Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Tanggal Berapa Ini?


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti hari-hari sebelumnya, Nessa dan Nevan akan berangkat sekolah. Anak-anak sudah rapi dengan seragamnya.


"Bunda, hari ini sarapan apa?" Nessa mendekati Nara yang sedang berjalan ke arah kulkas.


"Sarapan kayak biasanya... "


"Ihh ... Bunda kenapa nggak ganti-ganti sarapannya, masa roti melulu," keluh Nessa, wajahnya berubah masam.


Setiap pagi, Nara hanya sempat membuat roti panggang untuk sarapan. Anak-anak sampai merasa bosan, tapi tetap makan walaupun kadang terus mengeluh.


"Hehehe ... Maaf ya, Bunda juga pengen masak pagi-pagi, tapi kalian kan tahu sendiri kalau Bunda sibuk, banyak kerjaan. Tapi hari ini kita nggak makan roti panggang, kebetulan kemarin tetangga baru kita kasih cake, awalnya sih Bunda mau nolak tapi nggak enak, jadi kalian nggak usah khawatir bakalan di suruh sarapan roti panggang pagi ini."


"Hah? Serius Bun? Cake rasa apa?" tanya Nessa dengan mata berbinar. Mendengar kata cake membuatnya tidak jadi mengeluh.


"Rasa coklat, kesukaan kalian kan?"


Nessa mengangguk, ia kemudian berbalik menuju meja makan. Menunggu Nara yang sedang mengambil cake di dalam kulkas.


"Sarapan apa kita pagi ini?" tanya Nevan sambil berbisik, saat Nessa sudah duduk manis dan tersenyum.


"Kenapa?" Nessa mengangkat alisnya bingung.


"Aku bosan sarapan roti setiap hari," seketika itu juga Nessa tertawa. Ternyata bukan hanya dirinya yang bosan dengan menu sarapan yang tidak pernah ganti.


"Aku juga sama, bosan kalau sarapan roti melulu. Tapi kata Bunda hari ini kita makan cake, bukan roti," ujarnya ikut berbisik.


"Kalian ngomongin apa?" tanya Nara yang baru datang, sehingga membuat dua anak itu terlonjak kaget, mereka sama-sama tidak menyadari kedatangan Nara.


"Bunda bikin kaget aja," Nessa cemberut.


"Lagian kalian bikin orang curiga, ngomong harus bisik-bisik," Nara mulai memotong cake yang masih utuh. Berbentuk bulat dan cukup besar.


"Wahh ... Bunda ini beneran di kasih? Bukan beli?" Nessa sudah hampir meneteskan air liurnya, sungguh cake ini sangat menggoda lidah, ingin cepat-cepat memakannya.

__ADS_1


"Emang kapan Bunda punya waktu buat beli cake?"


"Kan bisa beli lewat online, Bun."


Nara tertawa sinis, "Huh, kamu masih kecil udah tahu belanja online, emangnya pernah?"


"Hehehe ... Nggak pernah. Tapi aku pernah lihat tante Kiki belanja lewat hape, makanya tahu. Lagian ya, Bun aku tuh sudah besar, sebentar lagi mau ulang tahun yang ke lima," Nessa menunjukkan lima jarinya di hadapan Nara, seketika Nara melotot.


Ia hampir lupa dengan ulang tahun kedua anaknya, untung Nessa ngomong. "Emang sekarang tanggal berapa?"


"Tanggal enam Juli, eh, jangan-jangan Bunda lupa yah sama ulang tahun aku?" Nessa menatap Nara tajam, yang hanya bisa menggaruk belakang kepalanya tanda bingung.


Ia memang hampir kelupaan. Nevan yang sejak tadi hanya menyimak itupun langsung menyenggol Nessa.


"Ishh ... Kenapa sih?"


"Bukan cuma kamu yang ulang tahun, aku juga. Kita berdua, ingat, bukan kamu tapi kita," protes Nevan, dan di balas Nessa dengan menjulurkan lidahnya lalu lanjut memakan cake.


Kalau sekarang tanggal enam, dan ulang tahun kedua anaknya adalah tanggal dua belas. Berarti tinggal enam hari lagi, Nara menepuk keningnya, hari bulan dan tahun berlalu begitu cepat, kedua anaknya semakin tumbuh besar, sudah pasti kalau dirinya tambah semakin tua, dan yang lebih mengenaskan dia belum juga menikah.


Obrolan mereka terputus saat tiba-tiba Gavin datang. Dia masuk rumah tanpa suara dan tanpa mengetuk pintu, Nara menjadi kesal, semakin lama Gavin semakin suka seenaknya.


"Kenapa nggak ketuk pintu dulu kalau mau masuk!" tanya Nara ketus.


"Tadi saya sudah ketuk pintu, tapi nggak ada yang buka. Ya sudah saya masuk saja," jawab Gavin santai lalu ikut duduk di sebelah Nevan. Tatapannya terpaku pada cake yang sedang ibu dan anak-anak itu makan.


"Kapan kalian beli cake ini?"


Mendengar pertanyaan Gavin, tiba-tiba Nessa tersenyum misterius. "Kata Bunda cakenya di kasih tetangga baru, Yah. Kayaknya laki-laki di sebelah suka sama Bunda, makanya kasih cake ... " ucap Nessa membuat ketiga orang itu melotot.


"Apa?!" Gavin menatap Nessa terkejut, dan Nessa langsung menganggukkan kepalanya serius.


Sedangkan Nevan menahan senyum, lalu Nara menatap Nessa kesal. Sudah berani berbohong rupanya gadis kecil ini.

__ADS_1


"Kemarin, pas Ayah baru pulang, tiba-tiba O'om tetangga baru kenalan sama Bunda, sambil ngasih cake ... " Nara melongo mendengar ucapnya putrinya, dari mana Nessa tahu kejadian kemarin? Bukannya kedua anaknya itu tertidur.


Terlihat kalau wajah Gavin sedang menahan kesal, dan kedua tangannya pun mengepal. Nevan mengangkat salah satu tangannya untuk menutupi mulut, berusaha menahan tawa agar tidak meledak. Kakaknya pintar berakting serius rupanya.


"Tahu darimana?" tanya Nara penasaran.


"Ada deh... " Nessa tersenyum menyebalkan di mata Nara.


"Emangnya Nessa tahu siapa nama O'om nya?" Nara masih mengetes.


"Tahu. Namanya om Joshua kan?"


Lagi Nara melongo, rahangnya sampai terbuka lebar. Ternyata kedua anaknya tahu. Sedangkan Nevan masih berusaha menahan tawa, ia hampir tidak sanggup lagi.


"Bukannya kalian tidur?"


"Bunda pernah bilang, habis makan jangan langsung tidur. Jadi kita duduk-duduk dulu kemarin, pas Bunda kenalan aku lihat dari jendela." Nara menghela napasnya, ternyata begitu.


"Terus kenapa Nessa tadi tanya mau sarapan apa? Bukannya udah tahu?"


"Ya belum tahu lah, Bun. Aku kan nggak tahu kalau isi hadiah yang di kasih om Joshua itu isinya cake," ucapnya jujur. Nara tersenyum pasrah.


Berbeda dengan laki-laki asing yang bukan siapa-siapa mereka, dia malah mengepalkan tangannya semakin kuat, merasa kesal yang amat sangat. Aneh, pikirnya.


.


.


.


bersambung


huwaaaa😭😭 akhirnya bisa up, padahal harusnya part ini untuk kemarin pagi, tapi jaringannya ngajak gelud. gangguan satu hari full🤧🤧

__ADS_1


__ADS_2