Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Nessa Sedih


__ADS_3

Hari ini pun tiba, hari di mana kedua anak Nara akan merayakan ulang tahunnya yang ke lima. Tanggal dimana mereka berdua dilahirkan. Nara menatap haru keduanya, di dalam kamar Nessa dan Nevan sudah memakai pakaian yang Nara rancang sendiri.


Nevan memakai setelan jas berwarna biru muda dengan tuxedo dan dasi kupu-kupu berwarna hitam, sedangkan Nessa yang memakai gaun bak princess di negeri dongeng dengan warna yang sama seperti Nevan. Keduanya sangat serasi, ditambah dengan wajah yang cantik dan tampan.


"Anak-anak Bunda udah gede ya, cantik sama ganteng. Bunda nggak nyangka banget." Nara mengusap setitik air matanya di sudut. Jauh di lubuk hati ia masih tak menyangka kalau di usia semuda ini sudah mempunyai anak-anak yang sudah tumbuh besar.


"Hehehe ... Nessa yang paling cantik ya, Bun," celetuk Nessa yang di angguki oleh Nara. Tapi tidak dengan Nevan.


"Masih cantikan Bunda."


Nessa mendelik, "Mana ada! Bunda tuh mirip sama aku, tapi masih cantikan aku!!" ucapnya tak terima, Nevan melengos.


"Mana ada Bunda mirip kamu, yang ada kamu mirip Bunda. Nggak ada istilahnya ibu mirip anaknya, yang ada anak mirip ibunya," kata Nevan.


Nessa memandang kesal, "Ishh ... 'Kan cuma kebalik, lagian artinya sama aja!!"


"Beda!!" Nevan bersikeras.

__ADS_1


"Kamu nyebelin!! Muka doang yang ganteng persis cetakan ayah tapi mulutmu nggak seganteng mukamu! Beda sama Ayah ... "


"Bedalah, Ayah sudah tua sedang aku masih kecil. Muka Ayah memang ganteng jadi nurun ke aku, tapi aku dapat dobel ... " Nessa mengerutkan keningnya tanda tak paham. "Maksudnya gimana?"


"Selain aku ganteng mirip Ayah, aku juga imut, punya pipi chubby yang masih lembut, kalau enggak, nggak mungkin teman-teman kamu suka nempel sama aku." Nevan tertawa setelahnya lalu langsung bergegas pergi keluar, sedangkan Nessa merasa semakin kesal.


Nara juga ikut tertawa, sejak tadi dia hanya menyimak. Pertengkaran kecil kedua anaknya lah yang membuat Nara merasa terhibur. Jika mereka tidak ribut seperti ini, suasana akan terasa sepi. Kakak adik kalau nggak berantem namanya bukan kakak adik, dan nggak bisa bikin suasana jadi hidup.


Berbeda dengan Nara yang terpisah dari keluarga sejak bayi. Ketika kecil pun ia jarang bertengkar. Dalam pikirannya dulu hanya tidak ingin merepotkan ibu Mira, karena beliau harus mengurus banyak anak-anak di panti. Nara kecil selalu menjaga sikap, tak bisa jahil pada teman karena ia sadar diri dan juga takut akan dimarahi.


Nara mengikuti kedua anaknya yang berjalan keluar kamar, teman-teman mereka sudah datang dengan kado di tangan masing-masing. Ada ibu Mira, Kiki, dan Helen di sana, tapi satu hal lagi yang kurang. Kenapa Gavin belum juga datang?


"Bundaaa ... Ayah kemana??" Nessa menghampiri Nara, wajahnya sudah berkaca-kaca, Gavin sudah berjanji padanya untuk datang dan membawa kado yang lebih bagus dari pada punya Nara dan Fahmi. Tapi sampai saat ini, Gavin belum juga kelihatan batang hidungnya.


"Aduh, Bunda juga nggak tahu. Apa Ayah nggak telpon Nessa?"


"Nessa udah lama nggak ngobrol sama Ayah," ucap Nessa yang kini tangisnya hampir pecah.

__ADS_1


"Terus Nessa telpon Ayah juga nggak? Bilang sama Ayah kalau Nessa mau ulang tahun hari ini nggak?" Nessa sudah berjongkok, mensejajarkan tinggi badannya dengan badan Nessa.


"Ayah nggak bisa di telpon, Bunda. Ayah bilang mau dateng kasih Nessa hadiah yang bagus, kenapa Ayah belum dateng?" Setitik air mata milik Nessa terjatuh, Nara segera mengusapnya.


"Nessa jangan nangis dong! Nanti bedaknya luntur, Nessa nggak cantik lagi. Mungkin Ayah masih di jalan, 'kan Nenek semalam bilang kalau Ayah pergi ke luar kota." Nara mencoba menenangkan Nessa yang mulai sesegukan. Bisa gagal acara kalau Nessa beneran nangis kejer gara-gara ayahnya nggak dateng.


"Tapi Ayah ... "


"Udah, cup ... cup. Ayah pasti dateng, kan udah janji sama Nessa, berdo'a aja. Siapa tahu Ayah beneran lagi di jalan, atau kena macet." Nessa mengangguk samar setelah mendengar perkataan Nara, gadis kecil ini masih berusia untuk berpikir positif dan berharap ayahnya tidak lupa dengan ulang tahunnya.


"Kenapa, Ra?" tanya Kiki yang baru datang setelah melihat kalau Nessa dan Nara mengobrol cukup lama. Padahal acara harusnya sudah di mulai sejak beberapa menit yang lalu, tapi pemeran utamanya malah asik mengobrol sambil nangis.


"Ini lho, Nessa nangis gara-gara Mas Gavin belum datang. Aku juga heran, udah empat hari ini belum ngeliat dia, bisa-bisa kalau Nessa nangis acaranya bakal gagal ... " Nara masih memeluk Nessa yang sudah mulai tenang.


"Ciee ... Bilang aja kamu yang kangen," ucap Kiki dengan nada mengejek, Nara mendelik kesal, "Mana ada! Kamu nggak lihat ini kalau Nessa mau nangis? Gara-gara Mas Gavin tuh kenapa tiba-tiba ngilang, di telpon nggak bisa, Nessa jadinya sedih ... "


"Ah! Mungkin Ayah Gavin nya lagi kena macet di jalan habis beliin Nessa hadiah makanya lama. Gimana kalau kita tiup lilin dulu? Siapa tahu habis tiup lilin Ayah Gavin nya langsung nyampe ... " giliran Kiki yang membujuk Nessa, perlahan Nessa menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tuh kan, Bunda bilang juga apa! Lihat nih bedak kamu udah luntur kena air mata," kesal Nara setelah Nessa membalik badan, wajahnya sedikit memerah dan bedak bayinya jadi hilang agak acak-acakan.


"Pakai lagi!"


__ADS_2