
Tiga hari berlalu, waktu yang cukup singkat bagi Gavin. Hari yang di tunggu tiba, ia tinggal menunggu hasil tes DNA pada dokter yang sudah bekerja keras itu. Dalam tiga hari bisa memenuhi permintaannya.
Gavin meremas jemarinya, gugup. Dadanya tiba-tiba berdebar lebih cepat, padahal sudah yakin kalau Nessa dan Nevan adalah anaknya tapi kenapa saat menunggu hasil tes membuatnya sangat gugup?
Gavin duduk di kursi ruangan dokter dengan gelisah, ia menjadi tidak sabar dengan hasilnya yang sudah bisa di tebak.
ceklek!
Pintu ruangan terbuka, Gavin menoleh, ternyata dokter yang sudah ia tunggu kehadirannya datang. Membawa map coklat di tangannya, pria berkacamata dengan jas putih itu berjalan menghampiri Gavin.
dokter laki-laki itu duduk, berhadapan dengan Gavin. Tangannya terulur membuka map coklat yang di bawanya. Sebelum memberikan hasil pada Gavin, dokter membacanya terlebih dahulu.
"Anda meminta saya untuk melakukan tes ini, tapi sepertinya anda sudah mengetahui hasilnya." Dokter terus melihat ke arah kertas putih yang di pegangnya, dari hasil tes menunjukkan kalau ada hubungan antara ayah dan anak.
Tapi kenapa pria di depannya ini masih ingin mengetes? Ah, atau jangan-jangan pria di depannya ini meragukan anaknya?
Beberapa pertanyaan muncul di benakmu dokter, ia hanya bisa menyimpulkan sendiri semua jawaban dari pertanyaannya.
Sudah banyak juga yang seperti Gavin, meminta dirinya melakukan tes DNA dengan alasan takut kalau anak itu bukan miliknya. Atau dengan alasan lainnya yang tidak masuk akal bagi dokter itu.
"Ah, iya. Saya hanya ingin memastikan."
Dokter mengangkat kepalanya, menatap Gavin dengan mata memicing.
"Saya sudah sering mendengar alasan seperti anda ini. Bukan hanya anda yang meminta saya melakukan tes DNA dengan alasan seperti itu. Pasti anda meragukan anak anda sendiri, saya sarankan agar istri anda jangan sampai mengetahui kalau anda telah melakukan ini."
Ah, Gavin menjadi bingung sendiri dengan ucapan dokter di depannya. Apa maksudnya? meragukan anak sendiri? tapi bukan itu maksudnya melakukan tes ini. Ia hanya ingin memastikan. Bukan meragukan.
Dan kenapa istrinya tidak boleh sampai tahu? Tapi memang benar, kalau istrinya sampai mengetahui jika dirinya sudah mempunyai anak maka urusannya akan bertambah panjang. Harapannya saat ini hanya ingin agar Jovanka jangan sampai tahu hal ini lebih awal.
Ia ingin menyembuhkan Nevan, anak itu butuh operasi secepatnya. Menghilangkan seluruh penyakit leukemia yang bersarang di tubuhnya. Karena beberapa hari belakangan ini Gavin selalu menyempatkan diri untuk menjenguk Nevan di pagi hari sebelum pergi ke kantor.
Setiap ia ke tempat Nevan di pagi hari, pasti saat itu juga Nevan sedang merasa kesakitan, mimisan walaupun tidak banyak, juga tubuhnya yang terasa sakit karena efek dari radioterapi yang di jalaninnya.
Walaupun dokter sudah memberikan obat agar Nevan tidak akan terlalu merasakan sakit tapi tetap saja, obat-obatan juga hanya bisa membantu Nevan setengahnya saja. Setelah obat pereda rasa sakit habis maka Nevan akan kembali mimisan dan suhu tubuhnya sedikit naik.
Sabar, tidak sampai seminggu lagi maka Nevan akan di operasi, Gavin sudah siap. Ia tak takut karena akan menjadi Pendonor. Semua demi putranya, mungkin ini yang bisa ia lakukan untuk menebus waktu lima tahun karena tidak ada disisi mereka.
Tapi tetap belum cukup, lima tahun adalah waktu yang lama. Ia harus memikirkan kembali bagaimana cara agar bisa bersama dengan mereka berdua.
__ADS_1
Gavin menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal, ia tersenyum canggung pada dokter setelah mendengar ucapan pria itu. Tidak tahu bagaimana menjawab perkataan dokter yang tidak semuanya benar.
"Oh, iya. Saya ingin mengingatkan satu hal lagi pada anda. Lain kali jika ingin meminta saya melakukan tes seperti ini lagi, saya hanya meminta pada anda agar jangan memberikan saya waktu tiga hari."
"Kenapa, Dok?"
"Gara-gara anda, saya harus bekerja lembur. Lingkaran hitam di mata saya ini ulah anda. Pertama kalinya bagi saya melayani seorang seperti anda, rasanya ingin memukul tapi saya tahan. Jika bukan karena bayaran mahal, mana mungkin saya mau menyelesaikan pekerjaan ini dalam waktu tiga hari."
"Bukankah memang pekerjaan anda untuk melayani keinginan kami? Tapi terimakasih untuk hasilnya yang memuaskan, saya pastikan anda akan mendapatkan bonus karena telah membantu saya."
Gavin berdiri dari duduknya, ia mengambil map coklat yang ada di tangan dokter. Lalu melangkah pergi. Tanpa pamit pada dokter yang sepertinya sedikit kesal.
Di luar ruangan, Gavin mencari tempat duduk. Ia membuka map coklat dengan cepat. Membaca kata demi kata yang tertulis di situ. Walaupun menggunakan bahasa kedokteran yang sulit di pahami, tapi satu hal yang ia ketahui.
Hasil dari tes ini menyatakan tingkat kecocokan mencapai sembilan puluh sembilan persen. Sudah bisa di pastikan, memang benar bahwa ia, Nessa dan Nevan memiliki hubungan darah, antara ayah dan anak.
Tanpa sadar air matanya mengalir setelah membaca lembaran kertas putih itu. Sekali lagi, ia masih tidak menyangka kalau memiliki dua orang anak.
__________
Gavin berjalan menuju tempat Nevan berada, ia ingat kalau hari ini Nessa sedang bersekolah. Ia berencana untuk menjemput putrinya itu sekalian mengajak Nessa jalan-jalan.
Tapi sebelum pergi, Gavin harus bicara dengan Nara.
"Hemm... "
"Sebentar lagi Nessa pulang sekolah, apakah aku boleh menjemputnya?"
Kali ini Nara menoleh, ia menatap Gavin dengan kening berkerut. "Bukankah kamu ayahnya? Kenapa harus meminta izin?"
"Tapi... "
Nara menghela napas, "ya sudah, tinggal jemput saja. Lagipula kak Fahmi hari ini nggak bisa jemput Nessa."
"Baiklah, terimakasih"
Sebelum pergi, Gavin mendekati Nevan terlebih dahulu. Wajah anak itu terlihat sedikit bingung.
"Van, Ayah pergi dulu. Mau Jemput Nessa sekolah, jangan lupa makannya yang banyak, biar cepat sembuh." Gavin mencium kening putranya yang saat ini sedang terpaku karena terkejut, lalu mengusap pucuk kepala Nevan.
__ADS_1
Gavin kembali berjalan menghampiri Nara, sepertinya tanpa sadar pria itu mendekati wajah Nara. Ingin mencium kening Nara seperti Nevan tadi.
"Astaga!!! Kamu mau apa?!" Nara segera menjauh, ia mundur beberapa langkah. Sungguh terkejut dengan tindakan Gavin.
"Ah... " Seakan baru tersadar, Gavin tanpa berkata apa-apa lagi segera pergi. Ia juga begitu terkejut dengan tindakannya barusan. Tapi untungnya belum sampai, tapi hampir, hampir saja ia mencium kening Nara.
Ah, sial!!!
Rasanya Gavin sangat malu, apa yang ia lakukan tadi sebenarnya?
Di luar ruangan Gavin mengacak rambutnya, ia merutuki dirinya yang hampir saja bertindak ceroboh.
Apa karena ia sering melihat keluarga orang lain yang seperti itu, setiap suami ingin pergi maka akan mencium kening sang istri terlebih dahulu. Ahhh.... Apa yang ia pikirkan ini, mereka bahkan bukan suami istri. Dirinya juga sudah mempunyai istri.
Ini gila!
Sepertinya sekarang Gavin tidak bisa terlalu lama berada dalam satu ruangan dengan Nara, bahaya, ini bahaya!! detak jantungnya tidak bisa ia kendalikan.
.
.
.
bersambung
Mini story ⬇⬇
Di dalam ruangan, Nara yang masih terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Gavin menatap kosong disekitarnya. Perlahan tangannya memegang dada yang saat ini detak jantungnya berpacu dengan cepat.
"pffttt" Suara tawa Nevan yang tertahan membuat Nara tersadar, ia menoleh pada putranya yang saat ini sedang menahan tawa.
"Ehem, jangan ketawa, nggak lucu." Dengan nada ketusnya Nara kembali menghampiri Nevan, ingin menyuapi Nevan.
"Tapi reaksi Bunda juga terlalu. Om Gavin pasti kaget."
Benarkah? Tapi ia sungguh terkejut dengan tindakan Gavin tadi. Ia bereaksi seperti itu juga karena refleks, bukan di sengaja.
"Tapi, kenapa tadi Bunda bilang kalau om Gavin ayahnya Nessa? Tadi juga pas om Gavin nyium aku, om Gavin bilang 'ayah pergi dulu'."
__ADS_1
Nevan ingat, ia masih mengingat semua ucapan Gavin saat sedang menciiumnya tadi. Ia terpaku karena terkejut dengan kata 'ayah' yang Gavin ucapkan.
Ruangan di sekitar tiba-tiba menjadi hening, suasananya nampak berbeda. Tenggorokan Nara terasa tercekat, ia bingung bagaimana akan menjelaskan pada Nevan tentang kejadian barusan.