
Kakinya berjalan memasuki rumah mewah itu, banyak pelayan yang menunduk hormat. Nara mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Walaupun dia sering melihat rumah besar seperti ini, tapi ini adalah kali pertama Nara memasuki rumah yang sebelumnya hanya bisa Nara lihat.
Lagi-lagi dia menatap kagum saat melihat isi rumah yang sesuai dengan ukurannya serta kemewahannya. Barang-barang mahal tersusun dengan rapi, lampu kristal berukuran besar yang hanya bisa Nara lihat di dalam televisi kini berada tepat di atas kepalanya.
Seketika otaknya menjadi linglung saat memikirkan berapa banyak uang yang dikeluarkan hanya untuk membuat sebuah rumah.
"Kalian lapar 'kan?"
Suara tante Helen membuat lamunan Nara buyar. Dia melihat tante Helen sedang menatapnya, kepalanya hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa.
"Kalau gitu bantuin Tante masak dulu baru kita makan bareng."
Tanpa menunggu jawaban dari Nara, tante Helen langsung menarik lengan Nara. Di ikuti oleh Nessa dan Nevan di belakangnya. Tante Helen membawa mereka ke sebuah dapur.
Tapi butuh waktu yang lumayan lama untuk sampai, mereka harus melewati beberapa ruang dan kamar. Baru sampai pada tempat yang di tuju. Nara menganga melihatnya, dapur yang besar dan mewah. Mungkin jika dapur ini milik Nara maka Nara betah berlama-lama disini.
Memasak banyak makanan itu tidak akan membuat Nara merasa lelah jika dia mempunyai dapur seperti ini. Jika bisa, Nara akan mengubah pekerjaannya menjadi seorang koki.
"Nessa sama Nevan tunggu Nenek sama Bunda selesai masak, kalian berdua boleh duduk di situ." Menunjuk ke arah meja makan dengan banyak kursi yang berhadapan.
Kedua anak itu mengangguk tanpa berkomentar, sedangkan tante Helen langsung mengajak Nara memasak. Nara boleh memasak apa saja yang ingin dia masak, tidak perlu sungkan kata tante Helen.
Dengan senang hati Nara menyetujuinya, saat dia membuka kulkas kedua matanya berbinar. Kulkas yang penuh dengan sayuran dan bahan makanan kini menggoda Nara.
Banyak makanan yang ingin Nara buat, tapi segera dia menggelengkan kepalanya. Memikirkan semua makanan yang kini ada di otaknya entah kapan akan selesai jika di buat.
Nara mengambil apa saja yang dia butuhkan, kali ini dia hanya ingin membuat makanan kesukaan Nessa dan Nevan. Dan jangan sampai kebanyakan karena Nara takut dua anak itu sudah menunggu dan merasa kelaparan.
Memasak dengan hati yang gembira akan membuat rasa masakan bertambah enak, mungkin itu yang saat ini sedang Nara alami, walaupun dia merasa sedikit canggung dan tidak enak karena memasak di rumah orang, tapi sungguh Nara merasa senang dan berharap kalau masakan yang dia buat akan cocok di lidah yang memakannya.
Wangi masakan mulai tercium, tante Helen yang penasaran kini mendekati Nara. Melihat Nara yang terus tersenyum ketika memasak.
"Pasti enak banget, Ra. Tante udah nggak sabar pengen cobain."
Nara menoleh, melihat tante Helen yang memejamkan kedua matanya. Seperti sedang menikmati aroma masakan miliknya.
"Ah, Tante bisa aja." Senyum malu-malu dia tunjukkan, merasa senang karena di puji. Padahal makanan belum di cicipi.
__ADS_1
Hampir selesai, sudah banyak makanan tersaji di atas meja. Aromanya tercium kemana-mana, membuat cacing di dalam perut berbunyi. Ah, Nara sudah tidak sabar ingin mencicipi masakannya sendiri.
"Masak apa hari ini? Aromanya wangi seka-- kau... " Ucapan Jovanka terhenti, terkejut melihat adanya Nara dan kedua anaknya.
Sama halnya dengan Nara, saat mendengar suara wanita yang tidak asing baginya, dengan cepat Nara menolehkan kepalanya dan sungguh terkejut melihat kedatangan Jovanka.
"Ada apa ini, Mah?! Kenapa dia ada di sini?" Teriak Jovanka, dia menunjuk ke arah Nara.
"Memangnya kenapa? Terserah Mamah ingin membawa siapa saja untuk main ke rumah ini." Tante Helen kembali berjalan menuju meja makan, menaruh masakan terakhir di atas meja.
"Tapi--"
"Sudahlah, sekarang waktunya makan, bukan waktunya teriak-teriak." Duduk di sebelah Nessa yang sedang melihat adegan di depannya.
Sedangkan Nara masih diam di tempat, saat ini dia sedang mencerna apa yang baru saja terjadi. Melihat interaksi antara Jovanka dan tante Helen menandakan kalau mereka memiliki hubungan ibu dan anak.
Jika mereka berdua benar ibu dan anak, berarti Gavin...
"Gavin... Sudah pulang?"
Nara mengangkat kepalanya mendengar ucapan tante Helen. Sekali lagi dia di buat terkejut, apa yang dia pikirkan barusan benar adanya.
Nara masih diam, dia seperti mendapat banyak kejutan hari ini. Matanya menatap Gavin yang sedang berjalan menuju meja makan, kedua tangannya masih memegang sebuah mangkuk yang berisi makanan.
"Nara, kenapa diam di situ? Cepat kesini dan jangan bengong. Anak-anak udah kelaparan."
Nara tersentak, baru sadar kalau dia masih belum menaruh makanan di atas meja. Terlalu larut dalam lamunan, Nara menjadi linglung.
Mendengar nama Nara di sebut, Gavin yang baru saja sampai di dekat meja makan itu terkejut. Dia melihat Nara yang sedang berjalan sambil menunduk dengan tangan yang membawa sebuah mangkuk.
"Om Gavin?" Kaki pendek Nessa turun dari kursi, berlari menuju ke arah Gavin. Mengangkat kedua tangannya meminta di gendong.
Tersadar, Gavin yang sejak tadi melihat Nara kini baru sadar akan adanya Nessa dan Nevan. Mulutnya masih diam dan belum bicara satu kata pun, di raihnya tubuh mengikuti Nessa dan menggendongnya.
"Nessa baru tau kalau rumah Om Gavin besar banget." Seperti sedang berada dalam gendongan ayahnya sendiri, Nessa memeluk leher Gavin dan mencium kedua pipinya.
Membuat sebuah perasaan aneh muncul di hati Gavin, rasanya seperti berbunga-bunga. Lelah yang di rasa kini hilang tiba-tiba, Gavin suka perasaan hangat ini.
__ADS_1
"Hey--" Jovanka ingin kembali berteriak tapi sudah lebih dulu di potong oleh tante Helen.
"Anka!! Sekarang bukan waktunya kamu teriak. Jadi untuk kali ini Mamah mohon sama kamu untuk diam sebentar dan kita nikmati makan malam."
Jovanka menurut, dia diam seperti kata tante Helen. Tapi dalam hatinya sudah emosi, dia tidak rela Gavin di sentuh orang lain walaupun hanya seorang anak kecil.
__________
Semua sudah duduk di kursi masing-masing, bersiap menyantap makanan yang sudah ada di depan mata. Tapi kali ini, Nara merasa sangat canggung sekaligus gugup.
Tidak pernah menyangka kalau dia akan satu meja makan bersama Gavin. Hal ini terlalu tiba-tiba untuknya.
Tapi Nara mencoba bersikap biasa saja walaupun dirinya merasa risih dengan tatapan tajam dan Jovanka. Nara mengambilkan kedua anaknya nasi serta lauk sesuai keinginan.
Setelah memberikan piring berisi makanan, Nessa malah turun dari kursi dan pindah tempat, Nessa duduk di sebelah Gavin.
Nara melotot, bisa-bisanya Nessa lebih memilih duduk di sebelah Gavin dari pada di sebelah dirinya. Sedangkan Nevan dia masih diam di tempat, sejak tadi mulutnya belum mengeluarkan suara.
Makan malam di mulai, baru satu suapan tante Helen kembali berusuara, "astaga... "
Semua menoleh, melihat tante Helen yang berteriak tanpa mereka mengerti. Mengira kalau tante Helen tersedak.
"Kenapa, Mah?" tanya Gavin.
"Masakan yang Nara buat enak banget, Mamah jadi pengen nangis."
Uhuk!
Tanpa diduga, kedua pasangan suami istri itu batuk secara bersamaan. Dengan segera tante Helen menuangkan air putih di dalam gelas. Memberikan kepada keduanya.
"Ma- maksud Mamah, makanan ini dia yang masak?" Menaruh gelas di atas meja, Jovanka menunjuk Nara.
Dengan polosnya tante Helen mengangguk. Seketika membuat selera makan Jovanka turun. Padahal rasa makanan sangat enak tapi saat tante Helen bilang kalau Nara yang membuat, Jovanka menjadi tidak ingin makan.
"Wah, Tante jahat baru tau ya kalau masakan Bunda itu enak banget. Nessa aja suka nambah kalau yang masak itu Bunda."
Merasa bangga mempunyai Bunda seperti Nara, Nessa tersenyum menang. Walaupun bukan di perlombaan.
__ADS_1
Rasanya Nara ingin segera menyelesaikan makan malam ini dan Pulang ke rumah. Tidak sanggup jika berlama-lama di sini.