahnya menyuruh dirinya untuk datang ke rumah sakit, apakah mamahnya tidak tahu kalau dirinya sedang banyak pekerjaan?

__ADS_1


Gavin terus melangkah dengan rasa kesal, mengingat pesan yang di tuliskan sang mamah untuk dirinya yang harus cepat datang. Awalnya ia menolak, tapi lagi-lagi mamahnya menulis sebuah ancaman yang membuatnya tidak bisa berkutik.


Terpaksa Gavin menurut, ia meninggalkan pekerjaan yang sedang menumpuk di atas meja kerjanya dan menyerahkan semuanya pada Rafi juga sekretarisnya. Gavin akan memberikan mereka berdua bonus jika bisa menyelesaikan semuanya.


Di tengah jalan, langkahnya terhenti. Ia tiba-tiba teringat akan sesuatu. Dengan cepat ia berbalik dan menuju suatu tempat.


Gavin pergi menemui seorang dokter, meminta dokter melakukan tes DNA. Ia mengeluarkan sampel rambut milik Nessa yang ia taruh di saku kemeja.


"Berapa hari baru bisa mendapatkan hasilnya?" tanya Gavin pada dokter yang akan mengurus semuanya, saat ini ia sedang berada di ruangan bersama dokter laki-laki yang berusia sekitar tiga puluhan tahun.


"Biasanya akan keluar dalam dua minggu, tapi seminggu juga bisa."


"Seminggu terlalu lama, aku ingin dalam tiga hari aku sudah mendapatkan hasilnya." Gavin berdiri dari duduknya, tanpa menunggu jawaban dokter ia pergi begitu saja.


Tidak tahukah bahwa saat ini dokter laki-laki itu sedang merasa geram karena permintaan Gavin yang sulit itu?


Tanpa rasa bersalah karena telah menyuruh seorang dokter bekerja lembur, Gavin terus melanjutkan langkahnya. Kembali ke tujuan awal datang ke rumah sakit.


Menuju tempat dimana ruang perawatan Nevan berada. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Gavin masuk ke dalam. Di lihatnya ada Nessa, Nara, dan mamahnya. Serta Nevan yang sedang duduk bersandar sembari menatap keluar jendela.


"Om Gavin di sini... " Gadis kecil Nessa yang sedang sibuk bermain dengan mainan barunya dan di temani oleh camilan yang di belikan oleh tante Helen begitu senang saat melihat kedatangan Gavin.


Ia segera berlari dan menghampiri Gavin, mengulurkan kedua tangannya. Meminta Gavin menggendongnya.


"Nessa nggak sekolah?"


"Barusan pulang, Om. Nessa aja belum ganti baju." Nessa mengalungkan tangannya di leher Gavin. Ia mencium kedua pipi Gavin.


Mengetahui bahwa Nessa adalah anaknya, Gavin merasa sedikit kesal saat Nessa selalu memanggilnya dengan sebutan 'om'. Dia kan ayahnya, harusnya di panggil 'ayah'. Sepertinya Gavin harus bisa secepatnya mengubah panggilan Nessa untuknya.

__ADS_1


__ADS_2