Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Tante Jahat


__ADS_3

Cuaca cukup panas siang ini, matahari sudah berada di titik tertinggi. Angin sepoi menerpa wajah Gavin, membuat beberapa rambut Gavin sedikit bergoyang.


Ia melepaskan kacamata hitam yang bertengger di atas batang hidungnya, tatapannya mengamati sekitar. Mencari keberadaan seseorang.


Sudah hampir sepuluh menit menunggu, tapi belum ada satu anak pun yang keluar dari area sekolah. Gavin terus menunggu, ia bersandar pada mobil sembari mengecek ponselnya.


Sampai suara bel sekolah berbunyi barulah Gavin menghentikan aktivitasnya. Ia mematikan ponsel lalu memasukkan ke dalam saku jas-nya.


Beberapa tetes keringat jatuh dari kening Gavin, sepertinya efek kepanasan, ia sampai berkeringat. Dengan fokus ia kembali mengamati area sekolah, takut akan salah mengenali.


Sampai pandangannya mengarah pada seorang gadis kecil yang sedang berjalan sendirian, dengan menggendong tas sekolah berwarna merah muda dan rambutnya di ikat dua.


Sebuah senyuman terbit di wajah Gavin, ia sudah menemukan gadis kecil yang di carinya. Segera ia berjalan menghampiri Nessa, ingin tahu bagaimana reaksinya saat melihat kalau dirinya lah yang menjemputnya.


"Nessa ... " Terdengar pelan, tepat di hadapan Nessa. Gadis kecil itu mengangkat kepalanya, terkejut, senang, tidak menyangka bercampur menjadi satu saat melihat kedatangan Gavin.


Bola matanya melebar dan senyuman di wajahnya mengembang. Dengan kaki kecilnya, Nessa berlari menghampiri Gavin, padahal sudah dekat.


"Om Gavin yang jemput Nessa?" sudah berada dalam gendongan Gavin, Nessa melingkarkan tangannya di leher ayah kandungnya.


Sebelum keluar dari sekolah, Nessa sudah tidak bersemangat. Tidak ada Nevan yang bisa ia ganggu, menjadi hari-harinya di sekolah tidak terasa menyenangkan.


Tapi saat melihat Gavin datang menjemputnya, suasana hatinya dalam sekejap berubah. Gavin adalah obat badmood bagi Nessa, tidak tahu kenapa Nessa sangat menyukai Gavin.


"Seneng nggak?" Nessa mengangguk cepat, ia bukan hanya senang tapi sudah sangat senang sekali. Ini kali pertama Gavin datang menjemputnya ke sekolah, kalau begitu lain kali ia akan meminta Gavin selalu menjemputnya. Jangan hanya hari ini saja.


Gavin mendudukkan Nessa di kursi depan samping kemudi. Lalu ia mengitari mobilnya dan masuk. Ia tidak membawa supir atau asistennya, ia ingin menyetir sendiri untuk menjemput Nessa.


"Kita mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" Mobil sudah bergerak maju, Gavin menyetir dengan santai. Sesekali menengok ke arah Nessa, anak itu sedari tadi senyum-senyum tidak jelas.


Gavin sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Tapi ia suka, ini pertama kalinya ia menjemput anak kecil dari sekolah. Rasanya menyenangkan juga.

__ADS_1


Terlihat Nessa sedang berpikir, ia mengetuk dahinya dengan jari. "Kalau di rumah sakit terus bosen, Om. Kita jalan-jalan dulu aja."


"Siap, Tuan Putri," ucapnya seraya mengangkat tangan memberi hormat, seperti saat di upacara pengibaran bendera merah putih. Nessa tertawa melihatnya.


Gavin kembali melajukan mobilnya, ia mencari tempat yang cocok untuk mengajak Nessa jalan-jalan. Rencananya akan mengajak Nessa makan terlebih dahulu, lalu membawa anak itu bermain permainan di pusat perbelanjaan.


Ah, sempurna. Semoga Nessa suka dengan rencananya.


Setelah sampai di tempat tujuan, Gavin memarkirkan mobilnya. Mereka berdua turun dan berjalan dengan bergandengan tangan. Nessa masih mengenakan seragam sekolahnya tapi tas-nya ia tinggalkan di dalam mobil.


Restoran mewah yang isinya makanan mahal menjadi pilihan Gavin, ia mengajak Nessa duduk di kursi yang hanya ada dua tempat duduk. Gavin meminta Nessa memilih sendiri makanannya. Lalu ia juga sama.


Sebelum makanan datang, mereka saling mengobrol banyak hal. Hari istimewa bagi Nessa, pulang sekolah di jemput oleh om kesayangannya. Di ajak makan sebelum kembali lagi pulang ke rumah sakit, tidak ada yang lebih menyenangkan dari pada hari ini.


Gadis kecil itu menceritakan tentang masa silam yang ia ingat. Tentang saat pertama kali pindah rumah, lalu juga banyak tetangga yang tidak begitu menyukai mereka.


Ingin bermain dengan anak-anak lain sekitar tapi tidak di perbolehkan oleh orang tua mereka. Perkataan yang selalu Nessa ingat adalah saat para tetangga Nara selalu bilang kalau mereka anak haram yang tidak punya ayah.


"Jangan bermain sama anak haram itu, nggak level."


"Jangan suka main sama mereka, mereka bukan orang baik."


Perkataan yang menusuk, tapi tak pernah di masukkan ke dalam hati oleh Nessa. Namun selalu membekas dalam ingatan. Bagaimana ia sering di perlakukan seperti sebuah barang kotor oleh mereka.


Hanya Nevan yang menjadi teman bermainnya, hanya dengan Nevan ia menjadi gadis kecil yang nakal. Hanya Nevan yang selalu melindungi dirinya ketika teman-teman nakal padanya.


Nevan adalah adik kesayangannya, walaupun ia sering jahil pada adiknya tapi ia sangat sayang. Jika tidak ada Nevan maka tidak akan ada yang melindungi dirinya saat bunda tidak ada.


Nessa bercerita dengan ekspresi yang biasa saja, tapi berbeda dengan Gavin. Pria itu merasa hatinya seperti di iris menggunakan belati yang tajam. Mendengar cerita putrinya rasanya hatinya sangat sakit.


"Kenapa bundamu nggak nikah lagi?" pertanyaan konyol yang tiba-tiba Gavin lontarkan. Ia segera memukul mulutnya itu.

__ADS_1


"Nggak tau, Om. Tapi setiap kita tanya ayah dimana, bunda nggak pernah jawab." Jawaban yang melenceng dari pertanyaan, kenapa rasanya sangat tepat menusuk jantung Gavin.


Ingin kembali bertanya tapi tidak jadi, makanan sudah datang. Terdengar bunyi perut keroncongan. Wajah Nessa sumringah sekaligus malu. Suara perutnya sangat keras sampai bisa terdengar oleh orang lain.


__________


Tempat tujuan selanjutnya, pusat perbelanjaan besar. Gavin mengajak Nessa menuju tempat khusus permainan. Membiarkan Nessa bermain sepuasnya, sementara dirinya hanya duduk mengamati gadis kecil kesayangannya.


Hampir satu jam, Nessa akhirnya berhenti. Raut wajah senang tidak bisa ia tutupi. Menyenangkan sekali, batinnya sejak tadi bersorak senang.


Jika setiap hari begini maka Nessa tidak akan pernah bosan. Jika Nevan sudah sembuh maka akan semakin menyenangkan. Nessa menunggu harus itu tiba.


Setelah puas bermain, Nessa meminta di belikan ice cream karena haus. Gavin menurutinya, menyuruh Nessa untuk memilih sendiri.


Mereka berdua duduk di kursi panjang sebelum pulang. Ingin menghabiskan ice cream yang di tangan dulu. Tapi kesenangan yang di rasa pupus saat kedatangan seseorang.


Jovanka menatap Gavin lalu beralih pada Nessa, menatap anak itu dengan tatapan tidak suka.


"Bukannya hari ini harusnya kamu ke kantor?"


"Aku sudah bekerja lembur beberapa hari ini, jadi ingin beristirahat dulu."


"Kalau begitu kenapa tidak istirahat di rumah? Kenapa malah bermain dengan anak nakal ini?" Menunjukan Nessa, membuat Gavin menjadi tersulut emosi.


Anaknya di bilang nakal, ia tidak terima. Tapi ingat karena saat ini mereka sedang berada di tempat ramai. Lebih baik Gavin diam.


"Sudahlah, terserah aku ingin istirahat yang bagaimana. Di rumah pun aku tidak tahu harus melakukan apa."


Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicara, Gavin meraih tangan Nessa. Mengajak gadis kecil itu pergi.


Lagi-lagi, sama seperti saat di kantor Gavin. Nessa menjulurkan lidahnya. Mengejek Jovanka, hingga membuat wanita itu kesal, sangat kesal sampai menjadi marah.

__ADS_1


Saking kesalnya sampai tidak sadar saat ia membanting ponselnya ke lantai.


"Astaga!!!"


__ADS_2