
Pagi hari, rumah Gavin.
Di sebuah kamar lantai dua, seorang wanita berusia empat puluhan namun kulit wajahnya masih terlihat kencang sedang duduk di depan cermin. Suasana hatinya sangat bagus hari ini, terlihat kalau tante Helen senyum-senyum sendiri.
Ia memoles wajahnya dengan make up sembari bersenandung. Pikirannya saat ini hanya berisi dengan Nevan dan Nessa. Ah, ia sungguh tidak sabar ingin pergi melihat Nessa sekalian menjenguk Nevan di rumah sakit.
Ia masih tak menyangka kalau dua anak kecil yang sudah memikat hatinya saat pertama kali bertemu adalah cucunya. Sungguh kejutan manis yang tak terduga, sangat mampu membuatnya terkejut tak menyangka.
Apalagi saat ia mengingat Gavin yang selama ini tidak pernah menyentuh istrinya, ia pikir kalau Gavin memiliki kelainan. Tapi setelah mendapat kabar bahwa ia memiliki dua orang cucu, pikiran bahwa Gavin memiliki kelainan ia buang jauh-jauh.
Bahkan hanya sekali percobaan Gavin bisa langsung mendapatkan dua. Ah, bibit unggul memang beda, pikirnya.
Saat mengucapkan kata istri, ia melupakan keberadaan Jovanka. Entah akan bagaimana reaksi menantunya itu saat mengetahui tentang kebenaran ini. Ia bergidik ngeri, mengerti dengan watak asli menantunya.
Sesaat ia berhenti memoles wajahnya, berpikir bagaimana caranya agar Jovanka jangan sampai tahu hal ini. Sangat bahaya, apalagi saat ini Nevan sedang di rumah sakit. Belum lagi dengan perkataan Gavin yang bilang kalau ia akan menjadi pendonor untuk Nevan.
Aduh, saking senangnya ia sampai lupa dengan kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Berpikir, ia terus berpikir sampai melupakan wajahnya yang belum selesai di make up.
"Mah ..."
Tante Helen terperanjat, ia kaget sampai hampir saja terjungkal ke belakang. Kalau saja ia tidak cepat-cepat berpegangan dengan meja di depannya, kepalanya mungkin sudah terbentur lantai.
Tante Helen mencoba menetralkan rasa terkejutnya, rasanya jantungnya sudah mau keluar, beruntung ia tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Tante Helen mengusap dadanya.
"Mamah nggak apaa?" tanya Jovanka dengan khawatir. Padahal ia hanya memanggil dan itupun dengan suara yang pelan, tapi kenapa reaksi mamanya seperti itu.
"Hem... Mama nggak apa-apa, cuma kaget aja kamu tiba-tiba dateng."
"Itu, Ma. Mamah mau kemana? kok bajunya rapi banget, dandanannya juga. Terus tadi Anka liat Mamah senyum-senyum sendiri." Jovanka menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Sejak tadi ia memperhatikan mertuanya yang terlihat sangat senang.
Bingung, Tante Helen berpikir dengan cepat. Alasan apa yang harus di pakai?
"Ah, iya. Tadi Mamah dapet telepon dari temen, katanya ada kumpul-kumpul. Mamah juga kaget kenapa tiba-tiba, nggak kasih kabar dulu."
"Oh ... gitu." Jovanka menganggukkan kepala mengerti. "Boleh Anka ikut?"
"Hah?!!"
"Iya, Anka mau ikut. Boleh 'kan?"
Aduh!
__ADS_1
"Bukannya Mamah nggak mau ajak kamu, tapi... " Bingung, ia sungguh bingung ingin memakai alasan apa. Kenapa tiba-tiba kepalanya mendadak tidak dapat berpikir?
Ahhh... Tante Helen jadi geram sendiri.
"Ya udah kalau Mamah nggak pengen ajak Anka. Lagian Anka juga hari ini pengen ke salon," Ucap Jovanka membalik tubuhnya, ia langsung berjalan menjauh. Meninggalkan mertuanya yang sedang menghela napas lega.
_________
Rumah sakit.
Tante Helen berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit dengan semangat, sejak tadi senyumnya terus mengembang.
Di tangannya terdapat beberapa kantung plastik yang berisi buah dan banyak makanan lainnya. Juga ada beberapa mainan untuk di berikan pada Nessa. Untuk Nevan, ia tidak membelinya karena ia sedikit tahu tentang Nevan yang tidak begitu suka dengan mainan.
Ia sangat menantikan bagaimana reaksi dari Nessa saat melihat dirinya, apalagi membawa banyak mainan untuk anak itu.
Tante Helen terus berjalan, sampai ia baru tersadar kalau ia belum mengetahui dimana ruang perawatan Nevan berada. Seketika ia merutuki dirinya, bisa-bisanya ia melupakan hal ini.
Segera ia mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya, mengerti nama Gavin di kontak ponsel. Ia menempelkan benda pipih itu di telinganya. Menunggu beberapa saat sampai telepon tersambung.
"Halo, Mah?"
"Tanya apa, Mah?" Di sebrang sana, Gavin sedang duduk di kursi kebesarannya. Ia sedang memeriksa berkas serta dokumen yang kemarin tak ia kerjakan. Alhasil hari ini ia akan lembur.
"Mamah lupa mau tanya, ruangan Nevan dimana?"
Gavin tercengang di buatnya, ia juga lupa untuk memberi tahu dimana letak ruang perawatan Nevan berada.
"Ada di lantai tiga, ruang cempaka nomor empat. VIP ya, Mah."
"Ya udah, Mamah tutup dulu." Tanpa mengucapkan terimakasih, Tante Helen mematikan sambungan telepon. Saat ini ia sedang berada di lantai dua. Segera ia melanjutkan langkahnya mencari dimana ruang Nevan berada.
Tok Tok Tok
Tante Helen mengetuk pintu, ia tidak ingin langsung masuk walaupun semangatnya sudah berada di puncak. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit akhirnya ia sampai di tempat tujuan.
Saat pintu sudah terbuka, tante Helen melihat Nara. Senyuman lebar ia berikan pada Nara.
"Tante?" tanya Nara dengan ekspresi terkejutnya, ia tak menyangka kalau tante Helen akan datang. Cepat juga pria itu memberi tahu kebenaran pada ibunya.
"Hai, apa Tante boleh... masuk?"
__ADS_1
"Ah, iya. Masuk, Tan. Maaf tadi agak kaget Tante dateng tiba-tiba jadinya lupa mau ajak Tante masuk," ucap Nara merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa."
Nara mempersilahkan Tante Helen masuk terlebih dahulu, wanita yang berusia hampir kepala lima itu meletakkan kantung plastik di atas meja. Ia menatap sekeliling ruangan, tidak ada Nessa di sana.
Sampai matanya tertuju pada Nevan yang sedang duduk bersandar pada bantal. Ah, hatinya tiba-tiba menjadi sedih melihat keadaan Nevan yang seperti ini.
Ia berjalan mendekat, air mata datang tiba-tiba di sudut matanya. Baru pertama kali melihat Nevan dengan status yang berbeda, sebagai cucunya. Hatinya sedikit sakit, melihat wajah tampan yang hampir mirip dengan Gavin di masa kecil sedang terbaring di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang lemah.
Melihat kedatangan tante Helen, Nevan tidak mengatakan apa-apa. Tante Helen hanya menghampiri dan mengusap kepalanya saja. Setelah itu ia kembali pada Nara yang saat ini sedang duduk di sofa.
"Gimana keadaannya?"
Nara mendongak, melihat tante Helen yang masih memandang ke arah Nevan. "Sudah mendingan, beberapa hari lagi baru bisa operasi."
"Huh! Anak nakal itu kenapa baru menemukanmu sekarang?" kesal tante Helen pada anaknya sendiri, Gavin.
"Tante udah tau, ya."
Tante Helen menoleh, ia melihat Nara yang sedang menunduk. Jari wanita itu saling meremas..
"Kebangetan kalau anak itu nggak kasih tau." Tante Helen menjeda ucapannya, lalu menghela napas.
"Sebenarnya kenapa bisa gini?"
Nara mengerti dengan pertanyaan tante Helen. Kemudian ia menceritakan kembali tentang peristiwa menyakitkan itu. Tapi dengan suara yang pelan, takut kalau Nevan akan mendengarnya.
Ia menceritakan tanpa menambah atau mengurangi, tanpa kebohongan dan bicara dengan jujur. Bagaimana kehidupannya setelah mengetahui kalau saat itu ia tengah hamil, anak dari pria yang tidak ia ketahui siapa namanya.
Ingin meminta tanggung jawab tapi tidak mengetahui dimana alamat rumahnya, Nara masih harus menutupi kehamilannya agar tidak bisa tercium oleh siapapun sampai ia selesai kuliah.
Yang mengetahui kehamilannya hanya Ibu Mira dan Kiki, selain mereka Nara tidak memberi tahu siapapun lagi. Tapi setelah kelahiran anak kembarnya, mulai banyak mulut pedas yang berkomentar buruk tentangnya.
Semua itu Nara tahan sampai lima tahun lamanya, tapi ia sudah merasa kebal. Meskipun masih banyak yang menghujat, Nara tidak akan lagi peduli. Percuma jika di ladeni, ia akan merasa lelah sendiri.
Nara terus bercerita, sampai air matanya mengalir, sungguh lima tahun belakangan ini adalah masa dimana Nara terus berjuang. Apalagi membesarkan dua anaknya sendirian tanpa suami.
Tubuhnya bergetar menahan tangis yang hampir pecah, tante Helen mengusap punggungnya lembut. Di peluknya tubuh Nara, ia ikut meneteskan air mata. Mendengar cerita Nara, menumbuhkan kekaguman dan rasa bangga tersendiri di lubuk hati wanita itu.
Perjuangan Nara, perjalanan wanita muda untuk membesarkan dua anak sendiri pasti terasa sangat berat. Tante Helen sangat bangga pada Nara, tidak bisa terpikirkan bagaimana jika ia yang ada di posisi wanita yang sedang di peluknya ini.
__ADS_1