Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Pergi Kemana?


__ADS_3

Tanpa terasa beberapa hari berlalu, besok adalah ulang tahun kedua anaknya, Nara sudah mempersiapkan semua. Kebetulan besok hari minggu, dan acara akan dilaksanakan pagi hari. Undangan untuk teman-teman Nessa dan Nevan sudah di bagikan, tapi hanya sedikit karena pesta yang Nara buat hanya sebuah pesta kecil.


Tapi ada yang aneh, tiga hari belakangan Nara merasa seperti ada yang hilang. Tapi karena kesibukannya, Nara tak terlalu memikirkan, sampai saat makan malam hari ini, Nessa tiba-tiba bertanya.


"Bun, Ayah kemana? Udah tiga hari Nessa nggak lihat Ayah, sekolah juga Om Fahmi yang nganter ... " Nara berhenti mengunyah, menelan makanannya dengan cepat. Sendok di tangan ia letakkan di atas piring.


Dahinya berkerut saat baru menyadari ternyata seseorang yang hilang itu adalah Gavin, dia juga belum melihat adanya pria itu selama tiga hari belakangan ini, pertemuan terakhirnya adalah tiga hari yang lalu, di pagi hari saat Nessa dan Nevan ingin berangkat ke sekolah.


Itupun tak seperti biasanya, jika Gavin setiap datang ke rumahnya untuk menjemput kedua anaknya, pria itu akan nyelonong masuk dan kadang juga ikut sarapan. Tapi saat itu berbeda, Gavin hanya menunggu di luar rumah tanpa masuk, dan Nara juga tak mempermasalahkan hal itu.


Namun sekarang menjadi sebuah tanda tanya di kepalanya. Kemana pria itu? Hilang tanpa jejak bahkan tak mengabari kedua anaknya.


"Emangnya Ayah nggak bilang apa-apa sama Nessa? Nessa 'kan punya nomor hapenya." Nessa menggeleng lemah, gadis kecil itu bicara jujur, ayahnya tiba-tiba menghilang setelah mengantarkan mereka sekolah tiga hari yang lalu.


Begitu bel pulang sekolah berbunyi, mereka berdua di kejutkan oleh adanya Fahmi, bukan Gavin yang biasanya menjemput. Hal itu terus terjadi sampai saat ini, jujur Nessa merasa rindu pada ayahnya, walaupun mereka tak tinggal bersama tapi setiap malam pasti Gavin akan menelponnya atau melakukan panggilan video.


"Huftt ... Ya udah, nanti Bunda tanya sama Nenek, Nenek 'kan tinggal bareng sama Ayah. Kalian lanjutin gihh makannya, habis itu langsung ke kamar istirahat."


"Ihhh ... Makanya Nessa pernah bilang, mending kita tinggal bareng Ayah aja, jadi kalau Ayah pergi kita tahu!" ucap Nessa cemberut, ia memalingkan wajah kesal. Sedangkan Nara hanya diam tak menanggapi, ia jadi merasa bersalah pada mereka berdua karena memisahkan Mereka dari ayahnya.

__ADS_1


Tapi untuk saat ini Nara masih merasa dalam kebingungan, soal perasaannya sendiri. 25 tahun hidup tak pernah Nara merasakan apa yang namanya jatuh cinta, pernah satu kali Nara mengagumi sosok pria, tapi sayangnya itu adalah kakaknya sendiri, Fahmi.


Menyesal lah Nara, kenapa dulu tak pernah pacaran dan menyukai seseorang yang bukan kakaknya, walaupun kata orang-orang jika menyukai seseorang maka kita harus siap merasa sakit hati karena hanya di beri harapan palsu.


Nara menghela napas, "Ya udah, gini aja. Gimana kalau kalian yang menginap di rumah Ayah, tapi cuma beberapa hari. Jangan lama-lama, Bunda sendirian si sini," ucapnya mencoba memberi Nessa pengertian. Tapi gadis kecil itu seakan tak peduli dan malah semakin ngambek.


"Bunda mah nggak ngerti, aku sebel!!" Nessa beranjak dari duduknya, ia menarik tangan adiknya yang saat itu sedang memakan makanannya.


"Jangan ditarik-tarik, aku masih makan!!" cerocos Nevan kesal, mulutnya masih mengunyah.


"Bodoamat, aku sebel sama Bunda."


"Gara-gara ka-- hukk!" Nevan memejamkan kedua matanya, tangannya mengepal, Nessa yang melihat itu mengernyitkan dahi.


"Kamu kenapa?"


"Ga-- hukk!!"


Seketika itu juga tawa Nessa pecah, "Bwahahaha ... Kamu cegukan," ucapnya sambil tertawa, tangannya menahan perut yang sakit. Tatapannya menatap Nevan kasihan.

__ADS_1


"Gara-- hukk! Gara kamu, huk! Aku belum Mi- hukk num." Nessa tak juga berhenti tertawa, adiknya jarang cegukan, jadi situasi saat ini membuat Nessa sedikit terhibur, berbanding terbalik dengan Nevan yang semakin kesal. Ia sedang makan tiba-tiba di tarik paksa, belum minum air putih lagi, jadinya cegukan.


Sementara Nara, di dapur dia jadi sendirian. Anak-anak pergi meninggalkan dirinya, makanan yang hampir habis tidak lagi membuat Nara berselera. Lidahnya terasa pahit secara tiba-tiba.


Segera ia membereskan meja makan, mencuci piring setelah itu pergi ke kamarnya sendiri. Nara berniat menelpon seseorang, tangannya terulur mengambil ponsel di atas nakas samping tempat tidur.


Panggilan ke dua sudah di angkat, benda pipih itu Nara letakkan di telinganya. "Halo, Tan!"


"Halo, Ra. Ada apa? Tumben telepon malam-malam begini."


"Ehm ... Tan, tiga hari ini mas Gavin nggak kelihatan, anak-anak tadi bilang kangen, Tante tahu nggak Mas Gavin kemana?" tanya Nara.


"Lah? Tante pikir Gavin bilang sama kamu, katanya ada urusan mendadak jadi dia pergi ke luar kota. Tante juga kaget awalnya."


"Ah! Begitu ya, ya udah ya Tan. Nara cuma mau tanya itu aja kok, oh ya, Tante besok dateng 'kan?"


"Ya pasti lah, masa Tante nggak dateng di ulang tahun cucu sendiri," Nara tersenyum tipis, beberapa saat mereka mengobrol santai, seperti sudah sangat akrab.


Nara sendiri merasa jadi memiliki ibu. Ibu jarak jauh dan baru kenal beberapa bulan. Pikiran tentang kemana perginya Gavin Nara tepis dahulu, ia ingin menikmati momen santai dengan mengobrol bersama tante Helen.

__ADS_1


__ADS_2