Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Cemburu


__ADS_3

Nara pergi ke pertigaan depan dengan berjalan kaki, tidak jauh dan tidak perlu naik ojek. Bakso di sini selalu ramai karena rasanya enak, Nara adalah salah satu pelanggan tetap di kedai ini.


“Mang, baksonya dua, mie ayam satu di bungkus ya,” pinta Nara, abang penjual bakso itu mengangguk sambil mengacungkan jempol.


“Sudah lama, Ra, nggak ke sini,” ujar abang tukang bakso.


“Hehehe ... Iya, Mang. Terlalu sibuk sampai lupa,” Nara menggaruk kepala.


“Kemarin ada yang bilang kamu dua hari nggak pulang ke rumah, rumahnya sepi. Emang kemana, Ra?”


Nara tersenyum malu sebelum menjawab, “Iya, kemarin aku baru aja nikah,” ucapnya.


Penjual bakso itu terlihat kaget. “Wah, kamu nikah nggak undang Mamang, Mamang jadi nggak bisa dapet makan gratis,” ujar mamang, Nara tergelak.


“Bisa aja Mamang mah, aku nggak kepikiran buat ngajakin tetangga. Lagian kalau di kasih undangan cuma mau makan gratisnya doang, amplop nya nggak gitu?” Nara terkekeh pelan begitupun Mamang.


“Bercanda, Ra. Mamang mah nggak masalah mau di undang atau nggak, asal kamu bahagia aja Mamang udah seneng,” Mamang memberikan kantong plastik berisi bakso kepada Nara.


“Emang yah, Mamang tuh yang paling baik,” ucap Nara sambil berkaca-kaca.


“Udah atuh kok malah nangis?” Mamang terlihat heran.


"Seneng ih, di kasih perhatian sama Mamang,” Nara membayar bakso itu, sementara mamang mengambil kembalian.


“Eh, nggak atuh, Mamang nggak berani kasih perhatian ke orang lain, soalnya istri Mamang galak,“ kata mamang menimbulkan tawa Nara pecah.


“Ya udah, Mang. Aku pulang ya, anakku udah nungguin baksonya,” pamit Nara yang di balas anggukan kepala.


Saat Nara sudah tiba di halaman, dia melihat sebuah mobil datang dan masuk ke pekarangan rumah sebelah. Nara tebak itu pasti Joshua.


Pria yang bernama Joshua itu turun dari mobil, dia kaget melihat Nara ada di rumah ini.

__ADS_1


“Lho, Ra. Kamu di sini?” Joshua mendekat ke arah Nara, tapi masih berada di halaman rumahnya karena di antara rumah mereka ada pagar yang membatasi.


“Iya, Mas. Aku lagi beres-beres, biar sekalian bajunya di bawa semua.”


Joshua mengerutkan dahi. “Emangnya kamu nggak mau tinggal di sini lagi?”


Nara menggeleng lalu berkata, "Nggak, Mas. Aku mau ikut suami dan rencananya rumah ini mau di jual ... " Tiba-tiba Nara ingat sesuatu, "Oh ya, Mas, kalau bisa aku mau minta, tolong sama Mas Joshua buat bantu tawarin rumah aku. Ntar kalau bisa aku kasih bonus buat Mas Joshua," pinta Nara.


Joshua berpikir sejenak. "Iya, ntar aku tawarin ke temen, siapa tahu mereka mau."


Nara mengangguk senang, dia berterima kasih dan hendak masuk ke rumah, namun tiba-tiba ada sebuah mobil datang membuat Nara tak jadi masuk.


Ketika mobil berhenti, Nevan dan Gavin keluar dari sana, Nara sedikit terkejut tapi ia juga senang. Nevan berlari menuju arah Nara dan memeluk bundanya erat.


"Kenapa ini kok tiba-tiba manja banget?" heran Nara sambil terkekeh.


"Kangen Bunda," ucap Nevan, masih memeluk kaki Nara.


Sementara ibu dan anak itu masih berpelukan, lain halnya dengan suami Nara. Baru saja keluar dari mobil, matanya menangkap kehadiran seseorang yang mengganggu pikirannya.


Dia berjalan menghampiri Nara, ingin bertanya tapi dia urungkan niatnya saat melihat ibu dan anak itu berpelukan. Dia lalu menatap Joshua tajam, yang di tatap hanya bisa tersenyum kikuk.


“Halo, Mas ... ” sapa Joshua dengan melambai, sedangkan Gavin mendengus kesal. Aneh rasanya di sapa seperti itu.


Nara dan Nevan sudah saling melepas, Nevan sudah lebih dulu berlari masuk ke dalam sedangkan Nara sedang menunggu Gavin.


"Mas," panggil Nara, Gavin sedikit tersentak.


"Ah, iya. Nevan mana?" Gavin mengamati sekitar Nara tapi tak ada Nevan.


"Sudah masuk. Mas ngapain masih diam di sini? Ayo, masuk," ajak Nara.

__ADS_1


Gavin pun mengangguk, ia menunggu Nara masuk terlebih dahulu. Sebelum itu, Nara menatap Joshua dan berkata, "Mas mohon bantuannya ya, tapi kalau nggak bisa juga nggak apa-apa."


Jelas saja hal itu membuat Gavin mengerutkan dahi, ia pun semakin kesal dan menatap Joshua dengan sangat tajam. "Bantuan apa lagi yang Nara minta dari laki-laki itu?" pikirnya.


Joshua menelan ludah kasar, ia mengangguk samar, "Iya, Ra. Tenang aja, nanti aku kabarin lewat suami kamu kalau udah dapet, sekarang mending kamu masuk, itu takutnya bakso yang kamu bawa keburu adem."


Joshua berucap dan setelah itu ia langsung ngibrit masuk ke rumahnya, sementara Nara sedikit bingung.


Mendengar nama bakso di sebut, Gavin mengarahkan pandangannya ke tangan Nara. Ada plastik berisi bakso di sana. Gavin pun mendengus kasar.


"Kamu dapat dari mana baksonya, Ra?" tanya Gavin sedikit hati-hati, ia takut Nara marah padanya karena berpikir yang aneh-aneh.


Meskipun saat ini isi pikirannya sedang tidak bisa di ajak kerja sama. Gavin sedikit takut kalau Joshua lah yang memberi bakso itu.


"Oh ini, tadi aku beli di pertigaan depan. Bina minta bakso sama Nessa minta mie ayam. Tapi, aku cuma beli tiga, kalau aku tahu Mas Gavin mau pulang cepat aku pasti beli lima," ucap Nara sedikit sedih.


Gavin menghela napas lega, ia yang sudah berpikir aneh-aneh. Sedikit malu sebenarnya karena telah mencurigai istri sendiri, atau lebih tepatnya— cemburu?


"Tidak apa, lagian kita bisa makan satu mangkuk berdua."


Nara terdiam, "Satu mangkuk berdua?"


.


.


.


bersambung


gaes, aku saranin buat baca bab sebelumnya, karena kemarin double bab jadi aku revisi. Dan kalau kalian baca ini mungkin rada gk nyambung, demi kebaikan bersama jadi baca ulang ya gaes😙

__ADS_1


makasih yang udah mau mampir, aku seneng banget kalau masih ada yang setia sama novel ini🤧😭😭


__ADS_2