
Langit malam yang berhiaskan bintang, bulan bersinar terang. Suasana malam yang terasa mencekam, terasa dingin sampai menusuk kulit. Nara melipat kedua tangannya di dada, sesekali mengusap kulit mencoba mengurangi rasa dingin.
Dilihatnya bintang di atas langit, entah apa yang dia pikirkan hanya dia yang tahu. Sekarang sudah pukul setengah sepuluh malam tapi matanya masih belum terasa ngantuk.
Duduk di sofa dekat dengan jendela, Nara melihat banyak bintang bertebaran. Nara sudah ingin tidur tapi tidak tahu kenapa matanya sama sekali tidak bisa terpejam tidur dan memasuki alam mimpi.
Nara mendesah pelan, kemudian dia bangkit dari duduknya. Meregangkan kedua tangannya, terasa sedikit pegal. Kakinya melangkah, berjalan menuju kasur. Di ambilnya ponsel di atas nakas, berniat menelpon seseorang.
Mengetik sebuah nama dan melakukan panggilan. Diletakkannya benda pipih itu di dekat telinganya, sampai telepon tersambung. "Halo, Ki?"
"Halo, Ra? Kenapa? Tumben telepon aku." Tanya Kiki di sana.
Suara di tempat Kiki terdengar ramai, Nara mengerutkan keningnya. Apa yang sedang Kiki lakukan tengah malam begini?
Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benak Nara. "Emangnya aku nggak boleh nelpon kamu?"
Pura-pura cemberut, saat ini Nara sedang butuh hiburan dan tempat untuk curhat. Matanya masih belum mengantuk, jadi Nara butuh seorang teman untuk mengobrol.
"Ya, nggak gitu juga. Eh, tumben juga kamu belum tidur. Lagi mikirin aku ya... "
Jiwa narsis Kiki tetap ada, sejak mereka kenal Kiki lebih terbuka dan menunjukkan sikap aslinya. Nara senang mempunyai sahabat seperti Kiki, sikap Kiki yang apa adanya dan suka ceplas-ceplos membuat Nara merasa terhibur.
Padahal tidak ada niatan Kiki untuk membuatnya tertawa, tapi tanpa sadar kalau kelakuan Kiki membuat kehidupan Nara yang awalnya terasa biasa saja dan lurus menjadi lebih berwarna dan hidup.
"Idih, siapa yang mikirin kamu. Jangan sok tau, deh."
"Terus kamu kenapa telepon aku? Aku lagi sibuk nonton drakor. Jadi kalau kamu nelpon aku tengah malem gini, artinya kamu udah ganggu waktu sibuk aku."
__ADS_1
Ah, pantas saja suara diseberang sana berisik, ternyata Kiki sedang menonton drama kesukaannya. Sejak masih sekolah, Kiki tidak pernah lepas dari drama favoritnya.
Bahkan saat bel istirahat baru berbunyi, dengan semangat Kiki mengeluarkan ponselnya dan langsung menonton. Nara yang duduk sebangku dengan Kiki marasa sudah terbiasa dengan sikap seperti itu.
Terkadang jika Nara ingin pergi ke kantin, Kiki butuh bujukan agar mau menemaninya. Beruntung Nara sahabat yang memiliki banyak kesabaran, jadi tidak dia akan meninggalkan Kiki sendiri di kelas dan makan sendirian tanpa mengajak Kiki.
Padahal jika mereka sudah di kantin, Kiki lah yang paling bersemangat makan. Dia juga sering mentraktir Nara begitu juga sebaliknya. Mereka terlihat seperti lebih dari sahabat, keduanya begitu akur sampai membuat orang salah paham dan mengira kalau mereka itu bersaudara.
Mengingat itu tanpa sadar Nara tersenyum.
"Ra!!!"
Teriakan Kiki membuat Nara terkejut. "Ah, iya. Kenapa sih, Ki..?"
"Kamu kebiasaan, aku lagi ngomong kenapa nggak di dengerin?"
Nara duduk, bersandar pada headboard. Jika di ingat-ingat lagi ternyata kenangan masa lalunya sangat indah.
"Masa lalu kenapa harus di ingat? Mendingan mikirin masa depan, siapa tau bisa nikah sama Jungkook. Hehehe..."
Ya ampun, Nara tahu bagaimana ekspresi wajah Kiki saat ini. Pasti Kiki sedang membayangkan seperti yang Kiki katakan, menikah dengan idolanya sampai membuat air liur hampir menetes.
Selain menonton drakor, Kiki juga sangat suka dengan lagu K-Pop, bukan karena lagunya tapi karena penyanyi yang Kiki sukai.
"Udah deh, mimpi ke tinggian cuma bikin kamu jatuh dan tak bisa bangkit lagi." Ucap Nara terkekeh.
"Emangnya kamu pikir aku badak yang kepeleset terus nggak bisa bangun lagi, gitu?"
__ADS_1
Nara tertawa mendengarnya, mereka mengobrol sampai tak sadar sudah larut malam. Saat telepon sudah di matikan, Nara melihat jam di ponselnya. Ternyata sudah pukul sebelas malam.
Tapi Nara sama sekali belum mengantuk. Setelah bicara dengan Kiki Nara merasa lebih lega. Dia bangkit dari duduknya dan pergi keluar kamar.
Berjalan menuju ruang tamu, Nara menyalakan televisi. Mencari saluran yang menarik, sembari duduk di atas sofa. Sampai Nara tidak sadar jika sudah ketiduran.
__________
Kedua matanya mulai terbuka, suara ayam yang berkokok membuat tidurnya terganggu. Nara mengucek kedua matanya.
Begitu terkejut saat dia baru sadar kalau ternyata dia terbangun di ruang tamu. Televisi yang ada di depannya pun masih menyala. Nara merutuki dirinya yang bisa-bisanya tidak sadar kalau tertidur di atas sofa.
Alhasil saat ini hampir seluruh tubuhnya terasa remuk, seperti seorang gadis yang baru melepas keperawanannya. Nara berdiri dan merentangkan kedua tangannya.
Salah satu tangannya menutup mulut yang sedang menguap, di liriknya jam yang sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Dia kesiangan, kembali merutuki dirinya yang tertidur terlalu larut.
Nara pergi ke kamar mandi, dan membersihkan tubuhnya. Terasa segar dan tidak dingin, tapi tubuhnya masih terasa sedikit pegal. Ah, lain kali Nara tidak ingin menonton TV di malam hari sendirian.
kemudian dia pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Seperti biasa, hanya roti dan susu. Karena kedua anaknya belum bangun Nara melakukan pekerjaan rumahnya, menyapu dan mengepel lantai, serta hal lainnya.
.
.
.
bersambung
__ADS_1