Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Pindah


__ADS_3

“Sudah siap semua?” tanya Gavin begitu selesai memasukkan barang-barang ke dalam bagasi mobil.


“Siap!” jawab Nessa dan Nevan, keduanya dengan semangat langsung masuk ke dalam mobil bagian belakang di ikuti Nara dan Gavin.


“Kalau gitu kita jalan,” Gavin menghidupkan mesin mobil, perjalanan pulang ke rumah pun di mulai.


“Langsung ke rumah kamu, Mas?” tanya Nara di tengah perjalanan, Gavin menoleh sekilas lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.


“Iya, kenapa? Atau kamu mau mampir ke rumah dulu?”


Nara menggeleng dan berkata, “Nggak usah, aku cuma nanya kok.”


Suasana di dalam mobil kembali hening, hanya terdengar suara cekikikan dari Nessa yang sedang bermain ponsel. Di mobil ini hanya ada mereka berempat, Helen sudah lebih dulu pulang bersama supir karena ingin menyambut menantu baru.


Sedangkan Fahmi dan ayahnya pergi dengan mobil yang berbeda. Mereka akan kembali bertemu malam nanti saat acara makan malam. Kalau Kiki, perempuan jomlo itu sudah kabur duluan habis sarapan. Ada pekerjaan yang menunggu dan Nara memaklumi.


Tiga puluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai, Nara turun dari mobil dan menatap rumah tiga lantai milik keluarga Gavin. Ini adalah kali kedua ia menginjakkan kaki di rumah ini. Tapi, dengan status yang berbeda.


Dulu hanya sebagai tamu dan sekarang menantu, tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang. Nara menarik napas dan mengembuskannya perlahan.


“Ra? Kenapa bengong? Ayo, masuk!” Gavin menyentuh pundak Nara membuat Nara tersentak.


“Hah? Iya!”


Nara dan Gavin berjalan beriringan, koper kecil yang ada di bagasi akan di bawa oleh pelayan. Ketika masuk, di sana Nara sudah di sambut oleh Helen dan beberapa gadis yang tidak Nara kenal.


“Selamat datang, Nara ... ” ucap Helen, menggenggam jemari Nara dan membawanya duduk di sofa.


“Maaf ya, Ra. Mamah nggak bisa bikin acara penyambutan buat kamu, soalnya mereka berdua ini tiba-tiba datang jadinya nggak sempet,” sesal Helen, terdengar helaan napas berat dari ibu mertua Nara ini.

__ADS_1


Nara tersenyum lembut, membalas genggaman tangan Helen dan berkata, “Nara nggak perlu ada acara penyambutan, Mah. Cukup Nara di terima di rumah ini, Nara udah seneng.”


Helen tersenyum haru mendengar itu. “Beruntung banget Mamah bisa dapet menantu kayak kamu,” ucapnya.


"Mereka siapa, Mah?” tanya Nara menatap dua gadis yang sedang senyum-senyum tidak jelas padanya.


“Oh ya, Mamah lupa belum ngenalin. Kenalin, Ra, mereka ponakan Mamah, perempuan yang keriting ini namanya Bina, kalau yang mukanya jutek ini namanya Ghiska, mereka baru datang ke sini dari kampung halaman. Nggak sempat hadir kemarin gara-gara baru hari ini mereka libur,” jelas Helen, Nara mengangguk paham.


“Hai,” sapa Nara tersenyum lembut dan tangannya terulur mengajak berkenalan, gadis keriting bernama Bina itu langsung menyambut uluran tangan Nara.


“Hai juga Mbak cantik,” Bina membalas senyuman itu. Lalu menyenggol lengan Ghiska bermaksud agar ikut berkenalan.


“Ghiska,” ucap Ghiska pendek, Nara tersenyum kaku karena sikap Ghiska yang terlihat dingin.


“Jangan peduliin, Mbak. Dia emang begitu, tapi aslinya baik kok. Cuma kadang suka ngeselin aja,” ujar Bina yang mengerti maksud dari tatapan dan senyuman Nara.


“Bundaaa ... ” teriakan gadis kecil membuat semua orang yang sedang duduk itu spontan menoleh. Nara tersentak karena baru ingat dengan kedua anaknya.


“Dari atas, lihat kamar baru. Bagus, Bunda. Banyak bonekanya,” kata Nessa yang terlihat sangat senang, Nara menghela napas lega karena Nessa tidak menghilang di rumah sebesar ini.


“Terus Nevan mana?”


“Masih sama Ayah, Nevan juga punya banyak mainan,” ujarnya.


“Wahh, apa dia anaknya mas Gavin?” celetuk Bina.


Helen mengangguk. “Iya, namanya Nessa. Nes, kenalin ini ponakan Nenek, namanya Bina.”


“Halo, Tante ... ” sapa Nessa, Bina tersenyum senang.

__ADS_1


“Halo, cantik. Kamu cantik banget lho, pipinya tembem iihhh ... ” Bina mencubit kedua pipi Nessa yang mana membuat Nessa memekik kesakitan.


“Sakit, Tante. Jangan di cubit, nanti aku nggak cantik lagi,” gerutu Nessa, bibirnya cemberut dan maju ke depan, Bina tertawa melihatnya.


“Kayaknya kita bakal cocok deh, kamu itu se-frekuensi sama Tante,” Bina terlihat sangat senang.


Nara yang melihat itu ikut tersenyum. Ia lega karena banyak yang menyukai kedua anaknya dan Nessa juga mudah untuk bergaul. Nggak malu-malu kucing.


“Ra, kalau kamu capek kamu istirahat di kamar aja, yah. Eh, kamu udah tau kamarnya di mana?” tanya Helen, Nara menggeleng tidak tahu.


“Yah, Mamah pikir Gavin udah ngasih tau. Bentar, Mamah panggilin dulu Gavin-nya.”


“Gavin!!” Helen memanggil dengan suara yang keras dari lantai bawah tentu akan terdengar sampai ke atas.


Tak berapa lama Gavin terlihat sedang menuruni anak tangga. Terlihat tergesa dan ada Nevan di belakangnya.


“Kenapa, Mah?”


“Mendingan kamu antar Nara ke kamar kalian, kasian dia, kayaknya capek,” ujar Helen.


Gavin mengangguk, ia mendekati Nara yang masih duduk di sofa. “Capek?” tanyanya.


Nara menggeleng seraya tersenyum. “Nggak.”


“Ya sudah, lebih baik kita masuk ke dalam kamar. Sekalian ngajak kamu lihat kamar yang nanti di tempati,” kata Gavin.


“Na! Kamu jagain anak-anakku sebentar, aku mau ajak Nara lihat kamar,” Gavin menoleh ke arah Bina yang sedang asik berbincang dengan Nessa.


Bina mengacungkan jempolnya. “Siap, Mas. Jangan lama-lama ya di kamar, masih siang ini. Kasian Mbak Nara pasti masih kecapean,” ujarnya yang langsung mendapatkan toyoran di kepala dari Gavin.

__ADS_1


“Nggak usah ngomong sembarangan,” decak Gavin kesal. Bina tertawa kencang sampai membuat Ghiska yang mau memejamkan matanya terkejut.


__ADS_2