Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Donor


__ADS_3

Setelah mendapat telepon dari Kiki yang terus mendesaknya untuk bicara kenapa Nara menghilang dari kemarin. Akhirnya Nara pun menceritakan kenapa dia sulit dihubungi, serta Nevan yang sedang di rumah sakit.


Seolah tak percaya, Kiki mengira Nara berbohong. "Buat apa aku bohong soal beginian?" kesal Nara.


"Terus kenapa kamu nggak ngabarin dari awal?" Di sana, Kiki juga sedang merasa khawatir dan kesal. Sebagai sahabat, Nara tidak memberitahunya. Mungkin, jika dia tidak berinisiatif menelepon, maka Nara benar-benar tidak akan memberitahu dirinya.


"Aku lupa, karena terlalu panik. Lagian baru tadi pagi Nevan sakitnya."


"Alasanmu pasti selalu lupa. Ya udah deh, nanti aku kesana, tapi bukan sekarang. Aku lagi kerja, nggak bisa di tinggal, takut si bos marah-marah."


"Iya."


Telepon dimatikan, Nara meletakkan kembali ponselnya di dalam tas kecil yang ada di atas nakas. Nara melirik Nessa yang saat ini sedang tertidur di sofa. Sedangkan Fahmi sudah pergi sejak tadi.


Menunggu tanpa melakukan apapun membuat Nara merasa ngantuk, sampai tak sadar jika matanya ikut terpejam. Hari sudah mulai sore, Nara membuka matanya. Dia tidak sadar jika tertidur dalam keadaan duduk.


Nara menguap sembari merentangkan kedua tangannya, dia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Nara baru ingat kalau dia dan Nessa belum makan siang.


Nara menepuk jidat, pantas saja saat baru bangun tidur perutnya sudah berbunyi. Nara menjadi bingung, dia ingin membeli makanan tapi tidak bisa meninggalkan kedua anaknya.


Saat itu juga pintu ruangan terbuka, Nara melihat Fahmi datang dengan membawa dia kantung plastik yang tidak tahu isinya apa.


"Kalian pasti belum makan 'kan?" tanya Fahmi duduk di sofa dekat dengan Nessa yang masih terlelap.


"Iya, Kak."


"Nih, Kakak bawain kalian makanan. Kakak tau pasti kamu lagi laper sekarang."


"Makasih ya, Kak." Fahmi mengangguk sebagai jawaban.


Fahmi membangunkan Nessa, dia menyuruh anak itu mencuci mukanya di kamar mandi saat sedang mengumpulkan nyawa selepas bangun tidur.

__ADS_1


Setelah menghabiskan makan siangnya yang terlambat, Nara meminta Fahmi menemani Nessa dan Nevan sebentar. Dia ingin pulang untuk mengambil pakaian milik Nessa dan Nevan, karena Nara tidak tahu kalau akan menginap di rumah sakit. Jadinya dia tidak membawa pakaian ganti.


Fahmi mengangguk, Nara pun segera pulang ke rumah menaiki taksi. Dan saat kembali lagi ke rumah sakit, Nara sudah mengganti pakaiannya. Nara menyuruh Nessa untuk mandi dan mengganti pakaiannya.


Sampai sekarang Nevan belum juga terbangun, Nara menatap putranya yang entah sedang tertidur atau pingsan. Karena dokter bilang kalau sedang tertidur dan bukan pingsan. Tapi kenapa sampai sekarang belum bangun juga?


Pintu ruangan terbuka, dokter masuk dan berjalan mendekati Nara yang sedang duduk di samping ranjang Nevan.


Nara berdiri dari duduknya, "ada apa, Dok?"


"Saya ingin memberitahu tentang hasil pemeriksaan fisik milik pasien bernama Nevan Fabian Ardhani."


Tubuh Nara seketika menegang mendengar kata 'hasil pemeriksaan'. Dia berharap bahwa diagnosa dokter tadi pagi salah dan menyatakan kalau Nevan hanya sakit biasa.


"Dari hasil tes darah dan aspirasi sumsum tulang yang kami lakukan menyatakan kalau Nevan memang mengalami leukemia. Seperti perkiraan saya tadi pagi."


Ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan Nara. Berarti saat ini anaknya memang terkena leukemia. Tubuhnya menjadi lemas, bergetar menahan tangis yang hampir pecah. Nara meremas jari-jarinya untuk menahan agar air matanya tidak terjatuh di saat seperti ini.


"Jadi, lebih baik Ibu segera beritahu kami ingin melakukan pengobatan yang seperti apa. Tadi pagi juga saya sudah menjelaskan tentang cara apa saja yang bisa dilakukan agar putra Ibu bisa sembuh. Dan Ibu tinggal memilih. Tapi, saya sarankan agar Ibu memilih melakukan transplantasi sumsum tulang, agar kita bisa langsung menghilangkan penyakit Nevan." Ucap dokter melanjutkan.


"Untuk kecocokan sumsum tulang, bisa di lakukan oleh keluarga kandung. Karena keluarga kandung memiliki kecocokan paling tinggi. Bisa di lakukan oleh ayahnya atau ibunya, bisa juga dengan kakaknya jika ada. Kalau begitu saya permisi, jika sudah buat keputusan langsung beritahu saya. Agar kita bisa mengobati putra Ibu secepatnya."


Setelah mengatakan itu, dokter langsung pergi. Saat pintu sudah tertutup kembali, tubuh Nara jatuh terduduk di lantai. Air mata yang sudah dia tahan sejak tadi akhirnya keluar juga. Nara menangis tanpa bersuara, tangannya memegang dada yang terasa sesak.


Fahmi yang sejak tadi hanya diam dan mendengarkan penjelasan dokter itu ikut meneteskan air matanya. Segera dia mengusap dan berdiri berjalan menghampiri Nara.


Fahmi memegang pundak Nara, "jangan sedih, asal Nevan di obati maka Nevan bisa sembuh lagi. Kalau kata dokter transplantasi sumsum tulang bisa bikin Nevan cepet sembuh, nggak masalah 'kan?"


"Tapi gimana kalau punyaku nggak cocok, Kak?" Nara mengangkat kepalanya menatap Fahmi.


"Belum di tes, kita nggak tau hasilnya cocok atau nggak. Tapi berdoa aja, kalau memang bener nggak cocok, aku bisa ikut tes juga. Siapa tau hasilnya cocok."

__ADS_1


Fahmi membantu Nara berdiri, dia membawa Nara duduk di sofa. Mengusap air mata yang masih mengalir di pipi wanita itu. Selama mengenal Nara, baru kali ini Fahmi melihat Nara sangat terpuruk.


Sebagai kakak, Fahmi bisa merasakan apa yang Nara rasakan saat ini. Apalagi saat dia melihat Nevan yang saat ini sedang menahan rasa sakit. Tubuh yang biasanya sangat aktif kini terbaring lemah, anak itu menderita penyakit yang seharusnya tidak di deritanya. Fahmi sangat sakit melihatnya.


________


Setelah dapat penjelasan dari dokter, Nara dan Fahmi langsung melakukan tes kecocokan sumsum tulang. Mereka berdua berharap kalau salah satu dari mereka cocok dengan milik Nevan. Sehingga bisa langsung melakukan operasi tanpa kesulitan mencari sumsum tulang yang lain karena tidak cocok.


Hasilnya akan keluar besok, Nara harus bersabar. Dalam hati terus berdoa, berharap agar sumsum tulangnya cocok dengan milik Nevan.


Saat hari mulai malam, Kiki datang ke rumah sakit, dia pun begitu sedih melihat keadaan Nevan. Anak itu sudah bangun sejak sore tadi. Demamnya sudah turun dan tidak mimisan.


Tapi tubuhnya masih lemah dan juga Nevan tidak banyak bicara. Tidak mengeluh sakit atau lapar. Nevan masih seperti biasa, membuat Kiki gemas sendiri. Kenapa Nevan tidak menangis atau bilang pada mereka jika tubuhnya terasa sakit atau perutnya terasa lapar.


Di ruangan VIP, hanya Kiki yang banyak bicara. Dia begitu cerewet pada Nevan agar mau membalas ucapannya. Sampai Kiki mendapat telepon dari ibunya yang menyuruhnya untuk pulang, Kiki tidak bisa menginap dan dia pamit pulang.


Keesokan paginya, Nara dan Fahmi sudah menunggu kedatangan dokter. Keduanya merasa gugup dan tidak sabar mendengar hasilnya. Nara sampai mengeluarkan keringat dingin dan detak jantungnya berpacu dengan cepat.


Saat pintu terbuka, dokter yang sudah di tunggu datang.


"Maaf, hasil tes kalian berdua tidak cocok. Apakah tidak ada kerabat lain yang memiliki hubungan darah dengan Nevan? Misalnya ayah dari anak itu. Bisa jadi keduanya cocok dan kita bisa melakukan operasi."


Lagi-lagi tidak sesuai dengan harapan Nara. Dia menutup wajahnya dengan tangan dan menangis. Bekas menangis kemarin belum hilang namun kini dia kembali menangis. Entah apa yang akan Nevan katakan jika melihat dirinya seperti ini.


Tiba-tiba Nara teringat seseorang yang mungkin bisa membantunya. Ya, hanya orang itu yang mungkin memiliki kecocokan paling tinggi dengan Nevan. Tapi, apakah harus meminta bantuannya? Nara menjadi bingung.


.


.


.

__ADS_1


bersambung🤧


jangan lupa like dan komennya ya😣😣


__ADS_2