
Bosan dengan berkas yang menumpuk, Gavin lantas berdiri dari duduknya, sekilas ia melihat jam di pergelangan tangannya, sekarang sudah pukul sebelas siang. Sebentar lagi waktunya makan siang.
Kakinya mulai melangkah, ingin keluar dari ruangan setelah hampir setengah hari berdiam diri bersama berkas yang menumpuk. Rencananya ia akan pergi ke butik Nara, rindu dengan kedua anaknya karena semalaman tidak bertemu.
Ah, bahagianya jika ia bisa bertemu setiap saat dengan kedua anaknya tapi itu tidak mungkin.
“Fi, saya pergi dulu, selama dua jam ke depan kamu jangan mengganggu saya. Untuk berkas yang dibutuhkan segera sudah saya tanda tangani, sisanya saya serahkan ke kamu,” ucap Gavin saat sudah ada di luar, menatap ke arah Fifi yang sepertinya agak terkejut dengan adanya Gavin.
“Iya, Pak, jangan lupa bonusnya ya, Pak. Seminggu ini saya ngelembur terus gara-gara Bapak, kalau bulan ini saya nggak dapet bonus, berarti Bapak keterlaluan,” seru Fifi sedikit berteriak karena Gavin sudah berjalan menjauh.
Gavin melirik sekilas lalu melanjutkan langkahnya, masuk ke dalam lift untuk menuju lantai bawah. Naik ke dalam mobil sendiri, tanpa supir yang menemani.
Melewati jalanan ibukota Jakarta yang selalu macet, cuaca siang ini cukup terik, dengan memakai kacamata hitam dan jendela mobil yang tertutup Gavin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sebelum benar-benar sampai ke tempat tujuan, Gavin memberhentikan mobilnya untuk membeli makanan. Ia sudah mendapatkan info dari Nara kalau mereka sedang ada di butik.
Dengan Nevan yang menemani Nara karena belum boleh sekolah, dan sekalian menunggu Nessa pulang sekolah yang akan di jemput oleh Fahmi, seperti biasanya.
Gavin memarkirkan mobilnya di depan butik, ia keluar dengan membawa beberapa kantong plastik yang berisi makanan dan beberapa camilan yang di beli di supermarket tadi.
Berjalan masuk, matanya mengamati sekeliling, tidak ada Nara di sana, “Nara sama anak-anak ada dimana?” tanya Gavin pada Indi yang ada di dekatnya.
“Mbak Nara sama anak-anak ada di lantai atas, Mas. Mau ketemu, yah?”
Gavin menganggukkan kepalanya, setelah itu ia pergi ke tempat tujuannya, menaiki tangga menuju lantai dua. Gavin mengetuk pintu sebelum masuk.
__ADS_1
Tak lama kemudian, pintu terbuka, menampilkan sosok gadis kecil yang wajahnya sumringah setelah melihat dirinya.
“Ayah?!!” Suaranya cukup keras, bahkan terdengar sampai lantai bawah. Beberapa karyawan menoleh ke atas, dengan beberapa pertanyaan di benak mereka.
“Boleh Ayah masuk?” tanya Gavin pada Nessa yang langsung menganggukkan kepalanya.
“Bunda, Ayah dateng,” Nessa menggandeng lengan Gavin, berjalan cepat menuju sofa untuk duduk. Di sana ada Nevan yang sedang berbaring di sofa bed, melihat ke arahnya dengan tatapan datar.
Ada Nara yang juga sedang duduk di kursi tempatnya bekerja, wanita itu hanya melirik sekilas ke arah Gavin dan tersenyum tidak sampai lima detik lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
Gavin menghela napas, sepertinya hanya Nessa yang menerima kedatangannya dengan senang hati hari ini. Tapi tak apa, asal dia bisa bertemu dengan kedua anaknya, Gavin bisa bersabar.
“Ayah bawa makanan, kalian belum makan 'kan?” tawar Gavin pada Nessa yang sedang duduk di pangkuannya, memeluk bocah kecil itu dan menciumnya.
Gavin terpaku, mendengar ucapan Nessa. Ternyata Nara sudah tahu kalau dirinya akan ke sini, padahal tadi dia tidak bilang. Ia hanya mengatakan kalau ia kangen sama anak-anak, tapi ternyata Nara mengetahui maksud dari kata-katanya itu.
“Nessa baru pulang sekolah?”
Nessa mengangguk dengan mulut yang cukup penuh, “iya, baru pulang di jemput om Fahmi. Nggak seru, sekolah nggak ada Nevan, nggak bisa nakal.”
Gavin tergelak, satu hal yang baru ia ketahui tentang anak-anaknya, ternyata Nessa suka mengganggu Nevan kalau di sekolah.
“Nevan udah mendingan belum?” tanya Gavin pada Nevan yang saat ini hanya menatap mereka tanpa ikut bicara.
Entah kenapa saat ini Gavin merasa sedikit canggung dengan Nevan dan Nessa, sikap mereka seolah memberitahu kalau dirinya hanya orang asing walaupun kenyataan memang begitu.
__ADS_1
Sebelum mengetahui kalau dia adalah ayah kandung dari Nessa dan Nevan, sikap Nevan seperti anak pada umumnya, juga begitu terbuka dengan dirinya.
Tapi setelah mengetahui siapa dirinya sebenarnya, sikap Nevan tiba-tiba berubah, tidak sehangat saat anak itu sedang sakit dan curhat pada dirinya di rumah sakit waktu itu.
Gavin sendiri bingung dan tidak tahu apa alasan dari perubahan sikap Nevan. Yang jelas, ia tahu kalau ia harus berusaha agar anak laki-lakinya mau menerima dirinya sebagai seorang ayah.
“Udah,” jawab Nevan singkat, lalu memalingkan wajahnya memandang ke arah lain.
Lagi Gavin menghela napas, untuk hari ini Gavin merasa tidak bisa berlama-lama bersama dengan kedua anaknya karena masih ada jarak yang perlu Gavin hubungkan kembali.
Tidak lama lagi, Gavin yakin kalau Nevan akan menerima kenyataan kalau dia adalah ayah kandungnya. Menerima dirinya, dengan senang hati sama seperti Nessa.
Tapi Gavin lupa, masih ada satu orang yang juga belum menerima dirinya, bukan sebagai ayah atau yang lain.
.
.
.
bersambung
jangan lupa like dan komennya ya😚
maap baru up😋
__ADS_1