Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Nessa Cerita


__ADS_3

Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil tidak terasa nyaman, ada aura-aura ngambek di sekitar Nara dan Gavin. Keduanya hanya bisa menampilkan senyum terpaksa dengan rasa bersalah.


“Bunda jahat, deh. Masa aku tidur di lantai sedangkan Bunda di kasur,” keluh Nessa.


Mimik wajahnya benar-benar tidak enak di pandang, lantaran ia kesal dengan kedua orang tuanya yang membiarkan dirinya dan Bina tidur di lantai, sedangkan mereka berdua enak-enak tidur di atas kasur.


Perkataan Nessa di setujui oleh Bina. Ia ikut kesal karena sekarang lehernya jadi sakit.


“Pokoknya kalian harus ganti rugi, ini leher aku pada sakit gara-gara salah posisi apalagi nggak pakai bantal.”


"Tadinya mau ngajak kalian pulang tapi nggak tega mau bangunin kalian yang masih tidur nyenyak," alasan Nara.


“Ya setidaknya kan kasih kami bantal, sakit banget leher aku. Harus di pijit ini mah,” Bina mengusap leher bagian belakang, sedikit nyeri membuat dia meringis.


“Iya, maaf ya ... ”


Sudah sekitar lima belas menit mereka di perjalanan, tidak sampai setengah jam lagi akan sampai, hari sudah malam dan mereka belum makan malam. Ini karena mereka semua ketiduran sampai tidak sadar akan waktu.


“Udah sih, kalian nggak usah khawatir. Nanti Ayah kasih uang sebagai ganti rugi, jangan ngeluh terus,” Gavin jadi kesal.


“Nah, ini juga salah Ayah ... " kata Nessa.


"Betul itu," timpal Bina.


"Iya, salah Ayah sama Bunda ... " Gavin pasrah.


Sepuluh menit kemudian sampailah mereka di rumah, dengan cepat Nessa dan Bina masuk, katanya mereka lapar dan ingin makan, sekalian Bina mau pamer baju baru pada Ghiska.

__ADS_1


Setelah menunggu Gavin memarkirkan mobil di garasi, Nara dan Gavin bersama-sama masuk ke dalam. Kini hubungan keduanya semakin dekat, bahkan jemari mereka sudah saling bertaut sepanjang jalan masuk ke dalam rumah.


“Astaga ... kenapa kalian baru pulang?” Helen hanya bisa menggelengkan kepalanya, sejak tadi Nevan khawatir karena Nara dan Gavin tak pulang-pulang, di tambah Nessa dan Ghiska juga.


Tapi, yang paling Nevan khawatirkan adalah Nara. Helen sampai harus menahan Nevan yang ingin pergi mencari ayah dan bundanya.


“Maaf, Ma. Tadi kami ketiduran di butik, dan baru pulang,” kata Nara.


“Ya sudah. Mendingan kalian makan, lihat mereka berdua, makannya kayak di kejar hantu atau kayak sudah nggak makan selama seminggu,” tunjuk Helen pada Nessa dan Bina yang terlihat seperti tengah lomba makan.


"Itu juga salah Nara, Ma. Nara tidur sampai lupa waktu. Bangun-bangun malah sudah malam."


"Iya, buruan gih makan! Ntar sakit perut karena masuk angin."


Nara dan Gavin mengangguk, mereka berjalan menuju meja makan. Di sana, Nessa dan Bina sudah hampir habis satu piring, makan malam sambil berceloteh ria, terlihat menyenangkan walaupun pembahasannya berujung ghibah.


“Asal kamu jangan nakal ya mereka nggak bakal nakal,” ujar Bina enteng.


"Ih, tapi kata teman aku di sekolah itu banyak anak nakal."


"Emang kamu punya teman?"


Nessa menyipitkan matanya, tak suka Bina bilang bahwa dia tidak punya teman. "Punya walaupun anaknya ngeselin, suka ngejek aku, kadang kalau jajan dia selalu minta traktir, alasannya nggak punya uang. Sayangnya, dia nggak bisa nipu aku. Memangnya aku nggak tahu kalau mamanya dia banyak uang? Baju-bajunya aja kelihatan mahal."


"Yakin itu teman kamu? Kok aku ragu? Masa teman suka ngejek?"


"Iya, dia sebenarnya baik. Cuma mamanya aja yang suka ngomongin soal aku ke dia yang aneh-aneh. Suka ngejek kalau aku nggak punya ayah, aku anak haram. Heh! Dia kira keluarganya juga udah bener apa? Padahal ya, Tan. Papanya teman aku itu jarang pulang ke rumah."

__ADS_1


Nessa sampai menepuk keningnya, menceritakan apa yang dia alami ketika temannya mengejek dirinya. Bina hanya manggut-manggut mengerti.


"Udahlah, kalau pikiran teman kamu udah tercemar oleh mamanya, jauhin aja dia. Otaknya udah nggak baik lagi kalau ketemu kamu. Pasti mulutnya gatal pengen ejek kamu lagi," saran Bina.


"Iya, aku juga udah mulai ngejauh. Nggak nyaman, Tan. Walaupun dia ganteng," celetuk Nessa.


Bina menjitak dahi Nessa hingga anak itu meringis. "Owalah, aku pikir anaknya perempuan."


Nessa hanya bisa nyengir. "Aku bertahan jadi teman dia cuma karena muka dia ganteng. Enak gitu di pandangin. Jarang-jarang lho ada anak kecil yang gantengnya minta ampun."


Sekali lagi Bina menjitak Nessa. Ia sampai geleng-geleng kepala menanggapi cerita Nessa.


"Oh ya, emangnya ayah teman kamu itu kemana?" Bina malah menambah bensin di kobaran api.


"Nggak tahu," Nessa mengedikkan bahu.


"Tapi, tetangga Bunda bilang ayah teman aku itu punya cewek lain. Cuma aku diam aja," kata Nessa.


"Iyalah kamu diam, emangnya kamu mau apa? Ngadu?" Bina tak habis pikir.


Makanan mereka hampir habis, sementara ada dua orang yang terus mendengar cerita Nessa. Nara dan Gavin hanya bisa menahan tawa, lumayan seru untuk menambah suasana agar tidak canggung.


"Maksudnya, aku nggak balik ejek dia. Gini, 'Uhuy, Bapak situ juga nggak pernah pulang!'" Nessa bicara dengan nada mengejek.


"Emang kamu beneran berani ngomong kayak gitu?' Bina memicing. Makanan di piring mereka berdua sudah habis.


Nessa mengambil gelas dan meminumnya hingga habis. Lalu, ia berkata, " Enggak! Hahaha .... "

__ADS_1


__ADS_2