Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Terima Beres


__ADS_3

Cahaya matahari pagi menembus jendela kamar, perlahan kelopak mata seorang pria yang sedang tertidur mulai terbuka. Melihat ke arah jendela, tirai masih tertutup tapi cahaya matahari masih bisa menembus dari sela-sela jendela.


Tangannya meraba ke atas nakas di samping tempat tidur, mengambil benda pipih di sana. Dengan mata yang masih sedikit tertutup, Gavin melihat jam di ponselnya, matanya melotot, ternyata sudah jam tujuh pagi.


Astaga, dia kesiangan. Padahal biasanya ia akan bangun jam enam pagi, tapi hari ini malahan satu jam lebih lambat. Segera ia bangkit, sekilas melihat ke samping, ada Jovanka yang tertidur di sampingnya.


Tiba-tiba ingatannya kembali pada sore hari kemarin, saat ia baru saja sampai di rumah setelah seminggu lebih berada di rumah sakit. Masuk ke dalam rumah dengan tujuan istirahat, tapi semuanya kacau saat Jovanka datang menyambutnya.


Baru beberapa langkah masuk ke dalam rumah ternyata Jovanka sedang duduk santai di sofa ruang tamu, sesaat mata mereka bertatapan. Dengan mimik wajah terkejut Jovanka segera berdiri dan pergi menghampiri Gavin, mengamati dari atas sampai bawah penampilan Gavin yang saat itu memakai kemeja abu-abu dan celana berwarna hitam.


Memang terlihat seperti biasanya, lalu tatapannya beralih pada ibu mertuanya yang juga ada di samping Gavin. Mereka masih diam di tempat, tapi tatapan Jovanka semakin terlihat marah.


“Kamu dari mana? Kenapa nggak bilang sama aku kalau mau pulang?” tanyanya dengan ketus.


Gavin menghela napas, sudah menduga Jovanka akan bertanya, “Bukannya aku sudah bilang waktu itu? Perusahaan cabang di Bali tiba-tiba ada masalah. Maaf karena tidak sempat bilang sama kamu,” bohong, semua yang keluar dari mulutnya bohong. Gavin tahu ia salah, tapi untuk sementara Gavin tidak bisa berbuat apa-apa selain menyembunyikan semua yang terjadi pada Jovanka.


“Iya, tapi kenapa habis itu nggak lagi ngabarin aku? kirim pesan atau telepon. Terus pulang juga nggak ngasih tahu dulu, Mamah juga kenapa nggak bilang sama aku kalau mau jemput Gavin?” nadanya meninggi, hanya raut wajah marah yang di tunjukkan.


Tante Helem hanya bisa tersenyum kikuk, tiba-tiba ia merasa bersalah pada menantunya. Bagaimanapun juga Jovanka adalah istri dari Gavin, putranya. Tapi ia malah ikut berbohong demi keamanan cucunya.

__ADS_1


“Mamah lupa mau kasih tau, Gavin juga ngabarinnya dadakan.”


Selama beberapa saat, mereka terus berdebat. Gavin yang masih dalam masa pemulihan itu sudah merasa lelah, ia segera mengakhiri perdebatan yang menjadi panjang karena pertanyaan Jovanka.


Huft ... Gavin menghela napas, ia merasa perdebatan kemarin hanya sia-sia, karena saat hari sudah malam, sikap Jovanka kembali seperti biasanya. Wanita itu tidak lagi marah.


Gavin segera bangkit dan pergi ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dengan air dingin. Kenapa sekarang menjadi seperti ini? Pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benak Gavin.


Rasanya semua terjadi secara tiba-tiba, Gavin belum pernah memikirkan yang akan terjadi seperti saat ini. Selain statusnya sebagai suami, ternyata statusnya bertambah menjadi seorang ayah dari dua anak.


Gavin merasa belum siap, tapi inilah kenyataannya. Hubungannya sekarang bertambah rumit, di satu sisi dia memiliki seorang istri tapi di sisi lain dia juga memiliki dua orang anak yang membutuhkan status yang jelas.


“Tumben baru bangun,” celetuk tante Helen yang melihat kedatangan Gavin.


“Kurang tidur, Ma. Semalem tidurnya kemaleman,” menarik kursi dan mendudukinya. Tangannya terulur mengambil selembar roti di atas meja dan mengoleskan selai coklat.


“Jovanka mana?”


“Masih tidur, Ma,” jawab Gavin singkat, ia mulai memasukkan roti kedalam mulutnya, perutnya terasa lapar karena semalam hanya makan sedikit.

__ADS_1


“Mama baru ngerasa kalau si Anka orangnya pemales, nggak kayak si Nara,” sepertinya tante Helen sudah mulai menyukai Nara sampai membandingkan dengan menantunya sendiri, Jovanka.


“Inget sama Jovanka, Ma.”


“Iya, Mama inget. Mama tuh sekarang jadi serba salah. Keinginan Mama buat punya cucu udah di kabulin, tapi ternyata bukan dari istri kamu. Terus juga Mama ngerasa bersalah gitu sama si Anka, kasian dia, di bohongin terus sama kamu!”


“Siapa yang bohongin Jovanka terus? Aku?” Gavin menunjuk dirinya sendiri, “Mama mah gimana, aku baru kali ini bohong, itupun terpaksa. Jangan asal nuduh, Ma.”


“Pokoknya kali ini Mama nggak mau lagi ikut campur sama urusan kamu! Mendingan kamu pikirin sendiri, cari solusi biar masalah nggak nambah banyak, Mama tinggal terima beres aja,” tante Helen meletakkan gelas kosong di atas meja, lalu berdiri dan pergi dari ruang makan. Meninggalkan Gavin yang hanya bisa melongo sambil mendengus.


.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


jangan lupa komen di tiap paragraf ya 😚😚


__ADS_2