
"Om Gavin ... " Teriakan Nessa yang sangat kencang membuat Gavin dengan refleks menaruh jari telunjuknya di bibir. Memberi isyarat agar Nessa diam.
"Ups!" sadar dengan kode yang di berikan Gavin, Nessa langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Kepalanya mengangguk-angguk.
Ia seakan baru sadar kalau saat ini mereka sedang berada di rumah sakit. Matanya melirik ke arah Nevan, ternyata adiknya sedang tertidur, pantas saja Gavin menyuruhnya untuk diam. Nessa merutuki dirinya sendiri karena ceroboh dan pelupa.
Tapi hal itu justru membuat Gavin merasa lucu, ekspresi wajah Nessa yang terlihat merasa bersalah ternyata sangat lucu. Gadis kecil yang semula berlari kini diam, mematung di tempat.
"Sini!" suara Gavin hampir tidak terdengar, tapi Nessa mengerti dengan apa yang di ucapkan Gavin. Juga salah satu tangan Gavin terangkat dan menyuruhnya ke sana.
Dengan perlahan Nessa berjalan tanpa menimbulkan suara, kakinya berjinjit seperti takut ketahuan karena mencuri. Saat sudah berada tepat di hadapan Gavin, Nessa bisa bernapas lega. Ia melepaskan telapak tangannya yang masih ia tempelkan di mulut.
Gavin mengangkat Nessa untuk duduk di pangkuannya, ia memeluk Nessa dengan erat seakan sudah lama tidak bertemu dan merasa sangat merindu.
Padahal Gavin memeluk Nessa karena ingin merasakan rasanya memeluk putrinya sendiri. Beberapa kali Gavin menciumi pipi hingga kepala Nessa, membuat gadis kecil itu merasa geli dan hendak tertawa tapi ia tahan.
"Om, geli." Nessa mengeluh, ia hampir tidak tahan dengan kecupan-kecupan yang Gavin berikan. Tapi ia juga suka, merasa seperti ayahnya sedang menciumi nya.
Nessa sering melihat teman-temannya yang di jemput oleh ayahnya saat pulang sekolah, ayah mereka akan menciumi seluruh wajah sampai tertawa karena geli, lalu menggendongnya.
Nessa sempat merasa iri, tapi ia tidak mungkin bilang pada bunda nya. Nessa takut Nara sedih. Ia juga sudah mempunyai Fahmi sebagai paman, walaupun bukan ayahnya tapi Fahmi sangat menyayangi mereka.
Nessa merasa sudah cukup, walaupun tidak ada ayah yang akan menemaninya ketika tidur dan tidak ada yang menceritakan dongeng sebelum tidur, tapi ada Nara yang melakukan itu semua. Nessa cukup merasa bahagia.
"Biarin, tapi ketawanya jangan keras-keras, ya." Gavin kembali memeluknya erat.
Meski sempat kesal, tapi binar bahagia tidak bisa Nessa sembunyikan. Ia senang, sangat senang padahal hanya di cium dan di peluk oleh orang lain yang belum lama di kenal.
__ADS_1
Fahmi duduk di sebelah Nara yang sedang memperhatikan interaksi antara Nessa dan Gavin, ada sebuah perasaan aneh yang muncul di hatinya tapi ia tidak tahu apa itu.
Fahmi menepuk pundak Nara lembut, membuat Nara terkejut. Ia keasyikan melamun sembari menatap Nessa dan Gavin sampai tidak sadar jika Fahmi sudah duduk di sebelahnya.
Nara mengusap dada pelan, jantungnya serasa mau copot. Fahmi keterlaluan, gerutu Nara. Padahal Fahmi hanya menepuk pundak Nara saja dan bukan memukul.
"Ra, kamu belum makan 'kan?" tanya Fahmi menatap Nara yang masih saja belum melepaskan pandangannya dari Gavin dan Nessa.
"Iya," jawab Nara singkat.
"Nih, tadi Nessa kelaparan tapi kakak nggak tega mau ninggalin Nevan sendiri. Tapi katanya nggak apa-apa di tinggal. Asal jangan lama-lama." Ucap Fahmi seraya menyerahkan beberapa bungkus kantung plastik yang berisi makanan.
Nara hanya mengucapkan terimakasih dan belum berniat memakan makanannya. Padahal ia belum makan siang. Ia terus melihat ke arah Gavin, pandangannya sulit untuk lepas dari mereka yang sedang mengobrol dan kadang tertawa.
________
Posisinya masih sama, Nessa terus berada di pangkuan Gavin tanpa ada niatan beranjak. Pria itu seperti tak merasa pegal atau mengeluh Nessa berat. Ia dengan sukarela memangku Nessa, memeluk putrinya dengan posesif seakan tidak mau Nessa lepas dan pergi darinya.
Nara yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuh hanya geleng-geleng. Sejak tadi ia belum mengatakan satu katapun. Ia juga tanpa sengaja ketiduran karena terlalu bosan hanya melihat interaksi Nessa dan Gavin.
Setelah ia bangun, ia tak melihat adanya Fahmi. Tapi saat membuka ponsel miliknya, ada pesan masuk dan nama Fahmi tertera di situ. Mengatakan kalau harus ada yang ia lakukan jadi tidak bisa berada di rumah sakit lebih lama.
Nara hanya menjawab iya, lagipula Nara tidak mau selalu merepotkan Fahmi. Pria dewasa yang sudah berteman hampir lima tahun dengannya. Ia selalu memiliki kesibukan tersendiri tapi masih sempat mengantarkan kedua anaknya sekolah.
Beribu ucapan terimakasih tidak akan bisa membuat Nara melunasi balas budinya. Hanya dengan ucapan semata rasanya kurang. Nara hanya berharap jika di kemudian hari saat Fahmi mendapat masalah maka Nara bisa membantu.
Walaupun yang di harapkan adalah jangan, mana mungkin Nara mau Fahmi mendapat sebuah masalah.
__ADS_1
Setelah semua rapi, Nara juga sudah selesai memberi wajahnya sedikit make up. Ia menghampiri Nevan, sedih rasanya saat melihat wajah pucat putranya. Di sudut hati Nara selalu merasakan sakit, ia hanya bisa berdoa semoga Nevan bisa sembuh lebih cepat. Tidak ingin melihat anaknya menderita lebih lama.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Nara melihat ada dokter yang merawat Nevan memasuki ruangan. Segera ia bangkit dari duduknya, dokter berjalan menghampiri Nara.
Kedatangan dokter kali ini ingin memberikan hasil tes tadi pagi. Harusnya besok baru bisa di berikan tapi Gavin, memaksa agar hasilnya harus keluar lebih cepat. Karena tidak ingin berdebat dan membuat kepala sakit akhirnya dokter menuruti kemauan Gavin.
Karena mendengar pintu terbuka, Gavin akhirnya terbangun dari tidurnya. Tapi ia tidak bisa bergerak, tubuhnya terasa kaku sebab ada Nessa di pangkuannya. Ia hanya bisa mendengar ucapan dokter dari jarak yang lumayan jauh tapi masih bisa mendengar.
"Hasilnya sudah keluar, dan syukurlah ternyata hasilnya cocok. Keduanya bisa melakukan operasi secepat mungkin."
Kedua mata Nara mulai berair, ia tak menyangka kalau Nevan bisa segera di sembuhkan. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini, mendengar kalau putranya bisa sembuh dalam waktu dekat. Ia harus berterimakasih pada Gavin saat operasi sudah selesai nanti.
"Kalau begitu kapan operasi akan di lakukan?" Nara sungguh tidak sabar, ingin secepatnya melihat Nevan kembali seperti semula. Tidak merasakan sakit terus menerus.
"Sebelum melakukan operasi, masih ada beberapa prosedur yang harus di lakukan. Kami akan melakukan pemeriksaan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik secara keseluruhan,
Pemeriksaan kondisi emosional dan psikologis pasien.
"Setelah seluruh pemeriksaan selesai dan pasien dinyatakan siap untuk menjalani transplantasi sumsum tulang, kami akan melanjutkan proses persiapan dengan memasukkan kateter ke pembuluh darah vena di leher atau dada.Dalam proses ini, pasien akan menjalani kemoterapi atau radioterapi. Tergantung kondisi pasien.
"Proses ini membutuhkan waktu 5–10 hari. Selama menjalani tahap ini, pasien dapat mengalami efek samping, seperti rambut rontok, diare, mual, dan muntah. Namun, kami akan memberikan obat untuk meredakan efek samping tersebut. Jadi anda harus terus memperhatikan kondisi Nevan."
"Jika semua sudah selesai maka kami akan mengabari kapan operasi akan di lakukan. Kalau begitu saya permisi." Ucap dokter langsung berbalik dan berjalan pergi meninggalkan ruangan.
Nara yang mendengar itu seketika tubuhnya melemas dan terduduk di lantai, akhirnya putranya akan sembuh. Nara mengucapkan syukur berkali-kali di dalam hati.
__ADS_1