Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Mulai Curiga


__ADS_3

Tekad Gavin untuk cepat membuat Nevan menerimanya sebagai ayah benar-benar bulat, bukan hanya sekedar keinginan semata.


Karena ia tak bisa tinggal serumah dengan Nessa dan Nevan, hampir setiap hari Gavin akan datang berkunjung ke butik atau rumah Nara.


Pagi hari waktunya di kantor, jam makan siang akan ia gunakan untuk menemui kedua anaknya, tidak lupa dengan membawa makanan setiap pertemuan.


Bahkan Nara sudah hampir terbiasa dengan kedatangan Gavin yang tiba-tiba, wanita itu tak mempermasalahkannya, ia dengan bebas boleh menemui anak-anak.


Tapi pernah satu kali Gavin memberanikan diri bicara dengan Nara, dan meminta izin dari Nara untuk membawa kedua anaknya untuk menginap di rumahnya, tapi langsung di tolak oleh Nara tanpa berpikir.


“Kamu boleh ketemu sama anak-anak, tapi tolong jangan menambah masalah dengan membawa mereka menginap di rumah kamu!! Mereka sudah cukup menderita selama ini, dan aku tidak mau penderitaan mereka bertambah karena kebencian istri kamu jika dia tahu kamu sudah punya anak!”


“Aku bukan melarang, tapi apa kamu tidak lihat? Setiap kami bertiga bertemu dengan istrimu, dia selalu menatap kami dengan tatapan benci. Jadi kamu sudah cukup menemui mereka seperti ini tanpa mengajak mereka menginap di rumahmu selagi masih ada istrimu!”


Ucapan Nara terus terngiang di telinga Gavin, sudah seminggu ini ia terus menemui kedua anaknya, dan karena rencananya yang di tolak Nara dua hari lalu, setiap di kantor ia pasti akan memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut Nara.


Benarkah mereka semenderita itu?

__ADS_1


Karena selama ini, yang ia tahu kalau Nara dan kedua anaknya hidup dengan baik. Tapi sepertinya ia salah, karena ia masih belum mengetahui bagaimana kehidupan mereka bertiga beberapa tahun belakangan.


Padahal usahanya untuk meluluhkan Nevan dalam seminggu sudah hampir tercapai, anak itu sudah mulai menerima dirinya sebagai ayah, tapi kenapa Gavin tiba-tiba merasa bersalah?


Gavin sampai pusing memikirkannya, ia mengetuk-ngetuk meja menggunakan pulpen, dengan salah satu tangan menyangga kepalanya. Matanya menatap lekat pada sebuah bingkai kecil yang berisikan foto Nessa dan Nevan.


Lalu ia melirik jam di pergelangan tangannya, sebentar lagi ia akan pergi menemui anak-anak, seperti biasa. Tapi sepertinya rencana hari ini sedikit berantakan dengan kedatangan Jovanka.


Pintu ruangan terbuka tanpa ada ketukan terlebih dahulu, Jovanka masuk melewati Fifi yang terlihat sedikit ketakutan. Lalu sekretaris Gavin itu menutup pintu perlahan agar ia tak mendapatkan masalah.


“Harusnya aku yang tanya! Kenapa beberapa hari ini kamu nggak ada di kantor pas jam makan siang? Aku hampir setiap hari ke kantor kamu tapi sekretaris kamu bilang kalau kamu lagi pergi”


“Sebenarnya kamu kemana? Setiap aku tanya ke sekretaris kamu dia selalu jawab nggak tahu! Aku telepon HP kamu tapi selalu nggak aktif kalau lagi jam makan siang, terus tau aku dari nelpon kenapa nggak di telpon balik?!”


Jovanka menatap Gavin curiga, banyak yang berubah dalam diri Gavin selama seminggu ini, juga tentang perjalanan Gavin ke Bali waktu itu. Sebenarnya ia belum bisa percaya.


Ingin menyelidiki tapi tapi ia berpikir dua kali. Karena jika Gavin sampai mengetahui kalau ia telah menyelidiki kegiatan Gavin selama seminggu pergi, pasti Gavin akan marah besar padanya.

__ADS_1


Selama menikah, ia belum mendapatkan Gavin sepenuhnya, baik tubuh maupun hati pria itu.


Ia tahu, masalah Gavin yang pernah memperkosa seorang gadis saat penculikan itu, hal itulah yang membuat Gavin terus merasa bersalah, pun menikah dengan dirinya karena paksaan keluarga.


Kakeknya dan kakek Gavin dulu sudah pernah memutuskan pernikahan ini, awalnya Helen juga menolak, karena tak ingin memaksa Gavin untuk menikahi wanita yang tidak dicintai.


Tapi, karena desakan keluarga Jovanka membuat Helen terpaksa menyerah, beliau hanya sendiri, tidak mempunyai satupun pendukung karena suami Helen, ayahnya Gavin sudah meninggal hampir enam tahun.


Kakeknya pun sudah meninggal lebih dulu, sebuah penyakit yang membuatnya memiliki kesepakatan dengan keluarga Jovanka.


“Bukan urusan kamu!” jawab Gavin ketus, ia memalingkan wajah enggan menatap Jovanka.


Sebenarnya kesabaran Jovanka dalam menghadapi sikap Gavin selama ini sudah mencapai puncaknya, Jovanka merasa ia sudah cukup bersabar untuk membuat Gavin jatuh cinta padanya.


Tapi sikap Gavin selalu acuh tak acuh padanya, membuat Jovanka terkadang kehilangan kendali dan marah saat ia sedang sendiri.


Tapi ia tak akan menyerah begitu saja, Gavin miliknya, Gavin sudah menjadi suaminya, ia mencintai Gavin. Jovanka akan melakukan apapun agar Gavin bisa tetap menjadi miliknya.

__ADS_1


__ADS_2